Sindiran Dedi Mulyadi: Ada Parpol 1 Digit Paksakan Jadi Cawapres Jokowi

Jokowi bersalaman dengan warga yang antre sembako di Graha Sabha Buana Solo, Sabtu (16/6 - 2018). (Solopos/Nicolous I)
23 Juli 2018 17:00 WIB Wisnu Wage/ Newswire Nasional Share :

Solopos.com, BANDUNG -- Ketua DPD Partai Golkar Jawa Barat Dedi Mulyadi menyindir mitra koalisi Joko Widodo (Jokowi) yang terus memaksakan diri ingin diambil sebagai cawapres.

Dedi mengatakan jika bicara soal jatah pendamping, seharusnya partai yang elektabilitasnya dua digit lebih berhak menjadi cawapres ketimbang partai yang masih satu digit. Meski demikian, dia tidak menyebutkan nama partainya.

Tokopedia

Dedi menilai ramai-ramai ketua umum menonjolkan diri sebagai cawapres Jokowi merupakan strategi meningkatkan elektabilitas partai di Pemilu 2019. "Makin ramai dibicarakan, makin tinggi elektabilitas partainya," katanya di Bandung, Senin (23/7/2018)

Menurutnya, partai-partai juga membidik posisi cawapres karena tengah menatap kemungkinan bakal bisa memenangkan Pilpres 2024 mendatang. Artinya, target mereka bukan hanya untuk Pemilu Legislatif dan Pilpres 2019.

"Partai yang punya calon saat ini, potensi elektabilitasnya akan semakin tinggi. Dengan begitu, 2024 potensi menjadi Capres pun tinggi," ujarnya.

Menurut dia, saat ini pertarungannya bukan hanya di Pilpres 2019, tetapi 2024. Dengan kata lain, ada partai yang menginginkan Pilpres 2019, ada juga yang mengincar Pilpres 2024 setelah dua periode Jokowi.

Terkait kemungkinan Ketua Umum Golkar Airlangga Hartanto diusung menjadi cawapres, Dedi menyebut bahwa keputusannya berada di tangan Presiden Jokowi.

"Sebagai menteri, Pak Airlangga sangat patuh pada atasannya, dan masih menunggu instruksi. Intinya begini, mana yang lebih representatif untuk menjadi Wapres, jelas partainya yang dua digit," katanya.

Sebelumnya, Ketua Umum DPP PKB Muhaimin Iskandar atau Cak Imin mengklaim masih optimistis dipilih Jokowi sebagai cawapres. Cak Imin mengatakan hingga dirinya masih mempertahankan Jokowi - Cak Imin (Join). Ia meminta kepada publik untuk menunggu sebab keputusan Jokowi masih jauh dari kata final.

"Jangan bicara nanti, tunggu saja. Pokoknya sampai hari ini kiai-kiai dan kita semua tetap pada Join," kata Cak Imin di Gedung Nusantara II, Kompleks Parlemen, Kamis (12/7/2018), dilansir Suara.com.

Cak Imin bisa jadi yang paling terbuka mengumumkan keinginannya menjadi cawapres Jokowi. Keinginan itu dia promosikan di berbagai kesempatan. Bahkan Cak Imin sudah membuat jargon Join atau Jokowi - Cak Imin jika memang dipilih Jokowi. Cak Imin juga membuat posko-posko dan membentuk relawan Join meski belum tentu dia yang dipilih Jokowi.