Wulan Lahirkan Bayi Kembar, Dicekik, Ditusuk Sebelum Dibuang

Ilustrasi bone mayat bayi (Shutterstock)
22 Juli 2018 13:12 WIB Newswire Nasional Share :

Solopos.com, DENPASAR -- Daltriana Wulandari, 20, ditetapkan sebagai tersangka atas kasus pembunuhan bayi kembar yang dilahirkannya. Jasad bayi kembar ditemukan warga di lorong rumah kos Jl Ratna, Gang Werdakura, Denpasar, Minggu (15/7/2018), pukul 13.00 Wita. Seketika itu juga masyarakat melaporkan ke Polsek Denpasar Timur.

Dari olah tempat kejadian perkara (TKP), petugas menemukan barang bukti sidik jari dan jasad orok kembar yang sudah tidak bernyawa. Wulan membunuh dengan cara sangat sadis. Aksinya itu dilakukannya karena pacarnya saat itu, Jeje lari dari tanggung jawab.

Tokopedia

Kapolresta Denpasar Kombes Pol Hadi Purnomo di Denpasar, Jumat sebagaimana dikutip Okezone.com. mengatakan Wulan diketahui hamil dari buah cintanya dengan Jeje. Saat itu kandungan Wulan tiga bulan Jeje kemudian lari dari tanggung jawabnya. Sejak Mei 2018 Wulan kemudian berpacaran dengan Venan, mahasiswa semester III universitas swasta di Denpasar.

Menurut Wulan, Venan tak mengetahui kehamilannya, termasuk saat dia membunuh bayi kembar yang baru dilahirkannya. Aksi sadisnya dilakukan di kamar mandi kos, saat Venan tertidur lelap. Begitu bayi kembar dilahirkan tanpa bantuan orang lain di kamar mandi, Wulan kemudian mencekik dan menusuk dua bayinya menggunakan pisau.

Empat luka tusuk ditemukan pada bagian perut, dada, leher dan mulut bayi. "Begitu bayinya meninggal dia kemudian memasukkan bayi kembar itu ke kantong kresek dan ember hitam," ujar Hadi.

Paginya, Venan kekasih Wulan mendapati kamar mandi di kos tececer banyak darah. Wulan memberi alasan dia tengah datang bulan bahkan meminta Venan untuk membelikan pembalut.

Ketika Venan pergi ke warung itulah, Wulan kemudian menyembunyikan jasad bayi kembar dalam kresek dan ember itu disembunyikan di dekat kamar kos. Begitu Venan kembali dari warung, Wulan kemudian meminta izin pergi ke rumah kerabatnya di Jl Baruna, Taman Gria, Jimbaran, Bandung sambil membawa jasad bayi kembar.

"Pengakuan tersangka, karena kekasihnya Venan mendapat libur sekolah maka pada 14 Juli 2018, Venan pergi ke kampung halamannya di NTT. Dalam perjalanan berpacaran selama satu bulan itu, tersangka dan Venan juga sempat melakukan hubungan layaknya suami istri di kos Venan," ujarnya.

Kepada petugas, tersangka mengatakan bahwa kekasihnya tidak mengetahui bahwa dirinya telah membunuh bayi kembar yang dilahirkannya itu. Namun, anggota Polresta Denpasar sudah menangkap kekasih tersangka (Venan) di NTT, untuk dimintai keterangannya terkait hubungan kedua pasangan sejoli itu.

"Untuk kekasih tersangka, Venan masih kami dalami dulu sejauh mana keterlibatannya. Nanti, kalau ada keterlibatan dalam kasus ini pasti kami akan tetapkan sebagai tersangka dan saat ini dia masih sebagai saksi. Kepada petugas, tersangka mengaku menyesal atas perbuatannya," ujarnya.

Guna mengetahui bagaimana kondisi kejiwaan tersangka saat ini, polisi akan melakukan pemeriksaan psikiatri terhadap tersangka, mengingat saat ini kondisinya masih labil.

"Tersangka kami kenakan Pasal 341 KUHP dan Pasal 78C jo Pasal 80 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang perubahan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang perlindungan anak dengan ancaman maksimal 20 tahun penjara," katanya.