Korea Utara Potret Perbudakan Modern Terparah

Buruh pabrik di Korea Utara (Independent)
21 Juli 2018 04:45 WIB Chelin Indra Sushmita Internasional Share :

Solopos.com, PYONGYANG – Korea Utara merupakan salah satu negara yang menutup diri dari dunia luar. Baru-baru ini, pemerintah Korea Utara pimpinan Kim Jong Un mulai menjalin kerja sama dengan negara lain, seperti Korea Selatan dan Amerika Serikat. Pertemuan Kim Jong Un dengan pemimpin kedua negara tersebut menjadi yang paling bersejarah bagi Korea Utara.

Sejak saat itu, Korea Utara menjadi lebih terbuka dengan dunia luar. Baru-baru ini, beredar laporan bahwa Korea Utara merupakan negara dengan perbudakan tertinggi di dunia. Laporan tersebut merupakan hasil penelitian yang dilakukan Global Slavery Index.

Tokopedia

Dalam laporannya seperti dilansir Time, Jumat (20/7/2018), Global Slavery Index memperkirakan 40,3 juta orang di dunia menjadi sasaran perbudakan modern pada 2016. Menariknya, jumlah tertinggi berada di Korea Utara, yang mana satu dari 10 orang hidup sebagai budak. Yang artinya, lebih dari 2,6 juta orang menjadi budak di Korea Utara.

"Lebih dari 40 juta orang menjadi korban perbudakan modern. Bahkan, sekarang ada 300.000 orang Korea Utara di Tiongkok yang 90 persen dari mereka dijual," kata Yeon-mi Park, pembelot Korea Utara yang melarikan diri ke Tiongkok karena dijual dan dipaksa menikah, dalam konferensi pers di kantor Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York, Amerika Serikat.

Yeon-mi Park yang kini tercatat sebagai mahasiswa Colombia University, Amerika Serikat, meminta semua orang membantu jutaan korban perbudakan modern. "Orang-orang itu dilahirkan di tempat yang salah. Mengapa mereka dihukum dengan cara seperti itu?" tanya Yeon-mi Park.

Berawal dari keprihatinan itu, Yeon-mi Park mendirikan lembaga advokasi khusus untuk membantu korban perbudakan modern di Korea Utara. Dia berharap masalah perbudakan di negaraya segera teratasi.