Asing dan Keterasingan

Sholahuddin (Istimewa)
20 Juli 2018 23:40 WIB Sholahuddin (Litbang Solopos) Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (30/4/2018). Esai ini karya Sholahuddin, Manajer Penelitian dan Pengembangan Harian Solopos. Alamat e-mail penulis adalah sholahuddin@solopos.co.id.

Seorang teman menulis status di akun Facebook, ”Ya biarin data pribadi saya dicuri. Lha wong saya tidak punya data apa-apa.”  Status kawan saya itu untuk menanggapi skandal pencurian data oleh konsultan politik Cambridge Analytica untuk kepentingan pemenangan pemilihan presiden Amerika Serikat pada 2016.

Kawan saya itu tidak khawatir data pribadinya dimanfaatkan untuk kepentingan lain. Ia cuek saja. Secara global pengguna media sosial tidak begitu memedulikan keamanan data pribadi.

Pemilik akun media sosial terus meningkat jumlahnya di tengah ketidakberesan pemanfaatan data oleh pemilik aplikasi maupun pihak lain. Konsultan Simon Kemp di situs www.wearesocial.com menunjukkan dalam tiga bulan pertama pada 2018 pengguna media sosial dunia meningkat lebih dari 100 juta.

Totalnya hampir mencapai 3,3 miliar pengguna media sosial pada akhir Maret lalu. Sebanyak 2,234 miliar di antara mereka adalah pengguna Facebook. Bagaimana di Indonesia?

Menurut situs tersebut, pengguna akun Facebook di Indonesia mencapai 140 juta orang, peringkat ketiga di dunia setelah India dan Amerika Serikat. Pengguna Instagram 56 juta orang (peringkat keempat di dunia). Sedangkan pengguna Twitter 6,6 juta atau peringkat ke-11 dunia.

Hasil riset Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) pada 2017 menunjukkan penetrasi Internet di Indonesia mencapai 143 juta orang atau 54,68% dari 262 juta penduduk Indonesia. Artinya lebih dari separuh penduduk melek internet.

Yang elok dari data di www.wearesocial.com dan APJII itu adalah hampir semua pengakses Internet di Indonesia mempunyai akun Facebook. Saya tidak tahu; sedih, gembira, atau gabungan antara sedih dan gembira melihat data pengguna Internet tersebut.

Pertambahan pengguna Internet menunjukkan kemelekan teknologi kian meningkat. Salah satu penanda kemajuan bangsa. Pemanfaatan internet yang sebagian besar untuk berselancar di media sosial menjadi kabar yang tak menarik.  

Di balik banyaknya pengguna media sosial (khususnya Facebook) di Indonesia, ada hal yang patut direnungkan terkait relasi pengguna media sosial dengan pemilik aplikasi. Sesungguhnya pengguna media sosial tak berdaulat atas informasi dan aktivitasnya  sendiri. Ada nuansa keterasingan (alienasi).

Alienasi berasal dari bahasa Latin alienatio, derivasi dari kata kerja alienare, artinya menjadikan sesuatu menjadi milik orang lain (Schacht, 2005: 12).  Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), salah satu makna ”alienasi” adalah pemindahan hak milik dan pangkat kepada orang lain.

Di ranah ilmu sosial, keterasingan memang punya makna yang sangat luas. Secara sederhana keterasingan merupakan situasi ketika manusia tak punya kuasa atas apa yang ia ciptakan sendiri. 

Manusia berkreasi atas sesuatu, tapi hasil kreativitas itu dikuasai orang lain. Sebuah pengalaman ketika orang merasa dirinya seperti alien (makhluk asing). Demikian kata ahli psikologi sosial Erich Fromm.

Kecenderungan

Ilmuwan sosial Karl Marx pernah menganalisis fenomena alienasi pada buruh yang bekerja kepada pemilik modal. Pekerja kehilangan otonomi atas dirinya karena mereka menciptakan barang tapi tidak berdaulat atas barang itu. Buruh harus menyerahkan barang kepada majikan.

Pengguna media sosial memang bukan pekerja, tapi relasi pengguna dengan pemilik aplikasi sebangun dengan relasi pekerja dan majikan. Setiap orang bisa membuka akun media sosial secara gratis, tapi dengan menyerahkan data pribadi seperti nama, jenis kelamin, tempat tinggal, tanggal kelahiran, riwayat pendidikan, riwayat pekerjaan,  hobi, serta aktivitas lainnya.

Setiap saat aplikasi selalu memancing pengguna untuk memproduksi konten, baik berupa tulisan, video, gambar. Penyedia aplikasi juga menyediakan tanda like di setiap data yang diunggah.  Sang kreator aplikasi tentu punya maksud dan kepentingan atas data-data pribadi pengguna.

Kumpulan data aktivitas pengguna dapat diolah dengan teknologi big data sehingga menghasilkan informasi yang sangat berharga. Dari aktivitas dan informasi pengguna di media sosial akan tergambar data demografis maupun psikografis (perilaku, minat, hobi).

Profil-profil pengguna bisa dibaca dengan jelas berdasarkan kecenderungan-kecenderungan tertentu. Jadilah data segmentasi yang bernilai emas sebagai basis pengambilan keputusan yang sangat penting.  

Data itu bisa dimanfaatkan untuk berbagai hal seperti kepentingan bisnis dan politik oleh pemilik aplikasi. Pengguna seperti tak sadar telah menyerahkan kedaulatan pribadi kepada perusahaan meda sosial itu.

Pengguna jadi terasing tehadap kumpulan data miliknya. Siapa penguasa data itu? Ya, perusahaan pemilik aplikasi yang berpusat di Amerika Serikat (AS) sana. Orang asing. Dalam konteks ini, pengguna media sosial mengalami dua keterasingan sekaligus.

Keterasingan secara pribadi seperti paparan di atas dan keterasingan sebagai warga negara. Negara kita tak berdaulat pada ranah digital. Tata kelola Internet dunia selama ini dikuasai Amerika Serikat. Negara kita cukup puas sebagai penikmat teknologi itu. Siapa peduli situasi ini? Politikus?

Bobot politik isu kedaulatan digital sangat tidak seksi. Bandingkan dengan isu-isu ”asing” lainnya. Utang luar negeri Indonesia. Tenaga kerja Tiongkok yang masuk secara massal.  Penguasaan pemodal asing atas aset-aset penting di dalam negeri. Impor dosen asing untuk memicu kemajuan ilmu dan teknologi di Indonesia.

Semuanya punya nilai politik yang tinggi sebagai bahan mengkritik pemerintah. Politikus kita sangat berkepentingan terhadap platform asing itu. Selain sebagai media untuk berebut pengaruh publik pada pemilihan umum 2019, politikus juga bisa mengintip arus percakapan di  media sosial untuk kepentingan kampanye.

Bila politikus dan para buzzer nyaman terhadap platform asing, isu kedaulatan digital jadi tak menarik. Andai mereka protes ”anti asing”  di ranah digital, tentu akan mengenai muka sendiri. Mosok mau protes platform asing dengan media Facebook, Twitter, Instagram? Lucu kan? Jadi, ya, lebih baik diam...

Pengguna media sosial tampaknya akanhappy-happy saja. Narsis, nyinyir, menyebar kabar hoaks tetap berjalan. Seolah-olah tak terjadi apa-apa. Mereka terasing tapi tak merasa dirinya terasing. Ya, itulah keterasingan dalam arti sebenarnya.