Petualangan Ali Mochtar Ngabalin: Orang Papua Tapi Nyaleg dari Sulawesi

Staf Khusus Presiden dan Tenaga Ahli Kantor Staf Presiden saat bertemu dengan Presiden Joko Widodo. (Istimewa / KSP)
20 Juli 2018 22:30 WIB Samdysara Saragih Nasional Share :

 

Solopos.com, JAKARTA -- Sebelum menjadi Tenaga Ahli Utama Kedeputian IV Kantor Staf Presiden, Ali Mochtar Ngabalin hanya dikenal seperti politikus Partai Golkar lainnya. Bahkan, dia tidak masuk DPR karena tak lolos dalam Pemilu 2014 dari Daerah Pemilihan (Dapil) Sulawesi Selatan (Sulsel) III. 

Padahal, Ngabalin kerap memperkenalkan diri sebagai seorang putera Papua. Perawakan wajah, warna kulit, dan dialek bicaranya membuat orang-orang tak ragu dengan pengakuan itu. Lahir dan besar di Fakfak, Papua Barat, mempertegas jati dirinya sebagai pria Papua. Di Pemilu 2019, dia maju sebagai caleg dari Sulawesi Tenggara (Sultra).

Petualangan Ngabalin tidak hanya sebatas di Bumi Cenderawasih. Selepas menghabiskan sekolah tingkat atas di Fakfak, Ngabalin merantau ke Makassar, Sulawesi Selatan.

Dari daerah ini pulalah karier politiknya merambat ke tingkat nasional. Pada Pemilu Legislatif 2004, Ngabalin terpilih sebagai anggota DPR dari Dapil Sulsel II lewat Partai Bulan Bintang (PBB).

Sayangnya, kebersamaan dengan partai berasas Islam itu tak bertahan lama menyusul kegagalan PBB memenuhi ambang batas masuk parlemen pada Pemilu 2009. Setahun berselang, Ngabalin berlabuh ke Partai Golkar yang lebih mapan di percaturan politik negeri ini.

Bermodal tiket dari partai warisan Orde Baru itu, Ngabalin kembali maju dalam Pemilu 2014. Dia bertarung di Dapil Sulsel III dengan nomor urut 4. Apes, Ngabalin tidak bisa mendapatkan suara terbanyak di daerah basis Golkar itu.

Gagal ke Senayan, pengaruh Ngabalin di Golkar pelan-pelan semakin kuat. Bila pada 2014 dia masih dianggap anak kos dan mendapatkan nomor urut calon anggota legislatif (caleg) medioker, tidak demikian dengan kontestasi tahun depan. Ketua Umum Badan Koordinasi Mubalig Indonesia (Bakomubin) itu diberi keleluasaan untuk menentukan dapilnya sebagai medan pertarungan.

Bukan Sulsel, Ngabalin memutuskan berangkat dari Dapil Sulawesi Tenggara. Nomor urutnya pun merangkak naik dua setrip, di bawah politikus senior sekaligus Ketua DPD I Golkar Sultra, Ridwan Bae. “Dia sendiri yang mau maju dari Dapil Sultra,” kata Ridwan Bae ketika dimintai konfirmasi Bisnis/JIBI, Jumat (20/7/2018).

Lalu, mengapa Ngabalin pede maju nyaleg lewat provinsi tetangga Sulsel itu? Pertama-tama, itu ada korelasinya dengan jabatannya sebagai Ketua DPP Golkar Bidang Pemenangan Pemilu Wilayah Sulawesi II yang meliputi Sultra dan Sulawesi Tengah. Selain itu, rupanya Ngabalin punya ikatan primordial dengan Sultra.

“Ali Mochtar Ngabalin kan orang Sultra, dari Wakatobi,” tambah Ridwan Bae.

Tokopedia