Tekad Sukardi Pergi Haji Sebelum Meninggal Saat Sujud di Masjid Nabawi

Petugas melambaikan tangan sebagai simbol perpisahan ke arah pesawat yang ditumpangi jamaah calon haji kelompok terbang (kloter) pertama asal Kabupaten Tegal di Bandara Adi Soemarmo, Boyolali, Selasa (17/7 - 2018). (Solopos / M. Ferri Setiawan)
20 Juli 2018 21:08 WIB Newswire Nasional Share :

Solopos.com, JAKARTA -- Kabar duka dari Madinah, Arab Saudi, tentang seorang jamaah haji Indonesia embarkasi Jakarta, asal Cakung, Jakarta Timur, yang meninggal dunia saat salat asar di Masjid Nabawi, Rabu (18/7/2018). Jamaah haji bernama Sukardi Ratmo Dihardjo usia 59 tahun ini meninggal dunia saat sujud kedua di rakaat ketiga salat asar.

Saat itu petugas menemukan jamaah dengan nomor paspor B 9194625 sudah tidak bernyawa lagi. Dokter tim kesehatan langsung memeriksa kondisi korban, namun karena sudah tidak bernyawa jenazah langsung dilarikan ke rumah sakit Arab Saudi untuk ditindak lebih lanjut.

Tokopedia

Dr. Muhammad Yanuar, Direktur IGD KKHI Madinah mengatakan sudah keluar sertifikat dari pihak rumah sakit Arab Saudi atau Certificate of Death (COD) sudah mengeluarkan itu. "Sudah saya lihat [sertifikatnya] baru saya terima pagi tadi pukul 23.00 WAS, " ujar Dr. Yanuar kepada tim MCH di kantor KKHI Madinah, Arab Saudi, dilansir Okezone.com.

Rabu malam itu juga, sekitar pukul 21.30 WIB, kabar itu sampai ke anaknya, Desy Ika Setyawati, 32, di rumah. Desy tak kuasa menahan tangis mendengar kabar ayahnya meninggal dunia di Tanah Suci. Kabar itu datang dari salah seorang tetangganya, Rini, yang merupakan calon jemaah haji dari yayasan tempat ayahnya berangkat ke Mekkah.

Desy pun akhirnya berkomunikasi dengan ibunya Sugiarti yang saat itu juga berada di Makkah bersama-sama sang suami menunaikan ibadah haji. Percakapan singkat itu diwarnai suasana haru dan tangis. Dari cerita ibunya, dia tahu bahwa ayahnya meninggal saat melaksanakan salat Ashar di Masjid Nabawi, Madinah, pada hari yang sama.

"Tahu [meninggal waktu salat Asar] dari ibu komunikasi," kata Desy menceritakan dengan mata berkaca-kaca, saat ditenui di kediamannya, di Kawasan Cakung, Kelurahan Ujung Menteng, RT 011/ RW 002, Kamis (19/7/2018) malam.

sukardiSukardi dan istri (Sugiarti) saat hendak terbang ke Tanah Suci menunaikan ibadah haji. (Okezone/Istimewa)

Berangkat untuk melaksanakan rukun Islam ke lima itu memang sudah lama menjadi keinginan Sukardi. Sejak tujuh tahun lalu atau 2011 dirinya sudah mendaftar dan baru mendapat kesempatan pada 2018.

Sebelumnya, Sukardi sempat khawatir. Setelah pensiun dari sebuah perusahaan swasta pada 2014, dokter menyatakan dirinya mengidap penyakit jantung. Kondisi itu tak menyurutkan langkahnya untuk tetap berangkat untuk menunaikan ibadah haji.

Jelang keberangkatannya Sukardi menanyakan kondisinya kepada dokter di RS Omni untuk meminta izin agar tetap bisa berangkat. Saat itu dokter menolak dan tidak mengizinkan. Sukardi diminta untuk melakulan terapi untuk memungkinkan kondisinya.

Tak putus asa, kata Desy, sang ayah didampingi keluarga pun mencari rumah sakit lain untuk memastikan agar mendapat izin berangkat haji. Akhirnya dokter di sebuah RS Islam Jakarta mengizinkan kepergian Sukardi.

"Kan kemarin berobat ke RS Omni di cek jantung, sama dokter Omni sebenernya enggak boleh berangkat [haji], terus bapak bingung nunggunya sudah 7 tahun, terus dipanggilnya tahun ini, dia nyari rumah sakit akhirnya di RS Islam bisa berangkat aja pak kata dokternya," terangnya.

Sumber : Okezone.com