Isu Miring Lucky Hakim: Fee Rp2 Miliar Hingga Kontrak Sinetron Rp10 Miliar

Lucky Hakim (wikidpr.org)
20 Juli 2018 19:41 WIB Newswire Nasional Share :

Solopos.com, JAKARTA -- Perpindahan politikus ke parpol lain diwarnai kabar tak sedap. Adanya isu iming-iming dari parpol tertentu dalam bentuk uang miliaran rupiah hingga janji kontrak sinetron mewarnai manuver tersebut.

Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) Zulkifli Hasan mengibaratkan banyaknya tokoh-tokoh yang pindah partai politik seperti transfer pemain sepak bola. Ia menyoroti pindahnya salah satu kader partainya, Lucky Hakim, ke Partai Nasdem.

Tokopedia

Zulkifli Hasan membeberkan adanya sejumlah dana yang diterima Lucky Hakim dari Partai Nasfem. Meskipun ia tidak mengetahui apakah dana tersebut merupakan salah satu janji dari Partai Nasdem untuk Lucky Hakim terkait perpindahannya.

"Caleg-caleg sekarang sudah kayak pemain bola itu, transfer pemain. PAN sendiri ya karena di PAW ada, namanya Lucky pindah, Tita Yasin Limpo karena bapaknya pindah ya pindah. Enggak apa-apa," kata Zulkifli Hasan di Gedung Nusantara II, Kompleks Parlemen, Rabu (18/7/2018).

Zulkifli Hasan mengetahui jumlah besaran dana yang baru diterima Lucky dari Partai Nasdem, yakni sebesar Rp2 Miliar. Melalui pesan singkat, ia menerima informasi dana tersebut diterima Lucky dengan cara transfer. "Kalau Lucky transfer, Rp2 miliar dari Rp5 miliar sudah terima. Dia akan terima Rp5 miliar, tapi baru terima Rp2 miliar. Dia sms ke saya. Selain karena PAW ya," kata Ketua MPR itu.

Dengan adanya dana pinang dengan nominal sangat besar yang ditawarkan oleh partai politik kepada calon-calon legislatif, Zulkifli Hasan melihat sebagi tanda kehancuran bangsa. Sebab, hal itu akan berpotensi menyuburkan ladang korupsi.

"Saya kira kehancuran akan datang. Pasti korupsi merajalela, tidak mungkin akan berdaulat banget. Kalau semua diukur sama uang, milih juga karena uang, ya sudah, jadi itu," pungkasnya.

Bantahan

Sementara itu, Lucky Hakim membantah tudingan dirinya menerima duit dari Partai Nasdem senilai Rp2 miliar. "Itu tidak benar," kata Lucky Hakim kepada Suara.com melalui pesan singkat, Kamis.

Terlepas dari itu, Lucky Hakim memastikan tidak menerima suap apa pun dari Partai Nasdem agar mau hengkang dari PAN. Mengenai kepindahannya ke partai yang dipimpin Surya Paloh itu dia punya alasan sendiri. "Suap? sangat tidak benar! Memangnya ada orang yang bilang saya disuap? Bisa saya gugat. Karena sama saja menuduh Nasdem dan tentu menuduh saya. Ini pencemaran nama baik," pungkasnya.

Selain isu uang Rp2 miliar itu, Lucky juga digoyang isu tawaran kontrak sinetron. Beredar potongan gambar sebuah percakapan Whatsapp yang diduga dari sebuah grup keanggotaan PAN. Dalam percakapan grup itu, Lucky Hakim menyatakan sempat ditawari kontrak sinetron Rp10 miliar oleh Partai Perindo.

Kontrak sinetron itu diduga sebagai bentuk tawaran agar Lucky Hakim mau menyeberang ke Partai Perindo saat dirinya masih menjadi kader PAN. Belakangan, Lucky Hakim justru berpindah ke Partai Nasdem.

Mendengar itu, Sekjen Perindo Ahmad Rofiq dengan tegas membantah. Ia menyatakan, Partai Perindo tidak pernah melakukan pendekatan politik dengan iming-iming uang. "Itu hoax. Perindo tidak pernah melakukan pendekatan politik transaksional begitu," kata Rofiq, Jumat, (20/7/2018).

Dalam percakapan di sebuah grup WhatsApp yang beredar itu, Lucky Hakim mengatakan, dirinya ditawari untuk masuk sebagai kader Partai Perindo. Selain, Perindo, ia juga mengaku mendapat tawaran dari Partai Berkarya dengan uang pinangan fantastis mencapai Rp 6 miliar.

Dalam percakapan yang beredar itu, mantan pesinetron itu juga mengaku ditawari Rp 5 miliar dari Partai Nasdem dengan tambahan biaya logistik sebesar Rp 2 miliar. Namun demikian, ia lebih memilih untuk tetap menjadi kader PAN.

Sumber : Suara.com