Tolak Pengosongan Lahan Bandara Kulonprogo, Seorang Wanita Dipukul

Warga dibopong keluar rumah karena menolak mengosongkan rumahnya sebelum dirobohkan, di Dusun Sidorejo, Desa Glagah, Temon, Kulonprogo, Kamis (19/7 - 2018). (Harian Jogja / Uli Febriarni)
20 Juli 2018 04:30 WIB Uli Febriarni Nasional Share :

Solopos.com, KULONPROGO -- Tahapan pengosongan lanjutan di atas lahan Izin Penetapan Lokasi (IPL) New Yogyakarta International Airport (NYIA) mendapat perlawanan dari warga penolak. Satu di antara mereka mengaku terluka karena diduga mendapatkan tindakan kekerasan dari aparat kepolisian.

Seorang warga penolak Dusun Kragon II, Desa Palihan, Ika Rochyanti, mengatakan, saat itu ia sedang berdoa di dalam rumahnya. Namun kemudian datang seorang polisi wanita (Polwan) yang terlihat sudah cukup berumur dan mengenakan rompi namun tak terlihat nama yang tersemat. Polwan itu memberitahunya bahwa rumahnya harus segera dikosongkan.

Ika sempat marah karena tidak terima rumahnya -- yang tidak diserahkan kepada proyek NYIA -- harus tetap dikosongkan. Ia tetap bertahan di dalam rumah dan di tempatnya berada. Kemudian, polwan tersebut memintanya berhenti mengaji dan menarik kitab suci yang dipegangnya. Ika mengaku, dipukul di bagian wajah, saat berada di luar rumah setelah digotong ke luar.

"Mungkin karena saya cerewet lalu ditonjok. Saya luka di sini [memegang hidup sebelah kanan], sempat berdarah lalu saya lap pakai mukena," kata dia, sambil menunjukkan mukena yang terkena bercak bekas darah, Kamis (19/7/2018).

Seorang warga penolak yang tergabung dalam Paguyuban Warga Penolak Penggusuran Kulonprogo, Sofyan, menyebutkan apa yang dilakukan warga bukanlah tindakan menghalang-halangi pekerjaan proyek. Mereka hanya mencegah rumah milik mereka dirobohkan.

Karena itu, Sofyan menyayangkan pihak proyek menggunakan asas konsinyasi sebagai cara untuk membenarkan tindakan pengosongan. Padahal, dalam pandangan PWPP KP, konsinyasi memiliki kecacatan. "Tapi mereka tidak menggubris," kata dia.

Selain itu, ia juga menyayangkan tidak dihadirkannya Komnas HAM dalam kegiatan pengosongan, padahal pihak proyek NYIA mengatakan akan menghadirkan lembaga perlindungan HAM tersebut ke lokasi pengosongan.

Kapolres Kulonprogo, AKBP Anggara Nasution, menyebutkan hingga saat ini tidak ada laporan dari masing-masing ketua tim perihal adanya Polwan yang memukul warga sampai terluka. Kendati demikian ia membenarkan adanya dorong-dorongan antara warga dan petugas saat berlangsungnya pengosongan. Termasuk terjadinya aksi lempar tanah dari warga ke petugas.

"Saya tindaklanjuti apabila ada laporan. Kami pelajari kejadian sebenarnya kalau memang ada laporan," terangnya.

Anggara menambahkan, pada kegiatan hari ini, terdapat 700 personel gabungan dikerahkan untuk mengamankan kegiatan pengosongan IPL. Terdiri dari kepolisian, tentara, Sat Pol PP. Ada pula 80 orang relawan yang membantu dalam memindahkan barang-barang milik warga.

"Pengamanan dilakukan dengan bertindak secara persuasif, mengutamakan negosiasi. Sehingga warga penolak bisa terwadahi [keinginannya], mau dibawa ke mana barang-barang mereka [oleh armada] yang sudah disiapkan oleh Pemda dan Angkasa Pura I," kata dia.

Standar operasional yang ditetapkan, aparat menjelaskan terlebih dahulu perihal kegiatan pengosongan, pembacaan maklumat keputusan hukum pembebasan lahan oleh Angkasa Pura I kepada pemilik rumah. Apabila mereka sudah menyetujui, barang dikeluarkan oleh relawan.

"Sampai sejauh ini tidak ada hal-hal yang mengganggu jalannya pekerjaan lanjutan. Situasi kondisi pekerjaan lanjutan lancar tanpa halangan. Saya rencanakan pengamanan berlangsung sampai tiga hari, 21 Juli 2017. Tapi melihat situasi dan kondisi, kalau cukup sehari ya sehari atau perlu dilanjutkan besok melihat dari pemrakarsa," katanya.