Soloraya Destinasi Wisata Favorit

19 Juli 2018 23:40 WIB Suwarmin Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (9/4/2018). Esai ini karya Suwarmin, jurnalis Solopos. Alamat e-mail penulis adalah suwarmin@solopos.co.id.

 

Tokopedia

Solopos.com, SOLO--Soloraya destinasi wisata favorit. Mungkin banyak orang yang menganggap kalimat ini utopis, khayal belaka. Bukankah posisi Solo sebagai tujuan wisata masih menjadi bayang-bayang Jogja?

Banyak wisatawan yang selepas dari Jogja langsung menuju Gunung Bromo, tak merasa perlu singgah dulu di Solo. Oleh dunia mancanegara, Solo belum terbaca dalam peta destinasi wisata.

Koordinasi antarkabupaten dan kota di kawasan Soloraya masih sebatas nggah-nggih ora kepanggih. Koordinasi itu sudah lama diwacanakan, sudah lama dicita-citakan, sudah pernah dicoba beberapa kali, tetapi sampai sekarang belum sampai pada level konkret.

Tak ada salahnya kita memperbaiki niat untuk memajukan dan mengembangkan Soloraya sebagai daerah kunjungan wisata. Sejujurnya, Soloraya bisa menjadi pusat destinasi wisata.

Soloraya setidaknya punya enam kabupaten dan satu kota yang suka atau tidak suka saling terhubung dan saling terikat. Manfaat pengembangan industri pariwisata bukan hanya akan dinikmati Solo, namun menyebar ke Soloraya, yakni Sragen, Karanganyar, Sukoharjo, Wonogiri, Klaten, dan Boyolali.

Soloraya bisa menjadi destinasi wisata. Sekarang memang belum, bahkan masih jauh panggang dari api, tetapi sebagai sebuah cita-cita hal itu mungkin, sangat mungkin.

Saya memandu acara diskusi Forum Pegiat Pariwisata yang diselenggarakan Dinas Pariwisata Kota Solo, Sabtu (7/4), di Hotel Paragon, Solo. Temanya keren, Aksesibilitas dan Konektivitas Kota Solo Sebagai Destinasi Wisata.

Forum ini dihadiri pengelola destinasi wisata, pengelola hotel, pejabat dan pegawai pemerintah, pengurus Asita, badan promosi pariwisata, dan lain-lain. Acara dibuka Kepala Dinas Pariwisata Kota Solo, Hasta Gunawan.

Dua orang narasumber jadi pemantik diskusi, yaitu Kepala Dinas Perhubungan Kota Solo Hari Prihatno dan General Manager Angkasa Pura I Bandara Adi Soemarmo Abdullah Usman.

Dalam diskusi ternyata muncul sejumlah data bahwa bekal Soloraya untuk menjadi pusat destinasi wisata cukup memadai. Tengok saja catatan yang saya rangkum dari pernyataan para nara sumber.

Jumlah keberangkatan kereta api dari Solo tahun depan bisa 200 keberangkatan per hari; aksesibilitas transportasi di Soloraya sudah tidak ada masalah lagi; jumlah penumpang yang datang dan pergi melalui Bandara Adi Soemarmo mulai tahun depan akan mencapai 22.000 orang per hari.

Beberapa aplikasi digital yang melayani pemesanan kamar hotel setiap hari menawarkan lebih dari 5.000 kamar hotel di Solo dan sekitarnya. Ratusan restoran, warung makan, pusat-pusat kuliner lama dan baru, bertebaran di Solo.

Kalau aksesibilitas dan konektivitas antardestinasi wisata sudah dijamin, kurang apa lagi? Sejumlah data di atas memang membesarkan hati, tetapi masih ada beberapa pengakuan yang kurang menggembirakan dan ini bisa jadi akan mengganggu jika terus terjadi.

Para pengelola biro perjalanan lebih sering menjual paket outbond, membawa orang Solo berwisata ke luar negeri daripada membawa orang mancanegara berwisata ke Solo. Sejumlah trayek penerbangan yang on-off menyulitkan penjualan paket wisata. Proyek jalan tol yang hampir rampung selain memberi harapan koneksitas antardaerah juga menyimpan kekhawatiran karena jangan-jangan Solo hanya akan sekadar dilewati, bukan disinggahi.

Sarana perparkiran di Solo masih perlu diperbaiki, termasuk wacana membangun gedung parkir, membersihkan Jl. Slamet Riyadi dari parkir; dan sekali lagi koordinasi antardaerah yang kadang-kadang masih menjengkelkan.

Jaringan Destinasi

Di antara potensi dan kendala pengembangan pariwisata Soloraya, ada satu hal yang sudah pasti terjadi, dunia pariwisata sudah mengalami disrupsi alias pergeseran. Destinasi wisata dengan segala ragam dan jenisnya muncul di mana-mana.

Jaringan pemasaran online melalui media sosial dan segala macam platform digital serta jaringan pengelolaan destinasi wisata dalam konsep economic sharing sudah tidak bisa dihindari.

Destinasi wisata yang mainstream dan kurang berbenah lama-lama bisa kalah bersaing dengan destinasi baru yang biasa saja, namun sangat “mengundang” di media sosial.

Maksumlah, aspek pengalaman visual sekarang ini sangat dicari, untuk sekadar bisa eksis, berbagi, atau ngehits. Pada zaman media daring seperti sekarang, destinasi wisata perlu online presence yang tinggi agar bisa dikenal dan dikunjungi.

Sekelompok anggota karang taruna membangun gardu pandang di ujung desa yang menghadap lembah, lalu mengunggah ke Instagram, dan menjadi viral. Hari-hari berikutnya mulai berdatangan pengunjung dari daerah lain untuk sekadar berfoto atau berswafoto, selfie.

Sebut saja sebagai contoh, anggota Karang Taruna Wonorejo, Kecamatan Jatiyoso, Kabupaten Karanganyar, yang mempunyai kesadaran menghubungi reporter Solopos untuk meliput destinasi wisata rumah pohon Tugulasi yang mereka bangun.

Wisata snorkeling di Umbul Ponggok Klaten yang ”hanya” dikelola badan usaha milik desa tiba-tiba diliput stasiun televisi Jepang. Pengelola destinasi wisata Manyaran di Wonogiri, yang punya kawasan air terjun indah, desa wayang dan Gunung Kotak, selain mengharap bimbingan dari Pemerintah Kabupaten Wonogiri, juga berjaringan dengan pengelola wisata di Jogja karena memang secara geografis berdekatan dengan Kabupaten Gunungkidul.

Potensi Manyaran dengan latar belakang pegunungan karst bisa seperti Ramang Ramang di Sulawesi Selatan yang lebih dulu kondang hingga mancanegara. Dunia digital menyatukan banyak destinasi wisata dan saling menginspirasi dalam mempercantik daya tarik destinasi (attraction).

Lucunya, kerja sama dalam lingkup kelembagaan antardaerah justru masih belum jelas bentuknya. Ketika sejumlah daerah sudah mengembangkan strategi pariwisata yang borderless agar dampak multiplier effect terhadap stakeholders pariwisata semakin luas, kita masih menghadapi kendala konektivitas antardaerah.

Bus wisata Werkudara tidak boleh beroperasi melewati batas Kota Solo. Di luar sana, Tiongkok sudah berani beradu perang dagang dengan Amerika Serikat. Kita masih mencari bentuk kerja sama daerah yang sama-sama untung.

Melihat derasnya laju kerja sama dan promosi antarwarga di dunia maya, semakin lama jika tidak segera berkoneksi secara nyata, pemerintah daerah hanya akan tinggal sekadar tukang setempel.

Meminjam pendapat Ketua Badan Promosi Pariwisata Indonesia Surakarta, Bambang Irawan, dalam diskusi Sabtu itu, Solo perlu membangun ciri khas destinasi wisata, yakni wisata sejarah, kuliner, dan belanja.

Dua destinasi wisata bersejarah di Solo, Pura Mangkunegaran dan Keraton Kasunanan Surakarta, akan lebih baik jika tampil lebih dekat dan lebih mudah ”disentuh” masyarakat.

Mungkin perlu dicoba, prajurit keraton ”dimudakan” dan dimodernisaasi, walaupun masih tetap dengan fashion khas keraton, lalu pada hari-hari tertentu mereka berparade dengan formasi barisan tempur zaman dulu, seperti garuda nglayang, sapit urang, gajah neba, dan lain-lain.

Sajian royal dinner ala keraton dikemas sedemikian rupa, yang Instagramable, dan lain sebagainya. Kabupaten Banyuwangi sukses menjual paket wisata dengan value dan diferensiasi petualangan dan pengalaman.

Solo punya dan bisa menyajikan paket bernuansa petualangan dan pengalaman khas Solo. Dalam waktu dekat, misalnya, sejumlah pengelola agen perjalanan dari Maroko menyinggahi Solo. Mereka akan mengunjungi Mangkunegaran, sejumlah bangunan kuno yang unik dank has di Kampung Batik Laweyan, dan De Tjolomadoe.