Terkait Teror Jl Kaliurang, Pria di Sragen Ditangkap Densus Sepulang Salat Asar

Dua polisi bersenjata laras panjang menjaga akses masuk ke lokasi penggeledahan rumah terduga teroris di Dukuh/Desa Bumiaji RT 010B, Gondang, Sragen, Rabu (18/7 - 2018) malam. (Solopos / Tri Rahayu)
18 Juli 2018 22:30 WIB Tri Rahayu Nasional Share :

Solopos.com, SRAGEN — Tim Densus 88 Antiteror menangkap terduga teroris kelahiran Magetan, Jawa Timur, berinisial MS alias S, 35, di wilayah Dukuh Mujirejo RT 009A, Desa Bumiaji, Kecamatan Gondang, Sragen, Rabu (18/7/2018) pukul 15.30 WIB. MS ditangkap Densus setelah pulang dari ibadah salat Asar di Masjid Al Falaq, Dukuh Mujirejo, Bumiaji.

MS diduga merupakan jaringan dari terduga teroris yang sempat baku tembak dengan polisi di Jl Kaliurang, Sleman, DIY, pada Sabtu (14/7/2018) lalu. Warga di sekitar Desa Bumiaji, Gondang, dan Desa Toyogo, Sambungmacan, sebelah selatan Jalan Tol Solo-Kertosono, sudah menduga kehadiran aparat di sekitar Bumiaji.

Tokopedia

Polisi muncul di daerah itu sejak pukul 14.00 WIB. Penangkapan MS berawal saat terduga teroris berangkat ke Masjid Al Falaq mengendarai sebuah sepeda motor matic. Selepas salat Asar, MS pulang ke rumahnya.

“Saya melihat aktivitas aparat berpakaian preman berkeliaran di depan rumah. Hampir semua sudut jalan dijaga aparat. Saat pulang dari masjid dan tiba di simpang empat jalan di selatan rumah saya, tiba-tiba motor terduga teroris itu ditabrak dari arah barat. Tabrakan itu mengenai roda depan terduga teroris hingga jatuh. Kemudian laki-laki itu diborgol kedua tangannya. Mobil hitam datang dari arah selatan. Laki-laki dimasukan dalam mobil dan meninggalkan Gondang ke arah Sragen lewat overpass,” ujar Hari, 37, warga Mujirejo RT 009A, Bumiaji, Gondang, Sragen, saat ditemui Solopos.com, Rabu malam.

Saat itu, Hari sibuk membangun rumahnya. Ia sempat disuruh pergi sementara saat penangkapan terduga teroris itu. Setelah itu, Hari melihat aparat Polres Sragen berdatangan ke rumah terduga teroris di Dukuh/Desa Bumiaji RT 10B, Gondang, Sragen.

“Semua aparat polisi berdatangan juga lewat di depan rumah saya. Kami tidak mengenal orang itu. Orang itu pernah menjadi khatib saat Ibadah Salat Jumat lalu. Kalau pas lewat juga sering menyapa. Orangnya baik tetapi memang tidak tahu namanya,” ujarnya.

Warga setempat lainnya, Tri Hartono, juga curiga dengan adanya banyak aparat berkeliaran di sawah. Dia yakin ada teroris yang ditangkap. Pada pukul 16.00 WIB, kata dia, ada yang bilang ada orang tertabrak mobil. Namun orang yang berteriak itu dihentikan aparat dan membantah bila ada yang tertabrak mobil. “Setelah terduga teroris dibawa Densus baru tim Polres datang,” ujarnya.

Kapolres Sragen AKBP Arif Budiman memimpin pasukan lintas fungsi di Polres Sragen untuk menggeledah rumah yang dihuni terduga teroris bersama istrinya, Rh, 31, warga kelahiran Lamongan, Jawa Timur. Personel yang bertugas melakukan penggeledahan hampir satu peleton. Petugas memasang garis polisi pada radius 100 meter dari rumah terduga teroris. Penggeledahan dimulai pukul 17.00 WIB hingga 20.00 WIB.

Sebelum penggeledahan, polisi membutuhkan saksi dari warga setempat, yakni Kades Bumiaji Agus Sutanto, Ketua RT 010B Sukirno, dan seorang warga lainnya, Sono. Istri MS yang berinisial Rh juga menyaksikan penggeledahan itu. Istrinya tetap tinggal di rumah itu setelah penggeledahan selesai. Sedangkan Sukirno dijemput oleh polisi di rumahnya.

“Bapak Kapolres yang datang membawa saya ke rumah terduga teroris. Saya tidak tahu apa-apa. Dulu orang itu datang dan berencana membeli rumah itu. Saat saya tanya KTP, katanya belum jadi. Jadi saya tidak tahu namanya. Tadi saat penggeledahan, saya tanya istrinya terkait status rumah itu. Katanya sudah dibeli tetapi saat ditanya sertifikatnya tidak bisa menunjukkan,” ujar Sukirno, Rabu malam.

Sukirno menyaksikan penggeledahan di rumah MS dan melihat barang-barang yang disita polisi. “Kalau barang yang berharga itu ada laptop satu unit, ponsel ada dua unit, yang lainnya hanya berkas-berkas dan buku sebanyak 14 buah. Ya hanya itu yang saya tahu,” katanya.

Kepala Desa Bumiaji, Agus Sutanto, menambahkan penggeledahan dilakukan di beberapa kamar dan ruang. Dia mengatakan tidak ada bahan peledak, hanya beberapa buku, Alquran, beberapa kartu ATM. “Tadi juga ada KTP tetapi saya tidak boleh melihat. Namanya siapa juga belum diketahui,” ujarnya.

Kapolres Sragen AKBP Arif Budiman membenarkan adanya penangkapan terduga teroris itu. Arif mengelak untuk menjawab saat ditanya detail kasus penangkapan terduga teroris itu, termasuk identitasnya dan keterlibatan dengan jaringan mana. “Pokoknya saya hanya membenarkan adanya penangkapan terduga teroris itu saja. Selebihnya itu wewenang Densus,” ujarnya.