Dampak Jalan Tol pada Perekonomian

Ribut Hermawan (Istimewa)
17 Juli 2018 03:40 WIB Ribut Hermawan (penulis) Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (14/7/2018). Esai ini karya Ribut Hermawan, mahasiswa Program Studi Magister Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret.

Solopos.com, SOLO--Pembangunan beberapa proyek infrastruktur sedang gencar dilakukan pemerintah saat ini. Salah satunya adalah proyek pembangunan jalan tol. Pembangunan jalan tol diharapkan berdampak terhadap perekonomian masyarakat secara menyeluruh.

Sebagai sarana konektivitas antardaerah, jalan tol diharapkan menjadi jalur penghubung serta jalur distribusi logistik barang dan jasa dari daerah pinggiran/perdesaan ke perkotaan atau sebaliknya.

Dalam ilmu manajemen, logistik melibatkan kegiatan-kegiatan yang fokus untuk mendapatkan jumlah yang tepat dari produk yang tepat (of the right products), ke tempat yang tepat (to the right place), pada waktu yang tepat (at the right time), dan pada biaya terendah (at the lowest possible cost).

Distribusi fisik barang yang merupakan bagian dari kegiatan manajemen logistik tentu mempunyai pengaruh yang besar terhadap penentuan harga suatu barang. Saat ini proses distribusi fisik barang masih memerlukan waktu yang cukup lama dan menyebabkan tingginya biaya distribusi.

Contohnya distribusi barang dari Provinsi Jawa Timur menuju Provinsi DKI Jakarta dapat memakan waktu selama tiga hari melalui jalur darat. Infrastruktur jalan yang belum memadai ini tentu menjadi salah satu penyebab tingginya biaya distribusi barang.

Lamanya waktu distribusi barang yang menyebabkan tingginya biaya distribusi barang dan logistik tentu akan berdampak langsung pada perekonomian masyarakat. Penentuan harga barang sangat dipengaruhi biaya distribusi.

Semakin lama waktu perjalanan yang dibutuhkan untuk distribusi barang dan logistik, maka akan semakin tinggi harga barang tersebut ketika beredar di masyarakat. Lamanya waktu pengiriman barang elektronik antardaerah di Pulau Jawa saja dapat menyebabkan perbedaan biaya yang cukup signifikan. Waktu pengiriman barang yang lama berdampak biaya distribusi logistik tinggi dan harga barang di masyarakat menjadi tinggi.

Biaya Logistik

Saat ini biaya logistik di Indonesia merupakan salah satu yang tertinggi di dunia. Pada 2016, berdasarkan data World Bank, Indonesia menempati peringkat ke-63 dalam Logistics Performance Index (LPI). Pada 2014 menempati peringkat ke-53.

Indonesia bahkan berada di bawah negara-negara Asia Tenggara seperti Malaysia yang berada di peringkat ke-32 dan Singapura yang berada di peringkat ke-5. Data riset Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) menyebutkan perbandingan biaya logistik terhadap produk domestik bruto (gross domestic product/GDP) cenderung turun beberapa tahun terakhir, yaitu 25,7% pada 2013 dan 23,5% pada 2017, namun angka tersebut masih terhitung tinggi.

Biaya pengiriman atau distribusi fisik menjadi salah satu komponen biaya logistik. Kondisi geografis Indonesia yang merupakan negara kepulauan tentu tidak bisa dijadikan alasan sehingga wajar saat ini pemerintah gencar membangun infrastruktur pendukung agar arus distribusi barang bisa lancar dan menekan biaya logistik.

Ketua Umum ALFI, Yukki Nugrahawan Hanaf, optimistis perbandingan biaya logistik terhadap produk domestik bruto (GDP) pada angka 19% dapat dicapai pada 2019 jika proyek infrastruktur berjalan lancar.

Konsultan Senior Supply Chain Indonesia. Zaroni, punya prediksi yang lebih moderat, yaitu memperkirakan akan sulit melewati angka di bawah 20%. Pembangunan infrastruktur yang saling terkoneksi akan memperlancar distribusi barang.

Program tol laut dan pembangunan pelabuhan baru untuk distribusi jalur laut saat ini juga menjadi perhatian pemerintah. Perbaikan dan pembangunan bandara baru juga dilakukan.

Hal tersebut untuk kemudahan dan kecepatan distribusi barang secara menyeluruh dari satu pulau ke pulau lainnya. Di darat jalan tol menjadi satu solusi yang paling efektif untuk menjawab permasalahan distribusi barang.

Jalan tol yang merupakan jalan bebas hambatan yang dapat memangkas waktu tempuh perjalanan karena didesain tanpa ada perlintasan sebidang. Koneksi jalan tol antardaerah dengan perkotaan serta kawasan industri juga akan menambah kemudahan dan efektifitas distribusi barang dan tentu menurunkan biaya logistik.

Target Pembangunan

Pemerintah menargetkan pembangunan jalan tol sepanjang 1.852 Kilometer dapat beroperasi seluruhnya pada 2019. Sampai dengan Maret 2018 atau triwulan I 2018, realisasi pengoperasian jalan tol mencapai 348 kilometer.

Jalan tol sepanjang 132 kilometer dioperasikan pada 2015, 44 kilometer dioperasikan pada 2016, dan 156 kilometer dioperasikan pada 2017. Jalan tol yang dibangun antara lain ruas trans-Jawa yang membentang dari Merak di Banten sampai Ketapang di Banyuwangi, Jawa Timur.

Targetnya sampai akhir 2019, Merak hingga Probolinggo dapat tersambung. Sementara ruas yang lain adalah trans-Sumatra kemudian jalan tol Balikpapan-Samarinda di Kalimantan serta jalan tol Manado-Bitung di Sulawesi.

Pembangunan jalan tol ini tentu akan mempercepat mobilitas dan distribusi barang maupun jasa antardaerah. Bukan tidak mungkin nantinya dari Jakarta ke Surabaya dapat ditempuh dalam waktu 10 jam hingga 12 jam melalui jalan tol.

Kondisi saat ini menunjukkan jalan nasional pantai utara Pulau Jawa atau pantura yang menjadi rute distribusi barang sudah tidak bisa menjadi jalur utama. Tingginya volume kendaraan pemakai jalan saat ini menyebabkan kemacetan sementara jalan sudah tidak dapat dilebarkan lagi. Alternatif solusi dengan membangun jalan tol ini menjadi sangat efektif sebagai jalur distribusi barang dan jasa.

Ekonomi Masyarakat Meningkat

Biaya distribusi barang dan logistik yang rendah menekan penentuan harga suatu barang. Jika harga barang tidak terlampau mahal, akan meningkatkan daya beli masyarakat yang bisa meningkatkan perekonomian masyarakat.

Jalan tol memberikan solusi kecepatan waktu tempuh yang akan membuat distribusi barang menjadi lebih efisien dan harga bisa ditekan. Jalan tol memang berbayar, namun biaya yang dikeluarkan untuk membayar tarif tol ini akan sebanding atau lebih efisien dengan waktu tempuh yang didapatkan.

Pengiriman barang yang tadinya memerlukan waktu dua hari hingga tiga hari atau lebih untuk menempuh Surabaya ke Jakarta akan menjadi lebih cepat hanya satu hari atau dua hari saja.

Tentu ini akan mengurangi biaya operasional di jalan yang digantikan dengan biaya tol tersebut. Bukan tidak mungkin akan menjadi lebih efisien dan efektif secara waktu maupun biaya distribusi suatu barang atau jasa.

Jalan tol akan berdampak langsung terhadap perekonomian masyarakat. Di samping menekan biaya distribusi barang yang berdampak pada harga suatu barang di pasar, juga mempermudah mobilitas masyarakat.

Waktu tempuh semakin singkat untuk bepergian atau mobilitas dari satu daerah ke daerah lain dengan melalui jalan tol. Ini  akan menggerakkan perekonomian suatu daerah.

Langkah pemerintah saat ini menggenjot pembangunan infrastruktur merupakan langkah yang tepat dalam menyediakan sarana dan prasarana sebagai alat penggerak perekonomian masyarakat, salah satunya jalan tol yang mempercepat distribusi barang, mobilisasi melalui jalur darat, hingga dapat berdampak langsung untuk meningkatkan perekonomian masyarakat.