Warga Suriah Ingin Hidup Damai

Kondisi kota di Damaskus, Suriah, Senin (16/4 - 2018). (Reuters/Ali Hashisho)
17 Juli 2018 17:10 WIB Chelin Indra Sushmita Internasional Share :

Solopos.com, DAMASKUS Perang saudara yang tak kunjung berakhir di Suriah membawa kehancuran. Sebagian besar warga Suriah terpaksa mengungsi ke beberapa negara tetangga demi menyelamatkan diri. Sebab, bertahan hidup di Suriah yang tengah dilanda krisis bagaikan mimpi buruk yang tak kunjung berakhir.

Kini, warga Suriah merindukan perdamaian. Mereka ingin hidup tenang dan damai tanpa bayang-bayang ketakutan. Seorang warga Suriah, Muhammad Nasr Mahamid, mengatakan perdamaian adalah hal paling berharga dalam kehidupan. Dia tidak pernah lagi merasakan kedamaian setelah kampung halamannya di wilayah Suriah selatan dikuasai kaum pemberontak.

Tokopedia

"Tujuh tahun yang lalu saya dan keluarga hidup dengan damai di Kota Um Al Mayathen. Namun, semuanya berubah ketika kampung kami menjadi medan pertempuran. Saya tidak bisa lagi bekerja sebagai pekerja bangunan. Saya beralih profesi menjadi penjual susu keliling untuk menghidupi istri dan dua anak," kata Muhammad Nasr Mahamid seperti dikutip dari Global Times, Selasa (17/7/2018).

Bagi Muhammad Nasr Mahamid, perang adalah masalah terbesar yang harus segera diatasi. Peperangan itu menciptakan kesulitan. "Hidup kami sangat sulit. Semua harga bahan pokok naik karena perang. Kami juga diawasi setiap saat. Kami sangat menderita karena kekurangan pangan." sambung dia.

Pria berusia 32 tahun itu ingin hidup dengan tenang di Suriah. Dia berharap pemerintah segera mewujudkan perdamaian agar dia dan keluarganya bisa kembali ke Tanah Air dengan tenang. "Saya ingin perdamaian terjadi agar kehidupan kami kembali seperti sedia kala. Kami ingin tidur nyenyak di malam hari dan bangun tanpa rasa khawatir di pagi hari," tutup Muhammad Nasr Mahamid.

Selama perang terjadi, Muhammad Nasr Mahamid mengaku hanya bisa tidur empat jam setiap malam. Dia khawatir ada anggota kelompok bersenjata yang mencuri binatang ternaknya. "Selama perang kehidupanku sama sekali tidak tenang. Sebab, anggota kelompok bersenjata itu bisa melakukan berbagai hal tanpa ada satu orang pun yang berani menghentikan," tegasnya.