Kemiskinan Indonesia 9,82% Terendah Sepanjang Masa, Sri Mulyani: Luar Biasa!

Menteri Keuangan Sri Mulyani. (Antara/R. Rekotomo)
17 Juli 2018 17:21 WIB Hadijah Alaydrus Nasional Share :

Solopos.com, JAKARTA -- Pemerintah menyambut baik turunnya presentase tingkat kemiskinan di Indonesia per Maret 2018 yang tercatat terendah sepanjang masa sebesar 25,95 juta atau 9,82% memasuki era 1 digit. Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, mengungkapkan pencapaian ini luar biasa.

"Saya termasuk yang menyambutnya dengan perasaan yang istimewa selama saya jadi Menteri Keuangan bagaimana kita turunkan kemiskinan. 9.82% ini tingkat kemiskinan pertama kali di bawah 10%," ungkapnya saat menjadi keynote speaker saat perayaan 10 tahun Adaro Energy melantai di BEI, di Hotel Ritz-Carlton Pasific Place, Senin (16/7/2018).

Dia bercerita angka ini selalu mendekati 10% tapi tidak pernah melewati ke satu digit. "Menurunkan di bawah 10% quite remarkable achivement," ujarnya.

Sri Mulyani juga mensyukuri hasil rasio Gini yang menembus 0,389. Sehingga ia menyimpulkan Indonesia sudah pada jalur yang tepat. Angka kemiskinan nasional per Maret 2018 ini berkurang sebanyak 633.200 dibandingkan dengan kondisi September 2017 sebesar 26,58 juta atau 10,12%.

Angka kemiskinan ini terendah sejak 1970. Tak hanya itu, persentase 9,82% tersebut juga terendah sejak metode perhitungan baru pada 1998 dan sejak pelaporan angka kemiskinan diubah pada 2011 menjadi setahun dua kali, yakni tiap Maret dan September.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto mengatakan ini pertama kali persentase angka kemiskinan Indonesia berada di level satu digit. "Persentase 9,82% terendah, tetapi jumlahnya   masih besar 25,95 juta," tegas Suhariyanto, Senin (16/7/2018).

Suhariyanto menuturkan penurunan penduduk miskin pada Maret 2018 sebesar 633.200 penduduk masih lebih rendah jika dibandingkan dengan Maret 2017 ke September 2017 sebesar 1,2 juta. Menurut BPS, penurunan pada Maret 2018 ini masih memiliki faktor penghambat yakni harga beras dan Nilai Tukar Petani (NTP). 

Harga beras yang naik tinggi membuat pengeluaran masyarakat untuk membeli beras menjadi naik. Sementara itu, BPS menilai NTP yang menjadi acuan daya beli petani masih cenderung datar.

NTP pada Mei 2018 naik tipis sebesar 0,37% menjadi 101,99 dibandingkan dengan April 2018, sementara NTP pada Juni 2018 tercatat sebesar 102,04 atau naik lebih tipis 0,05%. "Kalau 101 itu impas saja," tegas Suhariyanto. 

"Persentase 9,82% terendah, tetapi jumlahnya   masih besar 25,95 juta," tegas Suhariyanto, Senin (16/7).
 
Secara jumlah penurunan, Suhariyanto menuturkan penurunan pada Maret 2018 sebesar 633.200 penduduk masih lebih rendah jika dibandingkan dengan Maret 2017 ke September 2017 sebesar 1,2 juta.
 
Menurut BPS, penurunan pada Maret 2018 ini masih memiliki faktor penghambat yakni harga beras dan Nilai Tukar Petani (NTP). 
 
Harga beras yang naik tinggi membuat pengeluaran masyarakat untuk membeli beras menjadi naik. Sementara itu, BPS menilai NTP yang menjadi acuan daya beli petani masih cenderung datar. 
 
NTP pada Mei 2018 naik tipis sebesar 0,37% menjadi 101,99 dibandingkan dengan April 2018, sementara NTP pada Juni 2018 tercatat sebesar 102,04 atau naik lebih tipis 0,05%.
 
"Kalau 101 itu impas saja," tegas Suhariyanto.