Penulis Solo Bikin Audiobook Penyandang Tunanetra

Indah Darmastuti (paling kiri) breafing latihan pembacaan naskah audiobook di Balai Soedjatmoko Solo beberapa waktu lalu. (Istimewa - Indah Darmastuti)
13 Juli 2018 06:00 WIB Ika Yuniati Solo Share :

Solopos.com, SOLO -- Penulis asal Solo, Indah Darmastuti, sedang menyelesaikan pembuatan audiobook berisi 30 rekaman cerita pendek (cerpen) dan 50 puisi. Proyek pertama yang didukung Cipta Media Ekspresi tersebut bertujuan membuka akses seluas-luasanya bagi disabilitas pencinta sastra, khususnya penyandang tunanetra.

“Tak hanya itu, perkembangannya  nanti audiobook juga bisa dinikmati masyarakat luas yang tak sempat membaca. Misalnya mendengarkan karya sastra sambil masak, menyetir mobil, atau kegiatan lainnya,” terang Indah saat berbincang dengan Solopos.com, pekan lalu.

Materi rekaman merupakan karya para penulis Solo dan kota besar lain seperti Jakarta, Yogyakarta, dan Surabaya. Semuanya mengusung tema perempuan dari berbagai sudut pandang.

Sementara proses pembacaan naskah dan rekaman mayoritas melibatkan mahasiswa, para difabel, dan pencinta sastra Solo. Indah menggandeng beberapa penyandang tunanetra untuk dimintai pertimbangan soal kelayakan  suara yang direkam.

“Karena yang mendengarkan kan nanti teman-teman ini [tunanetra] jadi saya minta pertimbangan mereka apakah standar pembacaan cerpen atau puisinya sudah layak sesuai kebutuhan mereka atau belum,” terangnya.

Indah mengatakan proses pembacaan  karya ini gampang-gampang susah. Selama pengerjaan tak semuanya bisa menyelesaikan tantangan dengan mudah, harus melalui tahapan yang cukup rumit karena harus disesuaikan antara tema dan karakter suara.

Audiobook juga dilengkapi backsound guna memperkuat cerita. Misalnya menggunakan rekaman suara rebab dan kecapi yang disisipkan untuk cerita bernuansa Jawa. Untuk proses produksi suara, Indah menggandeng musikus Solo.

Website

Audiobook yang digarap sejak beberapa bulan lalu itu rencananya dirilis Oktober mendatang. Bersamaan dengan itu bakal digelar diskusi soal akses sastra bagi penyandang disabilitas. Ia menyediakan kumpulan rekaman dalam bentuk CD yang akan diserahkan ke sekolah difabel tunanetra.

Sementara pencinta sastra lain bisa mengakses di website khusus yang saat ini juga tengah dipersiapkan. Tak selesai disitu, setelah Oktober Indah akan rutin merekam karya sastra lain untuk diunggah sebulan sekali. Beberapa tema yang sudah dipersiapkan di antaranya cerita anak, cerita pendek Bahasa Jawa (cerkak), dan surat-surat kartini.

Proyek ini, kata Indah, berawal dari pertemuannya dengan penyandang disabilitas saat bincang sastra bersama Pawon di Radio Solopos FM. Saat itu salah satu narasumber yang dia ajak mengatakan pemerintah belum memberi kesempatan luas kepada para difabel untuk mengakses ilmu pengetahuan maupun sastra.

“Saya pikir ini [perluasan akses sastra untuk difabel] juga tanggung jawab kita yang punya indera lengkap. Akhirnya piye carane aku mikir agar hak mereka terpenuhi. Sempat terpikir bikin Braile juga, tapi kan agak rumit karena harus belajar Braile dulu. Sekarang saya juga lagi mikir bagaimana caranya bisa merekam sastra terjemahan juga untuk mereka,” kata Indah.