Loyalis Anis Matta Resah Anies Baswedan Maju Pilpres 2019

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dalam pembukaan Jakarta Fashion and Food Festival (JFFF) ke-15 di La Piazza Mal, Kelapa Gading, Jakarta, Sabtu (7/4 - 2018). (Antara/Rivan Awal Lingga)
11 Juli 2018 17:00 WIB Newswire Nasional Share :

Solopos.com, JAKARTA -- Politikus PKS Mahfudz Siddiq membeberkan kegelisahannya menjelang pendaftaran kontestan Pemilu Presiden (Pilpres) 2019. Kegelisahan politikus yang dikenal sebagai salah satu loyalis Anis Matta itu ditujukan kepada Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan yang didorong maju sebagai calon wakil presiden (cawapres).

Dalam surat terbukanya, Mahfudz menceritakan keresahannya saat melihat pemberitaan capres - cawapres di beberapa media. Dalam pemberitaan itu, nama Anies kerap kali disebut maju menjadi cawapres pada Pilpres 2019.

"Kenapa terselip rasa gelisah dan cemas dalam diri saya? Karena setelah mengikuti hiruk-pikuk berita di media, muncul pertanyaan di kepala saya: "Akankah saya kehilangan sosok Anies Rasyid Baswedan sebagai Gubernur DKI Jakarta yang telah saya pilih berama tiga jutaan warga lainnya?" kata Mahfudz dalam surat terbukanya yang dilansir Suara.com.

Pasalnya, dia Anis menjadi gubernur setelah proses Pilkada Jakarta 2017 yang disebut-sebut sebagai pilkada paling panas di Indonesia. Selain itu, Mahfudz mengaku menjadi saksi banyaknya warga DKI yang mati-matian mendoakan Anies agar terpilih menjadi Gubernur DKI.

"Bahkan saya menyaksikan bagaimana pada hari Rabu subuh, 19 April 2017, begitu banyak warga Jakarta yang menghadiri salat Subuh berjama'ah di masjid dan musala. Mereka bermunajat untuk kemenangan Bapak, sebelum menuju TPS memastikan hak pilihnya," tulisnya.

Dengan melihat begitu besarnya dukungan warga DKI Jakarta pada Anies, Mahfudz mengharapkan kepada Anies untuk tidak melupakan dukungan warga DKI Jakarta serta tanggung jawabnya sebagai Gubernur DKI.

"Saya hanya bisa memanjangkan doa kepada Allah SWT agar Bapak Gubernur bersama Wakil Gubernur bisa terus mengemban amanah dan tugasnya hingga tuntas," pungkasnya.

Keresahan Mahfudz sejalan dengan posisi PKS yang dinilai lemah menjelang Pilpres 2019 seperti analisis Direktur Eksekutif Kedai Kopi, Hendri Satrio. Hal itu tak lepas dari lobi intensif Partai Demokrat dengan menawarkan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).

Hendri mengaku sempat mendengar langsung dari Wakil Ketua Umum Partai Demokrat Syarief Hasan bahwa Prabowo Subianto telah sepakat memilih AHY sebagai cawapresnya saat menjadi narasumber di salah satu acara televisi. Menurut Hendri, apabila skenario Prabowo - AHY memang benar terjadi, maka PKS tidak akan mendapatkan efek apa-apa.

"Jadi kalau dukung Gerindra-Demokrat, PKS nggak akan bisa nambah suara. Hashtag 2019GantiPresiden kan yang munculin PKS, tapi di survei itu selalu ke Gerindra," kata Hendri di acara diskusi bertajuk Sebulan Jelang Pendaftaran Capres: Koalisi (Bukan) Harga Mati? di Pulau Dua Restaurant, Jakarta Pusat, Selasa (10/7/2018).

Hendri melihat apabila nantinya koalisi yang tercipta ialah Partai Gerindra - Demokrat - PKS, maka PKS hanya berfungsi sebagai ketua pemenangan. Hal ini, kata dia, mirip seperti situasi saat Pilkada DKI Jakarta 2017

Tokopedia

Sumber : Suara.com