Mahfud MD Jadi Unggulan Bursa Cawapres Jokowi

Mahfud MD berceramah dalam Seminar Nasional Perspektif Hadratus Syaikh KH. M. Hasyim Asy'ari dan K.H. Ahmad Dahlan terhadap Politisasi Agama di Gedung Induk Siti Walidah, kompleks UMS, Pabelan, Sukoharjo, Sabtu (31/3 - 2018). (Solopos/M. Ferri Setiawan)
11 Juli 2018 14:38 WIB John Andhi Oktaveri Nasional Share :

Solopos.com, JAKARTA — Nama Mahfud MD mulai disebut-sebut sebagai figur paling tepat untuk mendampingi Joko Widodo (Jokowi) pada Pemilu Presiden (Pilpres) 2019. Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) itu menguat di antara beberapa nama lainnya setelah sejumlah tokoh politik mengunggulkannya.

Kepala Badan Bantuan Hukum PDIP Junimart Girsang mengakui sosok pakar hukum tata negara tersebut layak menjadi kandidat cawapres pendamping Jokowi. "Ya kenapa tidak, Mahfud MD mampu untuk itu," kata Junimart kepada wartawan, Rabu (11/7/2018).

Kendati demikian, Junimart enggan berasumsi lebih jauh soal peluang Mahfud MD menjadi cawapres Jokowi. Dia mengakui semua keputusan tersebut merupakan kewenangan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri.

Hal serupa diungkapkan mantan politikus Partai Demokrat yang kini mendukung Jokowi, Ruhut Sitompul. Menurutnya, Mahfud kini menjadi kandidat unggulan dari kalangan nonparpol untuk cawapres mendampingi Jokowi. Selain itu, katanya, ada nama Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto.

Sementara itu, CEO Saiful Mudjani Research and Consulting (SMRC), Djayadi Hanan, juga memasukkan nama Mahfud berdasarkan hasil survei cawapres pilihan rakyat selain nama Tuanku Guru Bajang (TGB) dan Anies Baswedan. Menurutnya, ketiga tokoh itu dianggap memiliki kedekatan dengan umat Islam -- hal yang dianggap penting pada Pilpres 2019.

"Itu yang menjadi isu sekarang, kan? Karena sejak 2014 sampai sekarang itu kan ada isu siapa calon yang dianggap pro umat dengan antiumat. Maka nama-nama yang dari kalangan santri itu menjadi penting," ujarnya.

Djayadi menjelaskan, pemilihan calon wapres yang dekat dengan umat Islam, penting bagi Jokowi yang kerap dicitrakan lebih mewakili kalangan nasionalis dan sering dituding kurang pro terhadap umat Islam (meski tak ada bukti atas tudingan itu).

Meski begitu, Prabowo yang dianggap lebih dekat dengan kalangan politik muslim pun juga butuh sosok serupa. Pasalnya, citra kedekatan itu tak cukup hanya narasi semata karena keterwakilan kandidat pun penting.

Sedangkan nama Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar (Cak Imin) dipastikan masuk dalam daftar panjang calon wakil presiden (cawapres) yang digodok PDIP. Namun, beredar isu bahwa Cak Imin terdepak dari daftar cawapres pendamping Joko Widodo (Jokowi) meski dibantah oleh PKB.

Dilansir Suara.com, Sekretaris Jenderal PKB Jazilul Fawaid mengatakan bahwa pihaknya enggan menanggapi adanya isu itu. Menurutnya, itu hanya isu semata. Cak Imin diisukan didepak dari daftar cawapres Jokowi untuk Pilpres 2019. Kepala Badan Bantuan Hukum PDIP Junimart Girsang mengkonfirmasi hal itu.

Jazilul menjelaskan bahwa pihaknya berusaha untuk berpikir positif. Dia tetap percaya Cak Imin akan menjadi cawapres. "Kalau isu dari suara-suara burung kita nggak ditanggapi. kita positive thinking, Cak Imin cawapres," kata Jazilul di Gedung Nusantara II, Kompleks Parlemen, Selasa (10/7/2018).