Indonesia dalam Kulari ke Pantai

09 Juli 2018 22:09 WIB Setyaningsih (Penulis) Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (7/7/2018). Esai ini karya Setyaningsih, penulis cerita anak Peri Buah-Buahan Bekerja yang masuk dalam buku antologi cerita anak Kacamata Onde (2018). Alamat e-mail penulis adalah langit_abjad@yahoo.com.

Solopos.com, SOLO--Telah lama film anak Indonesia tidak dirayakan dengan cukup meriah. Pada liburan sekolah yang amat panjang ini film anak Kulari ke Pantai (Riri Riza, 2018) mendapatkan momentum. Perayaan tentang film ini diberitakan televisi, tabloid, koran, portal berita, dan media sosial.

Film ini kemudian membangkitkan semangat menggarap lagu-lagu anak sebagai ikhtiar menanggapi krisis lagu anak-anak di negeri ini. Riri Riza yang membuat film ini pada 2018 merasa harus mengangkat budaya terkini yang melanda anak-anak: kecanduan gawai, individualis, malas bergerak, dan keminggris.

Hal ini diwakili oleh tokoh Happy (Lil’li Latisha) yang nyaris sepanjang dialog menggunakan bahasa Inggris. Happy dipertentangkan dengan tokoh utama anak asal Rote, Sam (Maisa Kanna), yang berciri khas anak-anak alam tropis: banyak gerak, energik, cukup cerewet, fasih bahasa lokal, dan benar-benar antigawai.

Cerita tentu berakhir baik dengan adegan dua sepupu yang diikat oleh rasa persahabatan sekaligus persaudaraan. Sekalipun film ini berpotensi menjadi media kreatif  ”menjual” Indonesia, tidak ada jargon-jargon  ”aku cinta Indonesia”, ”mari menjaga alam”, ”kita harus merawat Indonesia”, atau semacamnya.

Berindonesia lewat pariwisata itu memang mutlak jadi mantra revitalisasi pariwisata termutakhir. Riri Riza juga menyisipkan masalah anak-anak dan bahasa dengan menghadirkan tokoh Kakak Dani (Suku Dani), orang Amerika Serikat yang bohemian dan tumbuh di bumi Papua, yang justru sangat fasih berbicara dalam bahasa Indonesia dengan logat khas Indonesia bagian timur.  

Liburan menjadi latar konflik sekaligus harmoni antara Sam dan Happy. Tentu bukan dengan berpariwisata tipis-tipis ke taman, apalagi mal. Ini bukan liburan asal keluar dari rumah bersama-sama dan diabadikan dalam foto-foto yang langsung diunggah di Instagram.

Penonton akan menyadari betapa Sam cukup idealis sebagai anak yang melancong dan penikmat alam. Dia sesekali hanya mengambil foto dengan kamera tanpa menjadi diri sebagai fokus utama bidikan kamera.

Ia juga tak menjadikan objek fotonya sebagai tempat yang dengan ambisius dia kabarkan sebagai tempat harus instagramable dan setiap inci perbuatan umat manusia harus difoto.

Riri Riza meramu oposisi dari ambisi liburan yang harus ”keluar” jauh dari rumah. Kita mafhum sejak era 1970-an orang-orang Indonesia menyadari dunia luar bukan tempat asing untuk disinggahi dalam urusan pariwisata.

Gaya berwisata meluar turut dibentuk oleh kehadiran majalah. Majalah perempuan Kartini edisi 9-22 Mei 1983 pernah memuat liputan berjudul Menengok Rumah Baru Mickey Mouse: Tokyo Disneyland. Liputan diselingi foto-foto provokatif para bintang Disney.

Tokyo Disneyland menjadi tempat ketiga setelah Disneyland di California (1955) dan Disney World di Florida (1971). Disneyland Tokyo kala itu menjadi rujukan pariwisata ala Amerika Serikat di kawasan Asia.

Anak-anak Indonesia pada awalnya menikmati Disney sebagai kartun atau gambar di barang-barang harian. Wisata ke Disneyland seolah-olah kelanjutan wajib yang menentukan identitas anak dari keluarga kelas atas Indonesia. Keluarga harus mulai merancang rute-rute menuju tempat-tempat berlibur.

Film anak Kulari ke Pantai mengajak keluarga berpikir tentang Indonesia, menjelajahi rute dari Jakarta ke Banyuwangi dan akhirnya kembali ke Rote. Alam Indonesia sedemikian agung melatari perjalanan. Dalam perjalanan darat ini, dipastikan banyak lokasi mampir untuk kepentingan wisata kuliner khas atau mampir di penginapan tradisional di tengah sawah sekalipun dinamakan homestay.

Sam harus menyelesaikan perjalanan darat bermobil nan panjang untuk meampakan kaki di pantai (lagi) bersama sang peselancar idola, Kailani Johnson. Penonton akan menangkap kehati-hatian Riri Riza agar Kulari ke Pantai tidak berakhir seperti film panduan wisata Ada Apa dengan Cinta 2 versi anak.

Di Indonesia pernah terbit buku pariwisata dalam rangka menasionalisasi sikap orang Indonesia berliburan. Buku itu berjudul Melantjong di Indonesia (PT Rio, 1957) susunan Poerbo Ngr. Beberapa orang terlibat dalam penulisan buku itu, seperti Abdul Karim, Mr. P.W. Blogg, Pitojo Gatut, R.O. Simatupang, Nj.S. Sulaiman, Abdul Mutalib, Mardjuki Dwidjosumarto, R. Sanoesi, dan R. Dijar.

Mereka mengabarkan dan bercerita tentang tempat wisata, warung, hotel, jalan, adat setempat, tarif pos, sandiwara radio, kesenian daerah. Seorang sekretaris jenderal kementerian M. Harjoto saat itu mengatakan guna mempertebal rasa cinta tanah air perlu kita mengetahui hal ihwal yang serbabagus, serbaindah, dan serbabaik dari tanah air kita.

Pemandangan yang indah permai di tepi laut, di pegunungan, dan di lembah ngarai. Bangunan adat kebiasaan, adat istiadat, dan lembaga adat yang menggambarkan keluhuran budi pekerti tinggi di dalam tata cara hidup di kota maupun di desa-desa.

Hasil kebudayaan, kesenian, kesusastraan yang menggambarkan kemajuan alam pikiran bangsa Indonesia pada zaman kuno maupun sekarang. Buku mendaulat Indonesia merdeka dalam pendayagunaan sumber daya alam dan kebudayaan.

Kedirian

Semua pihak harus berpikir pariwisata tidak hanya untuk bersenang-senang, tapi juga meresapi kedirian sebagai orang Indonesia. Beberapa tahun terakhir, pengabaran tentang tentang Indonesia digencarkan melimpahnya ruang-ruang pariwisata baru.

Pemerintah sebagai penyokong utama pengabaran ke seluruh dunia. Tempat-tempat pariwisata itu bisa saja tempat lama yang diremajakan atau tempat baru yang disisipi pesan masa kini dan masa lalu, termasuk membawa misi mengedukasi sejak dini.

Di dunia wisata mutakhir, apa pun yang membawa beban heritage harus dipamerkan lagi. Harian Solopos edisi 14 Juni 2018, menampilkan tempat-tempat baru di Soloraya yang mengandung misi edukasi sejarah.

Tempat-tempat baru pariwisata itu antara lain The Heritage Palace di Pabelan, Kartasura, Sukoharjo; eks Pabrik Gula De Tjolomadoe di Colomadu, Karanganyar; Museum Rumah Atsiri di Tawangmangu, Karanganyar.

Sembari berwisata, orang-orang dewasa cenderung ingin anak-anak belajar dan merasa menjadi Indonesia. Dari film Kulari ke Pantai, yang belajar justru tidak hanya anak-anak. Anak-anak bisa berbalik mengajak orang tua belajar (lagi).

Ada ayah dan ibu Sam yang ideal dalam masalah finansial, pengasuhan, dan  sepertinya intelektual juga, tapi tidak terlalu memberi intervensi pada anak bersikap.

Keputusan ini membuat Sam tumbuh dengan kebebasan raga bergerak di tengah keluarga yang terbingkai harmonis. Film karya Riri Riza ini tidak bermisi ingin ”membangun karakter” anak dengan himpunan nasihat atau pesan moral. Lumayan, saya cukup terhibur menonton film ini.

 

Tokopedia