Dukung Jokowi, TGB Yakin Lolos Sanksi SBY

Gubernur NTB TGB Zainul Majdi menyaksikan Mensos Idrus Marham (kedua kanan) menggendong anak korban tambang emas ilegal di Puskesmas Sekotong, Lombok Barat, NTB, Kamis (21/6 - 2018). (Antara / Ahmad Subaidi)
09 Juli 2018 18:41 WIB Samdysara Saragih Nasional Share :

Solopos.com, JAKARTA -- Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) Muhammad Zainul Majdi merasa tidak melanggar aturan Partai Demokrat ketika menyatakan dukungan kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk menjadi presiden RI di periode kedua.

Menurut Tuan Guru Bajang (TGB), sapaan Zainul Majdi, dukungan tersebut merupakan sikap pribadi bukan dan dalam kapasitas sebagai kader Partai Demokrat. Dia memilih Jokowi berdasarkan pertimbangan bahwa mantan Gubernur DKI Jakarta tersebut bisa membawa kemaslahatan bagi umat Islam dan bangsa Indonesia.

“Saya tidak merasa melanggar apapun. Saya tidak merasa ada dasar untuk memberikan sanksi karena saya tidak pernah memudaratkan partai,” katanya saat mengunjungi Redaksi Bisnis Indonesia di Jakarta, Senin (9/7/2018).

Sejak menjadi anggota Partai Demokrat, TGB merasa dirinya tidak pernah berkontribusi negatif buat nama partai pimpinan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) itu. Sebaliknya, citra Demokrat malah turut terdongkrak karena berbagai prestasi NTB di bawah kepemimpinannya.

“Tentu prestasi NTB ini bukan prestasi pribadi, tapi kolektif kami. Paling tidak saya sudah menghadirkan persepsi bahwa kader partai ini berarti bagus,” ujar TGB.

Mantan anggota DPR ini juga selalu mengenang pesan dari SBY agar kader selalu memberi kontribusi positif bagi partai. Keberhasilan kader dianggap dapat memberikan persepsi baik bagi Partai Demokrat di mata masyarakat.

“Kata beliau partai ini dibangun bukan sekedar gagah-gagahan, tapi buat berkontribusi untuk Indonesia. Saya memaknai kontribusi tidak perlu teriak-teriak ‘kami Demokrat’ tapi dengan kinerja,” tuturnya.

Saat memenangi Pilkada NTB 2008, TGB merupakan kader Partai Bulan Bintang (PBB). Namun, ketika bertarung untuk periode jabatan kedua, dia diusung oleh Partai Demokrat setelah bergabung dengan partai itu. Bahkan, saat ini alumnus Universitas Al Azhar tersebut masih duduk di Majelis Tinggi Demokrat, organ tertinggi partai untuk pengambilan keputusan strategis Demokrat yang diketuai oleh SBY.

Sayangnya, sejak menyatakan dukungan kepada Jokowi baru-baru ini, hubungannya dengan Demokrat terlihat renggang. Bahkan, TGB tidak diundang untuk menghadiri rapat Majelis Tinggi Demokrat di kediaman resmi SBY di Jakarta, Senin siang ini.

“Sudah saya cek, saya tidak dapat undangannya. Makanya saya memilih datang ke sini [Redaksi Bisnis Indonesia],” kata TGB.