Bunuh Diri Mahasuci

Udji Kayang Aditya Supriyanto (Istimewa)
08 Juli 2018 21:00 WIB Udji Kayang Aditya Supriyanto (Pemerhati) Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (2/7/2018). Esai ini karya Udji Kayang Aditya Supriyanto, penulis, pembaca buku, dan pengelola Buletin Bukulah! Alamat e-mail penulis adalah udjias@gmail.com.

Solopos.com, SOLO--Kitab suci terang menyatakan tiap-tiap yang berjiwa pasti akan merasakan mati. Bagi jiwa yang sumpek, kepastian itu mungkin terasa boleh disegerakan.

Tokopedia

Di ruang sidang, di tengah kerumunan barikade polisi, seorang lelaki bersujud syukur mendapati dirinya akan dihukum mati. ”Kalau saya divonis mati, saya akan sujud syukur,” kata lelaki itu sebelum persidangan (Solopos, 23 Juni 2018).

Lelaki itu bernama Aman Abdurrahman alias Oman Rochman, terdakwa kasus terorisme yang disebut sebagai pemimpin Jamaah Ansharut Daulah (JAD). Aman memiliki riwayat panjang dalam kiprah terorisme di Indonesia.

Ia menggerakkan teror bom di Gereja Oikumene di Samarinda, 13 November 2016; bom di Jl. M.H. Thamrin, Jakarta, Januari 2016; bom di Kampung Melayu, 24 Mei 2017; penusukan polisi di Sumatra Utara, 25 Juni 2017; penembakan polisi di Bima, 11 September 2017.

Aman mengajak kita berpikir ulang bahwa tendensi bunuh diri memang terhayati oleh setiap ekstremis, alih-alih sekadar para eksekutor bom bersebutan pengantin. Kita tengok pendapat sosiolog penggagas konsep bunuh diri pada masa silam.

Emile Durkheim (1950) menyebut setiap kematian yang disebabkan, baik secara langsung maupun tidak, oleh tindakan positif atau negatif pelakunya, dan pelaku mengerti tindakan itu bakal menyebabkan kematian dirinya, adalah bunuh diri.

Aman tidak perlu dolan ke gereja dengan bom menempel di tubuh, lalu meledak, untuk memastikan bunuh diri: yang bagi para ekstremis adalah bunuh diri mahasuci. Aman bukan pengantin. Ia lebih sebagai penggerak, tapi tetap mengarah pada bunuh diri mahasuci itu.

Bunuh diri Aman akan terjadi saat eksekusi mati atas keterlibatannya dalam tindak terorisme. Kita membayangkan momen eksekusi mati di novel Franz Kafka, Proses (2016). ”Seperti seekor anjing!” seru K, tokoh utama novel itu, ketika mendefinisikan momen itu.

Aman bukan pembaca Kafka, kita yakin itu. Kafka itu Yahudi, buku-bukunya mana pantas dibaca pria saleh seperti Aman. Imajinasi penuh aib di Proses tidak boleh terbayangkan oleh Aman saat menghadapi eksekusi mati kelak.

Eksekusi mati bakal ia hadapi sebagai bunuh diri mahasuci, yang dalam perspektif Durkheim, bersebutan bunuh diri altruistis. Kita biarkan Aman dengan keteguhan sikapnya, jangan bilang-bilang kalau sikap Aman itu sebetulnya sejalan dan selaras dengan pemikiran sosiolog berdarah Yahudi.

Tendensi, bahkan ambisi, bunuh diri selayaknya bukan hal tabu, apalagi di hidup yang semakin sumpek. Kita pantas mengenang Osamu Dazai, sastrawan Jepang yang menjemput kematian lewat bunuh diri pada 13 Juni 1948.

Sastrawan Jepang bunuh diri itu biasa, beberapa sastrawan selain Dazai juga pernah melakukan. Barangkali Dazai adalah sastrawan Jepang yang paling berambisi bunuh diri. Selama hidup, Dazai berkali-kali mencoba bunuh diri sebelum akhirnya sukses menenggelamkan diri bareng perempuan bernama Yamazaki Tomie di akuaduk Tamagawa.

Pengisahan sekian percobaan bunuh diri Dazai bisa kita jumpai di cerita pendek-cerita pendek karya dia yang biografis, yang bagi pembaca berbahasa Indonesia hadir di buku kumpulan cerita penendek Delapan Pemandangan dari Tokyo (2018).

Dazai menulis,”Kami berangkat ke pemandian air panas Minakami. Malamnya kami bersiap-siap untuk bunuh diri di pegunungan di sana. H tidak boleh mati, aku berkata kepada diri sendiri, dan berusaha memastikan bahwa dia tidak mati. H sintas. Tapi, dia bukan satu-satunya yang sintas. Aku mencoba bunuh diri menggunakan obat tidur dan sialnya gagal.”

Kegagalan bunuh diri Dazai mungkin lantaran ia masih perlu memastikan H tetap hidup dan karena itu dia semestinya tetap hidup juga. Gelagat bunuh diri Dazai terdapati pula di sekian kutipan, misalnya,”Aku dibuang oleh ibu, abang, dan bibiku−dan kesadaran akan hal ini, dibandingkan hal-hal lainnya, adalah pemantik upaya bunuh diriku.”

Dia juga menulis,”Akhirnya aku terpojok−berpikir untuk bunuh diri.” Dazai memandang dan meyakini tindak bunuh diri sebagai upaya penyelamatan diri dari hidupnya. Hidup yang dijalani Dazai sudah telanjur sumpek dan tidak beres.

Kondisi sosial mengarahkan Dazai pada bunuh diri, tapi kondisi itu ia imbangi dengan kesadaran religius tertentu, keyakinan tertentu. Dazai lantas menjalani keyakinannya dengan ambisi penuh, gas pol! Aman berbeda, memilih setel kendho, menuju bunuh diri dengan cara lebih kalem.

Aman memilih melibatkan pihak lain (eksekutor) agar sukses bunuh diri tanpa mengotori tangannya sendiri. Sekalem-kalemnya bunuh diri ala Aman, toh hanya akan melegakan dahaga fantasi ideologisnya.

Problematis

Aman boleh saja merasa diri terhormat, telah menjalankan tugas religius, berjihad, dan berikhtiar memperjuangkan daulah Islamiyah. Kehormatan itu sayangnya hanya merekahkan bunga di benak Aman, bukan bagi masyarakat yang waras.

Aman tetap dikenang sebagai aib. Tanpa bumbu agama, misalnya, setiap bunuh diri di masyarakat kita toh dianggap aib. Di luar negeri, kita mendapati sekian figur publik mengakhiri hidup dengan bunuh diri: artis Korea Selatan, artis Hollywood, siapa pun.

Kita masih merasa pantas merayakan bunuh diri mereka, bunuh diri yang dilakukan saat karier mungkin sedang jaya-jayanya. Bunuh diri para publik figur, tiba-tiba bergagasan psikologis, bercerita situasi industri bahkan dunia pada umumnya, yang semakin hari semakin kejam.

Kita bisa bandingkan, misalnya, dengan seorang lelaki paruh baya di Wonogiri. Dalam benak masyarakat kita bunuh diri lelaki ini paling-paling berkisah lilitan utang, pengkhianatan asmara, dan berkesimpulan ”tidak kuat iman dalam menjalani hidup”.

Iman kini problematis. Iman secara ekstrem mengarahkan seseorang mengakhiri hidup lewat bunuh diri. Iman juga dijadikan legitimasi agar seseorang terhindar dari tindak bunuh diri.

Menjadi martir lewat bunuh diri, dengan begitu, sekadar fantasi yang menukar kekalahan menghadapi ketidakberesan hidup dengan imajinasi surgawi.

Bunuh diri adalah penyangkalan paling kentara atas hidup. Cara kita menghadapi bunuh diri mestinya bukan dengan membayangkan kematian, melainkan memandang hidup.

Apakah bunuh diri sebagai kekalahan menghadapi hidup cukup dipakaikan baju agama untuk menjadi mahasuci? Biarlah waktu yang menjawabnya. Kalau tidak kuat menanti jawabannya, bunuh diri saja.