Israel Jadikan Serangan di Gaza Ajang Uji Coba Senjata Baru

Warga Palestina menghindari tembakan gas air mata Israel (Reuters/Ibraheem Abu Mustafa)
08 Juli 2018 02:10 WIB Chelin Indra Sushmita Internasional Share :

Solopos.com, TEL AVIV – Organisasi penggiat hak asasi manusia (HAM), Hamushim, menyebut pasukan pertahanan Israel (IDF) menjadikan warga Palestina sebagai kelinci percobaan. Mereka menjadikan aksi protes warga Palestina di Jalur Gaza beberapa waktu lalu sebagai ajang uji coba senjata baru. Adapun senjata yang diuji coba dalam kesempatan itu adalah senapan, drone, hingga bom pintar.

"Mereka sengaja menjadikan warga Palestina yang berdemo di Jalur Gaza sebagai kelinci percobaan. Mereka menjadikan serangan di Jalur Gaza sebagai ajang uji coba senjata baru yang hendak di kirim ke pasar internasional," demikian pernyataan Hamushim dalam laporannya seperti dilansir Russia Today, Kamis (5/7/2018).

Hamushim mengungkit konflik Israel-Palestina pada 2014 yang menewaskan sekitar 2.300 orang. Konflik tersebut membawa keuntungan besar bagi industri senjata Israel. Kala itu, Israel berhasil mejual beberapa senjata seperti pesawat drone Hermes 900 Kochav, peluru tank Hatzav, hingga bom pintar MPR500.

Kali ini, Hamushim berasumsi Israel tengah mempromosikan senjata terbaru, yakni drone penembak gas air mata model Matrice 600 dan Phantom 3. Drone yang dijuluki sea of tears itu didesain khusus bagi polisi perbatasan untuk membantu membubarkan pengunjuk rasa. Selain itu, ada juga Shoko Drones yang berfungsi menyiramkan cairan lengket berbau kepada demonstran Palestina.

Ada juga drone yang sengaja diterbangkan untuk mencegat layang-layang berisi bom molotov dari warga Palestina. Drone tersebut juga sering dipakai menyerang demonstran Palestina secara langsung. Israel juga tengah mengembangkan senapan khusus yang menyebabkan luka sedalam 15 sentimeter.

"Gaza telah menjadi ruang pamer bagi industri senjata milik Israel. Harga senjata keluaran Israel ini cukup mahal karena pelanggan percaya produk itu telah diuji coba dalam perang sungguhan," sambung laporan Hamushim.

Seperti diketahui, hubungan Israel dan Palestina semakin memanas seusai Presiden Donald Trump memindahkan Kedutaan Besar Amerika Serikat dari Tel Aviv ke Yerusalem. Selama ini, Kota Suci Yerusalem memang terus menjadi sengketa antara kedua negara tersebut. Warga Palestina merasa Yerusalem adalah wilayah mereka. Sementara Israel juga tidak mau kalah. Tapi, langkah kontroversial Donald Trump ini secara tidak langsung mengakui Yerusalem sebagai ibu kota negara Israel.

Tokopedia