Lapan: Suhu Dingin Tak Terkait Aphelion

Ilustrasi matahari (Mirror.co.uk)
06 Juli 2018 19:12 WIB Newswire Nasional Share :

Solopos.com, JAKARTA -- Beredar broadcast fenomena Aphelion yang akan terjadi Jumat (6/7/2018) malam. Aphelion atau fenomena di mana Bumi berada di titik terjauh Matahari lalu dikaitkan dengan suhu dingin yang melanda Indonesia akhir-akhir ini.

Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) memberi penjelasan tidak ada kaitan antara suhu dingin di beberapa wilayah di Indonesia dengan fenomena Aphelion. Sebagaimana diketahui, beberapa waktu belakangan ini wilayah di Indonesia terasa lebih dingin dari hari biasanya. Dikabarkan wilayah Bandung, perbatasan Wonosobo dan Banjarnegara serta pegunungan Dieng turun salju.

Kepala Lapan, Thomas Djamaluddin, tidak ada kaitan antara suhu dingin di beberapa wilayah di Indonesia dengan fenomena Aphelion. Thomas mengungkapkan fenomena Aphelion merupakan fenomena jarak Bumi terjauh pada bulan Juli, sedangkan Perihelion terjadi pada Januari.

"Itu siklus yang rutin terjadi, sedangkan suhu permukaan, itu disebabkan karena distribusi panas di permukaan Bumi," kata Thomas kepada Okezone.com, Jumat (6/7/2018).

Thomas menjelaskan, pada Juli, matahari berada di belahan utara, sehingga belahan selatan sedang musim dingin. Pada saat posisi matahari di utara, di selatan dingin, maka tekanan udara lebih besar di selatan.

Tiupan Angin

"Angin bertiup selatan ke utara. Pada saat kemarau ini, khususnya Jawa, angin bertiup dari Tenggara, Australia, sedang musim dingin. Sehingga, wilayah Jawa akan terasa lebih dingin dari rata-rata," terang Thomas.

Melihat pada data temperatur, pada saat kemarau ini, suhu memang relatif paling dingin. Efek pendinginan datang dari wilayah Australia. "Jadi, kondisi dingin pada saat ini, beberapa wilayah di Jawa, tidak ada kaitan dengan Aphelion," tuturnya.

Thomas mengatakan fenomena ini biasa terjadi setiap tahun. Seseorang bisa merasakan suhu dingin saat ini disebabkan karena dua faktor. Ketika musim hujan, di mana orang menganggapnya sebagai sesuatu yang wajar dan ketika kondisi kemarau.

Khususnya ketika kemarau yang relatif panas, tetapi ternyata suhu dingin karena angin bertiup dari selatan.

"Selama kemarau, suhu relatif lebih dingin, tetapi tentu saja, dipengaruhi kondisi awan. Siangnya masih terik panas, itu mungkin tidak terlalu terasa. Kalau siang agak mendung lebih terasa dingin," imbuhnya

Sumber : Okezone.com