Duet Prabowo-AHY di Pilpres 2019 Menguat, ke Mana PKS?

Jurkam nasional Parta Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), berorasi di Lapangan Kebonsari, Kabupaten Madiun, Kamis (21/6 - 2018). (Madiunpos.com/Abdul Jalil)
06 Juli 2018 14:59 WIB Jaffry Prabu Prakoso Nasional Share :

Solopos.com, JAKARTA -- Duet pemilihan presiden yang mengusung Prabowo Subianto dengan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) semakin kuat. Sinyal tersebut menguat setelah pertemuan Wakil Ketua Umum Partai Demokrat Syarif Hasan dengan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo di kediaman Prabowo di Jl Kertanegara, Jakarta, Kamis (5/7/2018).

Wakil Sekjen Partai Demokrat Andi Arief mengatakan kunjungan Syarif merupakan tindak lanjut pertemuan antara kedua putusan tersebut. "Kunjungan Syarif ke Kertanegara untuk mendengar langsung penjelasan Prabowo seperti yang sudah dikemukakan oleh utusan Prabowo sebelumnya karena menyangkut persoalan-persoalan penting situasi politik dan terutama menyangkut Pilpres," katanya melalui keterangan pers yang diterima Bisnis/JIBI, Jumat (6/7/2018).

Andi menjelaskan Syarif sudah mendengar langsung penjelasan Prabowo menyangkut skema koalisi Pilpres 2019. Secara prinsip komunikasi antara dua partai ini sangat positif sebagai pintu komunikasi mencari kesamaan-kesamaan meski belum ada kesepakatan bersama namun sudah ada gambaran bersama.

Andi menambahkan pembicaraan penting ini membahas kemungkinan Prabowo akan berpasangan dengan AHY di Pilpres 2019. Nantinya akan ada pembicaraan lanjutan untuk mematangkan dua pertemuan pembuka antara kedua partai ini.

"Diharapkan akan ada pertemuan puncak antara kedua ketum partai SBY dan Prabowo jika sudah ada kesepakatan bersama bentuk dan arah koalisi termasuk apakah AHY akan menjadi cawapres seperti yang dikemukakan Prabowo," tutupnya.

Lalu bagaimana nasib koalisi PKS dan Gerindra? Sebelumnya, PKS berupaya menampik kemungkinan calon selain kadernya -- termasuk Anies Baswedan -- menjadi calon wakil presiden (cawapres) pendamping Prabowo Subianto. Pasalnya, PKS telah mengusulkan sembilan nama sebagai cawapres pendamping Prabowo.

Saat itu, Ketua Bidang Kepemudaan DPP PKS yang juga Ketua Tim Pemenangan Anies-Sandi di Pilkada Jakarta 2017, Mardani Ali Sera, mengaku tidak rela jika Anies menjadi pendamping Prabowo. Namun dia juga tidak menutup kemungkinan lainnya. "Namun, anything can happen," kata Mardani 19 April 2018 lalu.

Sebelumnya, kader-kader PKS kerap diisukan bakal dipasangkan dengan Prabowo, termasuk Mardani Ali Sera sendiri. Namun, hasil survei Cyrus Network menyatakan 15,3% publik memilih Anies Baswedan sebagai pasangan paling cocok untuk disandingkan dengan Prabowo Subianto.

Hal tersebut mengundang pertanyaan yang dijawab oleh Mardani. "PKS tidak rela Anies jadi pendamping Prabowo," ujarnya.

Mardani juga mengatakan PKS 90% akan berkoalisi dengan Gerindra untuk mendukung Prabowo Subianto sebagai presiden. "Meskipun 10% sisanya dapat merubah situasi," lanjutnya.