Pelajaran Cinta Bumi Manusia

A Widarto (Istimewa)
05 Juli 2018 02:30 WIB A. Windarto (Univ Sanata Dharma) Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (30/6/2018). Esai ini karya A. Windarto, peneliti di Lembaga Studi Realino Sanata Dharma Yogyakarta. Alamat e-mail penulis adalah winddarto@yahoo.com.

Solopos.com, SOLO--Esai A.J. Susmana di Harian Solopos edisi 9 Juni 2018 berjudul Dilema Imajinasi Novel (dan) Sejarah sangat menarik. Esai itu menyinggung ekranisasi novel Bumi Manusia yang ditulis Pramoedya Ananta Toer.

Masalahnya, proses peralihan wacana dari novel ke media layar lebar yang dikerjakan oleh sutradara Hanung Bramantyo terkesan hanya mementingkan kisah cinta antara Minke dan Annelies.

Sesungguhnya kisah cinta yang tersurat dalam novel itu mengguratkan bukan sekadar romansa sepasang kekasih, tetapi adalah ”cinta” dalam periode gerakan nasionalisme awal pada abad ke-20.

Cinta yang dimaksud di situ bukan semata-mata terjemahan dari ungkapan ”I love you” yang padanan bahasa Indonesianya ”aku cinta padamu”, namun cinta itu merupakan impian dan juga pengalaman antara laki-laki dan perempuan muda yang awalnya dilarang berhubungan karena berasal dari golongan yang tidak sama, seperti Minke yang kaum pribumi dan Annelies yang bangsa Eropa/Belanda.

Perbedaan kelas sosial di antara keduanya amat tidak memungkinkan untuk menjalin percintaan karena dipandang dapat menggerogoti wibawa orang tua. Itulah cinta yang pada masa lalu terikat dengan gagasan feodal dan tidak dapat diganggu-gugat oleh siapa pun, termasuk oleh bahasa cinta sekalipun.

Dalam konteks ini, James T. Siegel (2009) menunjukkan bahwa impian dan pengalaman cinta pada era nasionalisme awal itu telah menghasilkan kuasa berbahasa yang tidak lagi peduli dengan wibawa kaum tua, melainkan bersumber pada modernitas sebagaimana dipahami dan dialami oleh kaum muda. Modernitas yang sedang berbiak di Hindia Belanda itu seakan-akan memberi kekuatan baru pada bahasa cinta kaum muda.

Kekuataan yang bukan sekadar retorika tersebut telah membuka mata dan telinga kaum muda untuk berbicara atas nama kepentingan diri mereka sendiri. Dengan kata lain, mereka berbahasa cinta dengan orang-orang yang tidak saling mencerminkan dan dengan demikian tidak saling menyebabkan rasa rikuh.

Jadi, tanpa perlu memandang kelas sosial, agama, bahkan ras, mereka tanpa kesulitan berbicara bahasa cinta sesuai dengan pengalaman pada saat itu. Bukan kebetulan percintaan Minke dan Annelies tidak serta-merta bergaya kebarat-baratan yang kerap kali dianggap liar, tanpa batas, dan tak bermoral.

Bagaimana pun Minke tetap dipandang tidak setara dengan Annelies yang adalah indo meski memiliki forum privilegiatum, yaitu hak istimewa sebagai anak bangsawan Jawa. Kendati demikian, cinta Minke dan Annelies yang didukung ibunya, Nyai Ontosoroh, telah membuahkan imajinasi perlawanan terhadap sistem kelas sosial yang dipraktikkan pada era kolonial Belanda.

Sebuah perlawanan yang dalam sejarah mampu menghasilkan gerakan nasionalisme, termasuk di Indonesia. Di sinilah arti penting novel (dan) sejarah, khususnya Bumi Manusia, yang bertujuan memberi imajinasi tentang perjuangan untuk menjadi bangsa yang merdeka dan berdaulat.

Bangsa yang sebelumnya hanya menjadi koloni dengan nama Hindia Belanda pada saat dan tempat yang tepat mampu dibayangkan sebagai Indonesia. Pembayangan itu digaungkan terus-menerus melalui media cetak modern, seperti surat kabar, novel, atau majalah, hingga mampu mencetuskan revolusi 17 Agustus 1945 sebagai pintu menuju kemerdekaan dan kedaulatan sebuah (negara) bangsa bernama Republik Indonesia.

 

Nasionalisme Baru

Jadi, tanpa revolusi yang dimotori oleh para pemuda agak sulit untuk membayangkan Republik Indonesia yang telah dipersiapkan dengan matang selama periode nasionalisme. Revolusi yang berakar pada anarkisme dari imajinasi para pembaca novel, surat kabar, atau majalah pada era pergerakan nasional itu telah menjadi bahan bakar untuk lepas dari penjajahan atau kolonialisme.

Tak mengherankan novel Bumi Manusia yang serangkai dengan novel Anak Semua Bangsa, Jejak langkah, dan Rumah Kaca selama masa pembuangan Pramoedya di Pulau Buru (Tetralogi Buru) mampu memberi imajinasi bagi para pemuda pada era Orde Baru. Imajinasi yang pada pertengahan Mei 1998 berbuah gerakan atau aksi reformasi dengan ditandai mundurnya Soeharto dari jabatan sebagai Presiden Republik Indonesia selama lebih 32 tahun.

Melalui reformasi 1998 ini cerita dan cita-cita tentang Indonesia yang bebas dari militerisme Orde Baru dapat diwujudkan. Militerisme yang telah membuat Pramoedya dipenjara, bahkan diasingkan, hingga novel-novelnya pun, termasuk Bumi Manusia, dilarang untuk dibaca dan disebarluaskan. Mengapa demikian?

Tentu bukan semata-mata karena Pramoedya telah dituduh sebagai bagian dari organisasi terlarang, yaitu Partai Komunis Indonesia (PKI), namun juga lantaran novel-novelnya mampu membuat para pembacanya, khususnya kalangan pemuda, mampu bersaksi dan beraksi bahwa penjajahan di Indonesia masih terus berlangsung meski sudah puluhan tahun diproklamasikan sebagai negara (dan) bangsa yang merdeka.

Itu artinya cerita dan cita-cita kemerdekaan Indonesia yang telah ditulis sebagai sejarah perjuangan nasional sekadar menjadi mitos yang dibungkus dengan kisah-kisah sukses pembangunan pada era Orde Baru.

Itulah mengapa novel-novel Pramoedya yang mengisahkan historiografi Indonesia dalam bentuk sastrawi mampu menyihir para pembaca muda untuk menggaungkan semangat dan pandangan baru bagi nasionalisme yang revolusioner.

Nasionalisme baru dari novel (dan) sejarah memang sudah terbukti ampuh untuk memberi imajinasi yang liar, nakal, bahkan anarkis bagi para pejuang revolusi, terutama di Asia Tenggara. Jose Rizal, Isabele de los Reyes, dan Marione Ponce adalah nama-nama sastrawan besar di Filipinia yang dikenal juga sebagai pahlawan dalam perjuangan nasionalisme di sana.

Sayangnya, terutama Jose Rizal, pada akhirnya dieksekusi oleh regu penembak pada 30 Desember 1896. Syukurlah, Pramoedya masih dapat menghirup udara bebas sepulang dari pembuangan, bahkan masih pula menerbitkan novel-novelnya yang dikerjakan dengan penuh cinta dalam kesunyian sebagai seorang yang dibisukan. Bukankah cinta seperti itu yang layak dipelajari dari Bumi Manusia?