Wapres JK Sempat Menolak Gelar Doktor Honoris Causa dari UMI, Ini Alasannya

Wapres Jusuf Kalla (tengah) didampingi Presiden Konferensi Agama dan Perdamaian se-Asia Din Syamsudin (kiri) di Gedung Merdeka Bandung, Jawa Barat, Rabu (3/6 - 2015). (Bisnis/Rachman)
23 Juni 2018 16:00 WIB Feni Freycinetia Fitriani Nasional Share :

Solopos.com, MAKASSAR -- Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) mengucapkan terima kasih atas gelar doktor kehormatan atau doctor honoris causa yang diberikan Universitas Muslim Indonesia (UMI), Makassar, Sulawesi Selatan. Padahal, awalnya pria kelahiran Bone, 15 Mei 1942 tersebut enggan menerima gelar bidang Pemikiran Ekonomi dan Politik Islam itu.

"Awalnya, saya menolak [terima gelar doktor kehormatan] karena saya merasa orang dalam di UMI," katanya di Makassar, Sabtu (23/6/2018).

Dia mengungkapkan dirinya pernah mengajar atau menjadi asisten dosen di UMI. Uniknya, kala itu dia masih berstatus sebagai mahasiswa.

JK menuturkan salah satu kenangan yang tak bisa dilupakan saat mengajar trio mahasiswa yang membangun UMI, yaitu Prof. Rahman Basalamah, Prof Ramli, dan Mochtar Noorjaya. "Trio mahasiswa ini lah yang membangun UMI di kemudian hari. Keberadaan mereka sangat berpengaruh pada perkembangan kampus," lanjutnya.

Bukan itu saja, JK juga mengaku mendapat hadiah yang tak terkira saat menjadi asisten dosen di UMI. Sang dosen itu ternyata kepincut dengan salah satu mahasiswa bernama Mufida Miad Saat. Pertemuan tersebut ternyata mengantarkan keduanya menjadi sepasang suami-istri hingga saat ini.

"Hubungan saya dengan UMI ini luar biasa. Di samping mengajar dapat pula mahasiswa. Ini lebih penting dibanding yang lainnya, menentukan hidup saya," katanya sambil tertawa.

Penganugerahan gelar doktor HC untuk JK itu dilaksanakan berbarengan dengan perayaan Milad UMI yang Ke-64. Dalam acara tersebut hadir pula Pejabat Gubernur Sulawesi Selatan Soni Sumarsono.