Dapat Gelar Doktor HC dari UMI Makassar, JK Kini Punya Selusin Gelar

Anwar Ibrahim dan Wapres Jusuf Kalla (JK). (Istimewa)
23 Juni 2018 15:38 WIB Feni Freycinetia Fitriani Nasional Share :

Solopos.com, JAKARTA -- Bertepatan dengan HUT Ke-64 Universitas Muslim Indonesia (UMI), akademisi perguruan tinggi swasta tersebut menganugerahkan gelar doktor kehormatan atau doctor honoris causa kepada Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK).

Gelar tersebut diberikan langsung oleh Rektor UMI Masrurah Mokhtar di kampus UMI, Makassar, Sulawesi Selatan. Pejabat Gubernur Sulawesi Selatan Soni Sumarsono mengatakan pemberian dokter kehormatan yang berikan ini bukanlah pertama bagi Jusuf Kalla.

Tokopedia

"Ini merupakan Gelar Doktor Honoris Causa ke-12 buat Pak JK," katanya di Makassar, Sabtu (23/6/2018).

Wapres JK mendapat predikat penerima Gelar Doktor Kehormatan terbanyak kedua. Dia mengatakan posisi pertama ditorehkan oleh Presiden Pertama RI Soekarno dengan total 25 gelar.

Dirjen Otonomi Daerah Kemendagri tersebut menilai gelar Bidang Pemikiran Ekonomi dan Politik Islam itu diberikan lantaran sosok JK dinilai mampu mengaktualisasi Alquran dan sunnah Nabi Muhammad SAW dalam kehidupan nyata. "Beliau juga terbukti mengembangkan program nyata bagi Sulawesi Selatan. Peningkatan kualitas pum dilakukan terus-menerus," jelasnya.

JK setidaknya telah menerima sebelumnya gelar doktor honoris causa. Sebelumnya, dia telah menerima gelar honoris causa dari Soka University of Tokyo pada 2009, Universitas Malaya pada 2007, Rajamangala University of Technology Isan di Pathumthani Thailand pada 2017, serta gelar doktor dari berbagai perguruan tinggi dalam negeri.

Di kesempatan yang sama, JK mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada UMI atas predikat doktor kehormatan yang diterimanya. "Saya ucapkan terima kasih kepada UMI. Seperti ayat suci Al Quran yang dilantunkan tadi isinya jika kamu bersyukur atas apa yang diperoleh, maka Allah akan menambahkannya," katanya.

Dalam orasi ilmiah yang berjudul Aktualisasi Prinsip Islam Dalam Penguatan Semangat Kebangsaan, JK mengungkapkan prinsip Islam memainkan peran yang sangat penting dalam pembentukan semangat kebangsaan di Indonesia.

Kenyataan ini dapat dilihat dalam sejarah dan dinamika umat Muslim Indonesia yang menunjukkan Islam menjadi faktor pemersatu di antara begitu banyak suku bangsa yang berbeda adat, tradisi, dan sosial-budaya.

“Berkat Islam, orang-orang dari suku Aceh misalnya merasa dekat dan bersahabat dengan orang-orang dari suku Bugis atau Makassar, dan seterusnya antar suku-suku lain di Nusantara,” ungkap Jusuf Kalla.

Dia menambahkan bahwa sebagai faktor pemersatu, Islam mendorong tumbuh dan menguatnya ukhuwah Islamiyah (persaudaraan/solidaritas sesama Muslim) di antara berbagai suku dan etnis yang berbeda. Ukhuwah Islamiyah, lanjutnya, mendorong tumbuhnya ukhuwah wathaniyah (persaudaraan/ solidaritas sesama warga tanah air) ketika kolonialisme Belanda datang menjajah Kepulauan Nusantara.

“Kita dapat melihat pertumbuhan ukhuwah wathaniyah yang menjadi dasar semangat kebangsaan tumbuh, berkembang dan menguat dari ukhuwah Islamiyah,” terangnya.