Wong Solo Cekek Memaknai Sriwedari

Agus Dody Sugiartoto (Istimewa)
16 Juni 2018 23:09 WIB Agus Dody Sugiartoto (Lembaga Masyarakat Indonesia Hijau) Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (6/6/2018). Esai ini karya Agus Dody Sugiartoto, Ketua Lembaga Masyarakat Indonesia Hijau. Alamat e-mail penulis adalah agusdody@yahoo.com.

Solopos.com, SOLO--Sambil menunggu saat berbuka puasa, beberapa hari lalu, saya mampir di area Taman Sriwedari. Mobil saya parkir di dekat segaran dan saya kaget ketika mengetahui eks gedung bioskop sudah tidak ada.

Dulu itu Gedung Bioskop Sriwedari lalu pada 1980-an berubah menjadi Solo Theatre. Eks gedung bioskop itu telah hilang, rata dengan tanah. Pemandangannya persis lapangan sepak bola.

Ada perasaan yang hilang. Perasaan saya terasa kosong. Lalu saya tengok segaran. Kolam luas itu kosong, tanpa air. Di sana sini tumbuh rumput liar. Merusak pemandangan. Taman Sriwedari yang dibangun Raja Keraton Solo, Paku Buwono X, merupakan ikon Kota Solo.

Taman yang pada masa kecil saya merupakan tempat hiburan yang paling lengkap. Di sebelah barat, dibelakang tembok Stadion Sriwedari ada kebon raja. Di kebon raja terdapat berbagai binatang seperti harimau, lutung, kijang, kethek, beruang, dan gajah. Yang paling dikenal adalah gajah yang diberi nama Kyai Anggoro.

Lalu ada gedung wayang orang. Setiap malam Minggu berjubel ratusan orang menonton wayang orang. Penonton tidak hanya wong Solo, tetapi juga dari kabupaten sekitarnya. Menonton bioskop di samping gedung wayang orang menjadi kenangan saya yang melekat hingga sekarang.

Ketika melihat gedung bioskop rata dengan tanah, ada sesuatu yang ikut hilang dalam diri saya. Kenangan yang tidak terlupakan. Selain menonton wayang, menonton film di bioskop, atau ke kebon raja, pengunjung dapat naik perahu di segaran. Air segaran kala itu jernih. Melimpah.

Ingatan tentang Taman Sriwedari melekat pada jati diri mayoritas wong Solo cekek seperti saya. Wong Solo yang simbah buyut, simbah, dan orang tuanya asli Solo. Taman Sriwedari itu fungsinya seperti mal zaman sekarang. Tempat hiburan yang komplet.

Bayangkan saja, seharian pengunjung bisa menonton bioskop ”matinee”pada pagi hari. Selesai menonton bioskop disambung ke gedung wayang orang. Selesai menonton wayang orang, pengunjung dapat cuci mata di kebon raja.

Untuk menghilangkan rasa lelah bisa istirahat, leyeh-leyeh, menikmati musik keroncong di segaran Taman Sriwedari atau menceburkan diri dan berenang di segaran itu. Kala itu saya jarang berenang di segaran karena waktu itu segaran ”dikuasai” geng cross boys, geng anak ”nakal” yang waktu itu marak di Kota Solo.

Pada 1980-an citra Taman Sriwedari pelan-pelan mulai memudar ketika konsep bisnis diperkenalkan. Taman Sriwedari berubah. Bermula dari segaran yang menjadi lokasi Rumah Makan Boga. Separuh segaran hilang karena pembangunan rumah makan itu.

Kebon raja dialihfungsikan menjadi taman hiburan rakyat (THR). Kebon raja berubah menjadi taman main roller coaster mini, bom-bom car, komidi putar, dan mainan lain yang menjadi simbol kemajuan pembangunan. Kebon raja dipindahkan ke Taman Satwa Taru Jurug.

Itu awal kepunahan Taman Sriwedari. Era 1970-an hingga 1980-an merupakan era ketika bangsa Indonesia demam pembangunan.

Zona Bisnis

Pidato-pidato Presiden Soeharto kala itu selalu mengajak bangsa Indonesia ”tinggal landas”. Konsep ”tinggal landas” tersebut seakan-akan menyihir masyarakat agar merelakan Taman Sriwedari berganti menjadi zona bisnis.

Demi pembangunan menuju ”tinggal landas”, hilangnya Taman Sriwedari, kebon raja, segaran, dan sebagainya tidak dihiraukan. Konsep pembangunan dan pengelolaan Taman Sriwedari sekarang tampaknya tidak menggunakan konsep yang jelas.

Konsep jelas itu adalah tentang apa dan bagaimana seharusnya Taman Sriwedari dikelola, baik pada masa lalu, masa kini, dan masa depan.

Kita kini dihadapkan pada perkembangan zaman yang tidak terkendali. Bisnis dalam konteks pembangunan juga sangat cepat berubah.

Saya kira konsep perubahan zaman ini yang tidak dipahami oleh seluruh elemen masarakat Kota Solo sehingga ketika Taman Sriwedari hilang tidak ada yang mampu menyodorkan konsep yang pas dengan karakter Taman Sriwedari itu sendiri.

Masyarakat Solo dihadapkan pada pilihan yang tidak mudah. Cara yang dianggap paling mudah, praktis, dan politis adalah membangun masjid di kawasan itu. Itulah rencana Pemerintah Kota Solo yang saya dengar. Mengapa masjid?

Pembangunan masjid paling mudah dilakukan. Mudah ketika pemerintah tidak mau bersusah payah. Tidak mau memikirkan konsep alternatif pembangunan Taman Sriwedari yang telanjur hancur.

Mudah karena tidak perlu bersusah payah menerjemahkan konsep yang tepat dalam pemanfaatan Taman Sriwedari, untuk masa lalu, masa kini, dan masa depan, seperti yang disarankan Presiden Joko Widodo.

Membangun masjid jadi pilihan praktis, barangkali, karena pemerintah tidak membutuhkan perencanaan yang rumit. Konsep ini juga politis karena itulah tren politik yang menjadi gejala umum di Indonesia.

Untuk menjadi penguasa atau orang yang ingin berkuasa di negeri ini jamak selalu melakukan barter politik dengan mayoritas masyarakat pemilih. Mayoritas masyarakat sekarang adalah umat Islam. Saya dukung itu, tetapi saya—sebagai wong Solo cekek--juga harus mendapatkan sesuatu.

Tentu pembangunan masjid menyenangkan umat Islam di Kota Solo. Ini akan menjadi kebanggaan tersendiri, tetapi kita harus jujur bahwa pembangunan masjid menimbulkan pro dan kontra. Ada yang setuju dan ada yang menolak.

Penolakan ada yang dilakukan secara vokal, seperti yang dilakukan kalangan pemerhati budaya, tetapi banyak yang dilakukan secara diam-diam. Istilah wong Jawa, isane mung nggrundhel. Sikap yang sering dikatakan sebagai voice of the voiceless.

Bagi sebagian warga Solo, Taman Sriwedari bukan hanya tempat untuk rekreasi atau wisata, tetapi menjadi tempat interaksi berbagai kalangan. Tempat rekreasi yang tidak memandang golongan, agama, ras, kelompok, atau komunitas tertentu.

Istilah kerennya adalah melting pot. Taman Sriwedari adalah peninggalan budaya adiluhung  Keraton Solo.  Suka atau tidak suka, Taman Sriwedari adalah warisan kaum priayi keraton. Bagi umat Islam di Kota Solo, pembangunan masjid tentu kebanggan tersendiri.

Apalagi jika masjid yang dibangun bukan masjid yang cepethe, tetapi masjid yang megah, mampu menampung ribuan orang. Meskipun demikian, ada sebagian warga yang mencurigai pembangunan masjid merupakan barter politik.

Sekarang bangunan-bangunan yang menjadi situs peninggalan Taman Sriwedari sudah tidak ada lagi. Tinggal bangunan gedung wayang orang,  pendapa joglo, dan secuil  patung Gatotkaca  di halaman depan Taman Sriwedari. Selain itu sudah lenyap tak berbekas.

Sebagai gantinya Pemerintah kota Solo akan membangun masjid. Konon masjid megah, yang mampu menampung ribuan orang. Apakah pembangunan masjid tersebut tidak menimbulkan kecemburan umat lain?

Apakah tidak menimbulkan iri hati kelompok lain? Apakah itu bukan menaman bibit konflik yang akan menjadi bom waktu pada kemudian hari?  

Semua Tempat Ibadah

Jangan sampai perebutan ruang publik Taman Sriwedari menjadi entry point bagi perpecahan sosial di Kota Solo. Itu yang seharusnya menjadi pemikiran kita bersama. Sebagai wong Solo cekek saya hanya bisa ngudarasa. Mengusulkan.

Apakah tidak lebih baik apabila di Taman Sriwedari tidak hanya dibangun masjid, akan tetapi juga tempat  ibadah semua agama yang ada di Indonesia?  Tujuannya sebagai miniatur keharmonisan antarumat beragama. 

Bukankah itu lebih indah? Lebih tepa slira dan menjaga satu sama lain? Dengan demikian, Kota Solo layak dijadikan contoh kedamaian, keselarasan, dan keharmonisan hidup antarumat beragama di Indonesia.

Saya kira pemikiran ini lebih layak dipertimbangkan.  Saya tidak bisa membayangkan jika di Taman Sriwedari dibangun  masjid yang indah, megah, tetapi berdampingan dengan gedung wayang orang dan pendapa joglo.

Taman Sriwedari  dengan gedung wayang orang, pendapa joglo, kios-kios, segaran, dan kebon raja sejak dulu merupakan ruang publik.  Ruang terbuka berbagai kalangan. Ruang melting pot. Jika pembangunan hanya memprioritaskan satu umat, apakah tidak akan menimbulkan masalah sosial pada kemudian hari?

Ibarat gamelan dicampur dengan musik jazz akan melahirkan alunan yang harmonis dan selaras, tetapi eksperimen mencampurkan  gamelan wayang orang dengan lantunan ayat-ayat suci Alquran akan terasa sumbang. Kurang pas. Satu sama lain akan merasa terganggu. Keniscayaannya, salah satu harus tersingkir atau menyingkirkan diri.