Kehidupan Jakim yang Terungkap Setelah Terciduk Densus di Blulukan Karanganyar

Rumah di Serangan 1/2 Blulukan, Colomadu, Karanganyar, yang digerebek polisi, Kamis (14/6 - 2018). (Solopos / Hanifah Kusumastuti)
15 Juni 2018 00:20 WIB Hanifah Kusumastuti/ Adib Muttaqin Asfar Nasional Share :

Solopos.com, SOLO -- Rohmadi, pemilik rumah di Serangan RT 001/ RW 002 Blulukan, Colomadu, Karanganyar, yang digerebek Densus 88 Antiteror, Kamis (14/6/2018) malam, dikenal baik oleh warga sekitar. Namun tidak demikian dengan Jakim atau Zaim, menantunya yang tertutup dan nyaris tak jelas kesehariannya.

Ari Tetuko, 34, warga kampung tersebut, menuturkan Rohmadi adalah warga asli Blulukan. Sedangkan Jakim, 40, adalah menantu yang ikut tinggal di rumahnya sejak menikah. Jakim jarang dikenal hingga malam ini ditangkap oleh polisi.

Menurut Ari, Jakim jarang berbaur dengan masyarakat setempat. Warga menuturkan dia menikah dengan putri Rohmadi setelah dia keluar dari tahanan. Namun, hal ini belum terkonfirmasi oleh kepolisian.

Hal serupa diungkapkan Edi Purnomo, warga Gawanan RT 001/RW 008 Colomadu (wilayah yang berbatasan dengan Blulukan). "Pak Rohmadi orangnya baik, biasa-biasa saja. Menantunya berasal dari wilayah Jawa Barat," katanya.

Sehari-hari, aktivitas Rohmadi juga sederhana dengan beternak kambing. Rumah Rohmadi juga sederhana dengan dinding tembok bata yang belum diplester. Di pintu depan rumah, tertempel beberapa stiker. Di antaranya bertuliskan "Pendukung Penerapan Syariat Islam", "Indonesia Damai Tanpa JIL", dan "Jangan Lupakan Saudra Muslim Kita di Suriah".

“Menantunya Pak Rohmadi [Jakim] tidak selalu di rumah, kadang pergi semingguan, kembali lagi, pulang-pergi, pulang-pergi," tutur Agus Suharyono, warga Gawanan.

Penggeledehan oleh Tim Densus 88 pun mengungkap sedikit informasi tentang Jakim. Informasi yang diperoleh dari sumber Solopos.com menyebutkan setelah penggerebekan tersebut, polisi dikabarkan menyita sejumlah barang dari rumah tersebut untuk keperluan penyelidikan. Dari foto yang diperoleh Solopos.com, benda-benda tersebut antara lain pistol (belum jelas diketahui senjata api atau air gun), sejumlah buku, dan topi hitam.

Buku-buku yang disita terkait seruan jihad, thogut, dan demokrasi. Di antaranya berjudul Khilafah Tiga Umat, Seruan Tauhid, Ya Memang Mereka Thoghut, Know Your Enemy, dan Mewaspadai Penyimpangan Murji'ah. Hingga berita ini ditulis, belum ada keterangan dan konfirmasi dari kepolisian tentang operasi ini, apakah terkait dengan terorisme atau kasus lain, termasuk tentang informasi yang dihimpun Solopos.com tersebut.