Zakat untuk Siswa Miskin

Hakiman (Istimewa)
14 Juni 2018 18:15 WIB Hakiman (IAIN Solo) Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (12/6/2018). Esai ini karya Hakiman, dosen di Fakultas Ilmu Tarbiah dan Keguruan Institut Agama Islam Negeri Surakarta. Alamat e-mail penulis adalah  hakiman.iman@gmail.com.

Solopos.com, SOLO--Ramadan disebut juga dengan syahru al-tarbiyyah (bulan pendidikan), bulan untuk mendidik  manusia dari berbagai aspek. Ramadan mendidik manusia menjadi makhluk dengan kepekaan sosial tinggi.

Ramadan mendidik manusia senantiasa mempunyai rasa peduli terhadap sesama, terutama yang sampai saat ini masih memerlukan uluran tangan.

Kita jadikan bulan ini sebagai bulan ta’awun  (tolong menolong) karena di tengah masyarakat yang hedonis, konsumtif, dan serbakecukupan masih banyak saudara kita yang hidup jauh dari layak.

Pada Ramadan ini seluruh umat Islam selain diwajibkan berpuasa juga diwajibkan mengeluarkan zakat sebagai penyempurna ibadah puasa, yaitu dengan mengeluarkan zakat fitrah, berupa makanan pokok  seberat 2,5 kilogram.

Selain zakat fitrah, ada juga zakat mal (harta) dan zakat kasab (penghasilan) yang keduanya dikeluarkan kala sudah sampai pada nisab (ketentuan). Islam telah mewajibkan zakat kepada umatnya yang dalam perintah itu mengandung banyak hikmah.

Kata ”zakat” berasal dari kata tazkiyatun yang berarti penyucian, tetapi zakat tidak sekadar bertujuan untuk menyucikan diri. Zakat juga bertujuan menumbuhkan kasih sayang.

Zakat dapat dijadikan sebagai kekuatan ekonomi untuk menyejahterakan dan menyatukan umat dalam bingkai Islam yang berdimensi sosial. Di lingkungan pendidikan saat ini masih banyak siswa di banyak sekolahan yang keadaannya benar-benar membutuhkan bantuan.

Keinginan mereka untuk bersekolah sangat besar, tetapi keadaan keluarga sangat kurang dalam segi finansial. Kondisi seperti ini menuntut kita untuk peduli supaya mereka mendapatkan pendidikan yang layak.

Berdasarkan data Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan saat ini ada 19,7 juta siswa dari keluarga miskin di Indonesia. Mereka bersekolah di sekolah dasar (SD) sampai sekolah menengah atas (SMA) atau yang sederajat.

Di Provinsi Jawa Tengah ada sekitar 81.231 siswa miskin. Pemerintah melaui Program Indonesia Pintar (PIP) dengan pemberian Kartu Indonesia Pintar (KIP) diharapkan mampu membantu siswa miskin yang kesulitan mengakses pendidikan.

Program pemerintah itu pada implementasinya masih belum merata karena penerima KIP baru sekitar 18,3 juta siswa. Data yang masuk ke Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan masih terus diperbarui seturut validasi dari setiap sekolahan.

Kondisi ini menunjukan bahwa masih banyak siswa miskin yang membutuhkan bantuan selain bantuan pemerintah. Bantuan-bantuan yang diberikan pemerintah masih sangat terbatas karena pada  realitasnya  siswa masih tetap mengeluarkan uang yang lumayan besar, apalagi mereka yang bersekolah di swasta.

Masih banyak siswa yang menunggak membayar sumbangan penyelenggaraan pendidikan (SPP), tak kuat membayar buku paket atau buku lembar kerja siswa (LKS), dan tak kuat membayar biaya kegiatan sekolah lainnya. Bantuan pemerintah yang telah diterima jumlahnya sangat terbatas.

Dana bantuan pemerintah yang didistribusikan masih jauh lebih sedikit dibandingkan dengan jumlah siswa miskin yang membutuhkan. Dalam rangka empati kepada siswa miskin,  zakat bisa menjadi sarana.

Barang dan uang hanyalah simbol, tetapi keikhlasan dan tanggung jawab kita sebagai makhluk sosial mengajarkan bahwa berbuat kebaikan itu lebih penting. Menebar kebaikan kepada sesama pada Ramadhan akan membuat ibadah kian penuh makna dan hikmah.

Dimensi ritual puasa dan zakat sejatinya lebih bermakna sosial serta menuntut manusia senantiasa hidup sederhana, peduli, dan berbagi. Siswa miskin menempati urutan kedua dari delapan golongan orang yang berhak menerima zakat (mustahik).

Tanggung Jawab Pendidikan

Mereka berhak untuk mendapatkan zakat dari siapa pun seperti teman, guru, serta orang tua yang mampu di sekolahan tempat mereka bersekolah. Pengelola sekolah dapat menjadi pengelola zakat yang bersumber dari warga sekolahan yang nantinya disalurkan kepada siswa miskin di sekolahan tersebut.

Tanggung jawab urusan pendidikan bukan hanya jadi beban pemerintah, tetapi juga menjadi tanggung jawab semua elemen masyarakat. Penyaluran zakat yang tepat dapat menjadi solusi bagi permasalahan pendidikan di lingkungan sekolah.

Setiap sekolahan dapat menjadi pelopor pengelolaan zakat. Selain menjadi wahana pembelajaran siswa dalam manajemen zakat juga menjadi sarana pembelajaran siswa untuk peduli kepada sesama.

Sekolahan tidak perlu terus-menerus menunggu uluran tangan pemerintah kalau sekolahan dapat mandiri dalam segala hal. Sekolahan yang mempunyai pusat bisnis, misalnya, dapat menyalurkan zakat kepada siswa miskin di lingkungan sekolahan itu dengan catatan pendapatan sudah mencapai nisab (ketentuan).

Guru-guru berstatus pegeawi negeri, apalagi yang sudah mendapat tunjangan profesi, yang pendapatannya melebihi kebutuhan, dapat mengeluarkan zakat profesi. Memang masih ada perselisihan pendapat ihwal zakat profesi atau khilafiyah di kalangan ulama, tetapi saya melihat banyak manfaat dari zakat profesi ini khususnya untuk penyelenggaraan  pendidikan.

Zakat profesi guru di instansi masing-masing  merupakan harapan yang baik bagi para mustahik (siswa miskin) di sekolahan tersebut. Seandainya di sekolahan tersebut ada sekitar 50 guru berstatus pegawai negeri yang telah mendapat tunjangan profesi, bisa dibayangkan berapa jumlah siswa miskin yang terbantu membiayai pendidikan mereka.

Dengan mengeluarkan zakat terjadi proses at tarbiyah (pendidikan) yang mengajarkan kesalehan sosial. Bila ini dihidupkan di lingkungan sekolahan akan memberikan efek positif pada siswa dan guru yang kelak kemudian hari akan dijadikan sebagai teladan dalam kehidupan.

Penyaluran zakat akan lebih terarah dan harapannya tidak ditemukan lagi siswa yang belum membayar tunggakan uang sekolah atau putus sekolah karena tekanan ekonomi ketika semua orang peduli akan hal ini.

Di antara makna Ramadan adalah ketika orang dapat mengendalikan nafsu duniawi, hewani, dan mendidik diri sehingga memiliki kepekaan sosial dan kepedulian sosial yang tinggi.

 

Kolom 7 hours ago

Sungkem Orang Tua