Tantangan Luthier Lokal dalam Industri 4.0

Sulistiono (Istimewa)
13 Juni 2018 02:00 WIB Sulistiono (Gitaris Virtuoso) Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis (7/6/2018). Esai ini karya Sulistiono, mahasiswa Magister Teknik Industri Universitas Sebelas Maret, sound engineer sekaligus gitaris virtuoso. Alamat e-mail penulis adalah tyonoslazh@gmail.com.

Solopos.com, SOLO--Tantangan dalam menghadapi era revolusi industri 4.0 sudah di depan mata. Banyak perguruan tinggi menyiapkan lulusan dengan kompetensi khusus agar siap menghadapi revolusi industri tersebut.

Perusahaan skala besar maupun kecil saat ini berbenah untuk mengikuti dan menyesuaikan perkembangan revolusi industri 4.0. Era revolusi industri 1.0 bercirikan tumbuhnya mekanisasi dan energi berbasis uap dan air.

Revolusi indutri 2.0 bercirikan perkembangan energi listrik dan produk massal. Revolusi industri 3.0 bercirikan tumbuhnya industri berbasis elektronika, teknologi informasi, serta otomatisasi.

Revolusi industri 4.0 adalah transformasi komprehensif dari keseluruhan aspek produksi dalam industri melalui penggabungan teknologi digital dan Internet dengan industri konvensional.

Bisa disimpulkan ada beberapa teknologi yang menjadi penopang industri 4.0 dan teknologi tersebut adalah cyber-physical system, Internet dan jaringan, data and service, serta teknologi manufaktur.

Pemerintah telah mendeklarasikan Making Indonesia 4.0, yaitu  road map berupa strategi untuk menghadapi dampak revolusi industri 4.0 terhadap industri manufaktur nasional.

Pemerintah akan fokus pada lima sektor manufaktur, yaitu industri makanan dan minuman, tekstil dan produk tekstil, otomotif, kimia, serta industri elektronik. Pemerintah mendorong usaha kecil dan menengah (UKM) masuk dalam kekuatan produk domestik bruto (PDB) Indonesia.

Ini adalah kesempatan bagi industri kreatif, termasuk luthier lokal atau pengrajin gitar lokal, untuk bisa naik level dan bersaing di pangsa pasar global.

Tantangan bagi luthier lokal adalah teknologi manufaktur yang kurang memadai serta inovasi perkembangan gitar dunia saat ini yang sudah mengadopsi konsep gitar ergonomis.

Saat ini luthier lokal belum berani mengekplorasi dan mencoba konsep baru dan masih berkutat pada gitar konvensional pada umumnya. Ini menjadi kelemahan bagi luthier lokal selain keterbatasan teknologi.

Untuk membuat gitar dengan trademark sendiri saja masih ragu, khawatir  tidak bisa bersaing dengan gitar konvensional lainnya, sehingga mereka mengalami kerugian dalam berproduksi.

Teknologi Internet dan jaringan mereka sudah kuasai, namun untuk memulai sesuatu yang baru sangatlah sulit. Mereka terbiasa dengan gitar konvensional yang punya nilai jual di pasaran.

Tanpa disadari gitar dengan konsep ergonomis secara global sudah mulai menunjukkan eksistensi. Ini bisa dilihat dari banyak produsen gitar, baik itu trademark lama atau baru, yang mulai mengelurkan produk yang mengusung konsep gitar ergonomis serta banyak musikus dunia yang saat ini  beralih ke gitar ergonomis.

Ini suatu bertanda bahwa siklus perkembangan gitar dengan pemanfaatan teknologi dan inovasi yang sesuai dengan kebutuhan konsumen saat ini akan berjaya pada masa depan.

Konsep gitar ergonomis bisa dipelajari apabila luthier gitar lokal mau dan bisa memanfaatkan Internet dan jaringan dalam mengambil konsep serta acuan literatur. Mereka juga bisa mengambil sedikit teknologi manufaktur yang digunakan dalam merancang gitar ergonomis.

Pada dasarnya konsep gitar ergonomis sederhana, hanya butuh ketelitian dan pengetahuan yang baik agar konsep ini bisa diproduksi. Membuat sistem fret dengan menggunakan multiple scale atau fanned fret adalah salah satu contoh praksisnya.

Dalam membuat bagian ini, yang diperlukan adalah koefisien dimensi yang akurat. Untuk menghasilkan pengukuran tersebut bisa digunakan mesin CNC diikuti pengaturan pada mesin sesuai ukuran multi-scale yang ditentukan.

Untuk menghitung dimensi fret sudah ada aplikasi di website yang mempermudah luthier dalam merumuskan seberapa skala panjang yang akan digunakan pada gitar hasil rancangan tersebut.

Unsur Manusia

Kendala lainnya yaitu material hardware atau komponen pembuatan gitar. Luthier bisa menjalin kerja sama dengan vendor atau marketplace yang saat ini sangat mudah diakses dalam bertransaksi jual beli, baik itu skala nasional maupun global.

Ini adalah kemudahan bagi luthier gitar lokal untuk  melakukan riset dan rancangan yang sesuai dengan kebutuhan konsep gitar ergonomis. Era revolusi 4.0 membuat semua urusan menjadi mudah dengan memanfaatkan jaringan komunikasi yang luas.

Ini memudahkan luthier memilih komponen yang diinginkan dan  ini menjadi peluang yang bagus bagi para luthier agar bisa mempromosikan gitar yang dibuat dengan memanfaat jaringan komunikasi media sosial.

Meskipun banyak kendala dari segi teknis, seperti halnya teknologi mesin untuk memproduksi gitar, tapi secara sederhana luthier masih bisa memanfaatkan alat yang sederhana seperti tools yang sering digunakan pengrajin kayu (semi machine) dalam menerapkan konsep tersebut.

Kalau ditelaah secara filosofis, dalam membuat gitar memang tidak bisa dihilangkan unsur manusianya karena yang menjadi faktor terpenting adalah cara membuat suatu sistem produksi yang baik serta memiliki standar operasi yang bisa menghasilkan gitar yang memiliki kualitas yang baik dan bersaing dengan produk gitar lainnya.

Mungkin butuh waktu untuk membuat semua skema itu berjalan dengan baik, namun cepat atau lambat pengalamanlah yang akan menjadi penentu keberhasilan. Usaha dan kerja keras tidak akan mengkhianati seseorang yang bersungguh-sungguh.

Jangan takut menjadi beda saat ini. Pada saat yang lainnya hanya mementingkan benefit dengan gitar konvensional, luthier gitar yang kreatif dan punya semangat yang bergelora harus mengawali perubahan dan beralih memperdalami konsep gitar ergonomis.

Kelak pilihan ini akan mengantar ke poisi pioner dan  merajai pangsa pasar lokal  maupun global. Pemerintah dan instansi terkait bisa berperan dengan program sosialisasi perkembangan revolusi industri 4.0 terhadap luthier gitar.

Usaha kecil serta menengah sektor kreatif lainnya harusdidorong dan diberi wadah dalam bentuk promosi baik itu pameran daerah, pameran nasional, maupun pameran internasional.

Ini akan berpengaruh pada pertumbuhan perekonomian di daerah dan juga membuka lapangan pekerjaan baru. Syaratnya adalah pemerintah dan luthier berkerja sama untuk mewujudkan Making Indonesia 4.0.