Muhammadiyah: Jangan Gampang Tuding Kampus Sarang Radikalisme

Spanduk penolakan terhadap ajaran terorisme & radikalisme di Jl Malioboro, Jogja, Selasa (15/5 - 2018). (Antara / Andreas Fitri Atmoko)
08 Juni 2018 20:35 WIB Iskandar Nasional Share :

Solopos.com, SUKOHARJO — Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir, mendesak pemerintah khususnya aparat keamanan, tak gampang memukul rata kampus sebagai tempat yang terpapar radikalisme. Dia mengingatkan aparatur negara tak gampang menggeneralisasi institusi perguruan tinggi (PT) tertentu sebagai sarang teroris.

Kalaupun ada indikasi gerakan radikalisme di kampus, ujar dia, butuh pendekatan seksama dan tidak instan.

“Menangani radikalisme di kampus jangan digebyah uyah, digeneralisasi. Jangan gampang menyimpulkan kampus sarang radikalisme. Semua komponen bangsa perlu lebih seksama dan bijaksana dengan isu radikalisame di kampus ini,” ujar dia kepada wartawan seusai mengisi Tabligh Akbar di Masjid Sudalmiyah Rais di Kompleks Kampus Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Pabelan, Kartasura, Sukoharjo, Rabu (6/6/2018) malam.

Dia tak menampik paham radikalisme ada di berbagai tempat, tapi dia meminta aparat tidak boleh gampang menyimpulkan dan menyederhanakan persoalan. Haedar berpendapat radikalisme bisa muncul tak hanya di kampus, tapi juga di kampung, tempat ibadah, di ruang publik, dan sebagainya.

Kalaupun betul ada radikalisme di kampus yang membahayakan, ungkap Haedar, cara penanganannya perlu betul-betul seksama. “Jika ada kampus atau ruang publik tertentu diindikasikan radikal, lakukan pendekatan yang lebih moderat,” papar dia.

Untuk pencegahan dan penanganan radikalisme, kata dia, perlu kerja sama antara berbagai pihak. Antara lain dari kepolisian dengan kampus dan sedapat mungkin diusahakan menghindari suasana mencekam, harus ada suasana pendekatan yang moderat.

Sebab banyak kampus-kampus di negeri ini, yang menjadi tempat persemaian kader-kader terbaik bangsa. “Kampus-kampus ini bukan punya tujuan sebagai tempat dan benih radikalisme. Ini yang harus disadari,” ujar Haedar.

Dia menegaskan PP Muhammadiyah sebenarnya sejak awal telah melakukan pendekatan lewat al Islam dan kemuhamadiyahan, dengan pendekatan Islam moderat dan Islam berkemajuan. Apalagi Muhammadiyah memiliki 174 perguruan tinggi yang tersebar di seluruh Tanah Air yang jumlahnya dinilai jauh lebih banyak dari yang dimiliki negara.

“Harus diakui kecenderungan radikal itu ada di setiap tempat, selalu ada kecenderungan ekstrem radikal. Kondisi itu akan ada, dan bukan hanya di Indonesia, di banyak tempat juga begitu. Tinggal, harus ada roadmap yang tidak generalisasi, dan juga penindakan yang harus tetap seksama. Butuh penanganan yang intensif dan moderat,” papar dia.

Lebih lanjut Haedar mengungkapkan radikalisme telah menjadi kecemasan seluruh komponen bangsa. Tetapi dia optimistis Muhammadiyah cukup tangguh menolak segala bentuk radikalisme, baik radikalisme karena ideologi, maupun radikalisme karena politik.

Menurut dia, radikalisme politik bisa menampilkan kekerasan politik dan kekerasan ideologi juga akan menampilkan kekerasan ideologi. Jadi, semua jenis radikalisme adalah musuh bersama, maka cara penanganan dan pencegahannya harus dilakukan dengan cara yang seksama.

Tokopedia