Cadangan Devisa Turun Lagi, Tersedot Pembayaran Utang Pemerintah

Ilustrasi uang (Antara/Sigid Kurniawan)
08 Juni 2018 18:43 WIB Hadijah Alaydrus Nasional Share :

Solopos.com, JAKARTA -- Posisi cadangan devisa Indonesia akhir Mei 2018 tercatat merosot menjadi US$122,9 miliar dari posisi US$124,9 miliar pada akhir April 2018. Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI) menuturkan posisi ini masih cukup tinggi meskipun lebih rendah dibandingkan dengan US$124,9 miliar pada posisi akhir April 2018.

"Posisi cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 7,4 bulan impor atau 7,2 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor," ujar Agusman, Jumat (8/6/2018).

Dia menambahkan bank sentral menilai cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan. Penurunan cadangan devisa pada Mei 2018 terutama dipengaruhi oleh penggunaan devisa untuk pembayaran utang luar negeri pemerintah dan stabilisasi nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian pasar keuangan global yang masih tinggi.

Ke depan, Agusman menegaskan BI memandang cadangan devisa tetap memadai didukung keyakinan terhadap stabilitas dan prospek perekonomian domestik yang membaik, serta kinerja ekspor yang tetap positif.

Seperti yang diketahui, BI telah menetapkan langkah-langkah untuk menjaga stabilitas nilai tukar. BI menetapkan startegi kebijakan moneter yang lebih pre-emptive, front loading, dan ahead the curve. Salah satunya dengan menaikkan nilai tukar sebesar 50 basis poin (bps) pada Mei 2018.

Kedua, BI akan melakukan intervensi ganda atau dual intervention di pasar valas dan pasar SBN. Ketiga, penguatan strategi operasi moneter di pasar rupiah dan valas. Keempat, komunikasi intensif kepada stakeholders, khususnya pelaku pasar, perbankan dan dunia usaha serta ekonom.