Minggu Puncak Arus Mudik via Tol Semarang-Solo, Waspadai 2 Hal Ini!

Gerbang tol Bawen, Semarang, siap menyambut pemudik. (Solopos/M. Feri Setiawan)
08 Juni 2018 12:15 WIB Tri Rahayu Nasional Share :

Solopos.com, SOLO -- Puncak arus mudik dari Jakarta dan sekitarnya via tol Semarang-Solo  diprediksi terjadi pada H-5 Lebaran, Minggu (10/6/2018). Terkait itu, PT Trans Marga Jateng (TMJ) selaku pengelola sudah menyiapkan sejumlah langkah antisipasi untuk menjamin kelancaran arus mudik di ruas tol tersebut.

Manajer Operasi PT Trans Marga Jateng (TMJ), Fauzi Abd Rahman, saat ditemui Solopos.com, Rabu (6/6/2018), di Bawen, Semarang, mengungkapkan prediksi ada peningkatan pengguna jalan tol sampai dua kali lipat lewat gerbang tol (GT) Banyumanik karena ada pengalihan transaksi kartu tol elektronik dari GT Tembalang ke GT Banyumanik.

Fauzi menyampaikan integrasi sistem pembayaran dari GT Tembalang ke GT Banyumanik itu sebagai persiapan integrasi tol Semarang A, B, dan C ke tol Banyumanik, Ungaran, Bawen, Salatiga, hingga Kartasura.

“Antisipasinya kami menambah enam unit gardu dari sebelumnya 12 gardu pembayaran di GT Banyumanik. Selain itu, kami juga menyiapkan kendaraan penjemputan transaksi [mobile rider] dengan membawa alat gesek kartu tol elektronik agar tidak terjadi antrean panjang. Dua hal itu kami lakukan karena memungkinkan terjadi peningkatan kendaraan dari 33.331 unit per hari menjadi 77.891 unit per hari atau dua kali lipat,” ujar Fauzi.

Selain itu, Fauzi menyiapkan penambahan empat unit gardu darurat di ruas penghubung dari jalur fungsional masuk ke jalur operasional untuk arus baliknya. Kemudian rest area darurat juga disiapkan Fauzi di KM 22B, KM 49A, dan KM 49B. Tim teknis juga ditambah terutama untuk armada patroli.

“Patroli bermotor ditambah dua unit untuk antisipasi bila terjadi penumpukan di area Kali Kenteng, Susukan, Semarang,” tambahnya.

Direktur Utama PT Jasamarga Solo-Ngawi, David Wijayanto, saat ditemui Solopos.com di Salatiga, Rabu siang, mengakui progres proyek jalan tol Salatiga-Kartasura baru 68%. Jalan tersebut difungsikan untuk jalur mudik satu arah dengan kewaspadaan di sejumlah lokasi tertentu.

David menyampaikan kewaspadaan pertama yakni di 10 perlintasan  sebidang jalan kampung yang nantinya dijaga petugas gabungan dengan dua sif. Dia menyampaikan kecepatan maksimal hanya 40 km/jam karena kondisi jalan belum rigid semua.

“Jalan yang sudah rigid beton baru sepanjang 20 km di wilayah Boyolali dan sebagian Kabupaten Semarang dan sisanya 10 km masih beton dasar baik temporer [2,5 km] dan permanen [7,5 km],”ujarnya.

Pemimpin Proyek Jalan Tol Salatiga-Kartasura PT JSN, Edi Broto, menambahkan kewaspadaan berikutnya yakni di Jembatan Kali Kenteng yang baru selesai 60%. Edi sudah menyiapkan jalur alternatif di bawah jembatan sepanjang 500 meter.

Jalan tersebut dibangun di sisi barat pilar-pilar jembatan dengan kondisi cekungan dan kemiringan 30 derajat. “Kami sudah siapkan rambu-rambu, pita kejut, dan lampu di pintu masuk jalur alternatif Kali Kenteng. Untuk pembersihan debu sudah dilakukan dan terakhir pada Kamis ini,” tuturnya.

Kapolres Semarang, AKBP Agus Nugroho, mengimbau pemudi di jalur fungsional mudik Salatiga-Kartasura mematuhi rambu-rambu terutama kecepatan maksimal 40 km/jam. Petugas jaga, kata dia, merupakan gabungan dari Polri dan PT JSN. Dia fokus mewaspadai jalur di Kali Kenteng yang rawan untuk jalur mudik maupun balik.

Sementara itu untuk jalur Kartasura-Ngawi relatif lancar. Dua lajur sudah siap dengan kondisi jalan mulus bebas hambatan, kecuali di wilayah Kabupaten Ngawi. Sepanjang jalur Kartasura sampai perbatasan Sragen-Ngawi nyaris tidak ada perlintasan sebidang jalan kampung.

Kecepatan minimal di jalur dua arah ini bisa mencapai 60 km/jam. Pintu yang dibuka hanya di Ngasem, Klodran, Pungkruk, dan Ngawi. “Pintu tol di Kebakkramat tidak dibuka,” ujar Kasatlantas Karanganyar AKP Ahdi Rizaliansyah saat dihubungi Solopos.com.

Buka 24 Jam

Dirut PT JSN, David Wijayanto, mengatakan jalur Solo-Pungkruk sudah layak operasional. David sudah mendapat sertifikat layak operasional dari Ditjen Binamarga tetapi David masih menunggu Surat Keputusan (SK) Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) tentang pengoperasian jalan tol. Selama belum terbit SK Menteri PUPR tersebut, David hanya berani membuka jalur tol itu secara fungsional.

“Tol Solo-Ngawi nanti dibuka 24 jam untuk semua jenis roda empat mulai dari golongan I-V. Jadi truk boleh masuk. Untuk mudik mulai 8-17 Juni dan balik 18-24 Juni. Ya, dua arah. Yang diwaspadai tinggal lima perlintasan sebidang jalan kampung di wilayah Kabupaten Ngawi, yakni di Kedungharjo 2 unit, Sidolaju, Bangunrejo Kidul, dan Jengkrik. Perlintasan itu dijaga personel gabungan dengan tiga sif,” tuturnya.

David menjelaskan fasilitas pemudik juga sudah disiapkan di rest area. Dia menyebut ada 4 rest area di wilayah Sragen, yakni di Masaran dua unit dan Ngrampal dua unit. Di lokasi tersebut disediakan fasilitas toliet, musala atau masjid, warung makan atau food court, minimarket, bahan bakar minyak (BBM) mobile, dan seterusnya. “Armada operasional seperti patroli jalan raya, derek, rescue, ambulan, dan armada lainnya sudah siap,” tambahnya.

David menyebut ada gerbang tol darurat di wilayah Ngawi bagi pemudik yang masuk jalur fungsional dari tol Madiun dan Ngawi. Selain di Masaran dan Ngrampal, PT Jasamarga Property menyediakan rest area darurat di wilayah Paron, Kabupaten Ngawi.

“Rest area ini menggunakan kontainer milik Jasamarga Property. Ada 10 unit kontainer di rest area Paron untuk menyediakan fasilitas kepada pemudik. Kontainer juga digunakan untuk rest area di Masaran B dan Ngrampal A/B,” ujar pengelola rest area PT Jamarga Property, Bagus Sugiharto, saat ditemui di Ngawi, Rabu sore.