Mencintai dan Merawat Rupiah

Bandoe Widiarto (Istimewa)
06 Juni 2018 10:00 WIB Bandoe Widiarto (BI Solo) Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (4/6/2018). Esai ini karya Bandoe Widiarto, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Solo. Alamat e-mail penulis adalah bandoe@bi.go.id.

Solopos.com, SOLO--Ketersediaan uang tunai yang cukup dan dalam kondisi yang layak edar di  masyarakat menjadi harapan kita semua.Pada Ramadan dan Idulfitri umumnya terjadi peningkatan kebutuhan uang tunai sebagai dampak meningkatnya transaksi di masyarakat.

Bank Indonesia sebagai otoritas sistem pembayaran telah melakukan serangkaian persiapan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan uang tunai tersebut dan telah mempersiapkan layanan kas, baik melalui jaringan kantor di seluruh Indonesia maupun melalui jaringan perbankan.

Bank Indonesia juga berupaya memadukan layanan pembayaran tunai dan nontunai dalam rangka mewujutkan less-cash society. Secara nasional kebutuhan uang (outflow) periode Ramadan dan Idulfitri (Lebaran) 2018 diperkirakan mencapai Rp188,2 triliun, meningkat 15,3% dibandingkan periode 2017 (Rp163,2 triliun).

Di wilayah Soloraya estimasi kebutuhan uang pada periode Lebaran 2018 diperkirakan bisa  mencapai Rp5,034 trilliun, meningkat dibandingkan periode 2017 yang tercatat Rp4,6 triliun. Beberapa hal yang diperkirakan memengaruhi meningkatnya kebutuhan uang tunai antara lain tren pertumbuhan uang kartal dan preferensi perbankan ke pecahan tertentu, penambahan libur dan cuti bersama  sehingga total hari libur menjadi 12 hari, serta  rencana kenaikan tunjangan hari raya bagi aparatur sipil negara.

Berdasarkan data historis (2014-2017) outflow periode Lebaran senantiasa lebih tinggi dibandingkan rata-rata ouftlow bulanan di luar bulan Lebaran. Pada tahun 2017, outflow rata-rata bulanan di Soloraya tercatat Rp1,1 triliun sementara pada periode Lebaran outflow bisa mencapai Rp4,6 triliun. 

Melihat besarnya kebutuhan uang pada saat Lebaran sudah barang tentu diperlukan strategi yang tepat agar seluruh masyarakat di Soloraya dapat terlayani dengan baik dan mendapatkan uang layak edar yang dibutuhkan.

Pada Lebaran tahun ini tersedia 111 lokasi layanan penukaran uang yang tersebar di Soloraya. Bank Indonesia, bank umum, BPR/BPRS, dan pegadaian berkolaborasi untuk melayani masyarakat di lokasi penukaran yang telah ditetapkan.

Untuk memberikan layanan prima kepada masyarakat dilakukan strategi ”jemput bola” dengan menggunakan kendaraan kas keliling di beberapa tempat/lokasi   keramaian seperti pasar tradisional, pusat pertokoan, terminal bus, dan stasiun kereta api.

Tidak cukup sampai di situ, mobil kas keliling bersama digelar di halaman kantor-kantor pemerintah daerah atau di lapangan terbuka untuk melayani masyarakat  luas  seperti yang akan diselenggarakan di Benteng Vastenberg pada 5-7 Juni 2018.

Setelah periode Lebaran berakhir selanjutnya akan masuk pasca-Lebaran. Pada periode ini biasanya ditandai dengan kembalinya uang ke Bank Indonesia (inflow) dalam jumlah yang cukup besar melalui mekanisme setoran dari perbankan.

Bank Indonesia kemudian akan memproses pengolahan. Uang yang masih dalam kondisi baik dan  layak edar akan kembali diedarkan. Uang yang tidak layak edar karena lusuh, rusak, dan cacat akan dimusnahkan.

Tindakan sebagaian masyarakat yang cenderung tidak menghormati dan menghargai rupiah seperti melipat uang, mencoret-coret, mensteples uang kertassehingga menjadi berlubang sangat tidak dibenarkan karena uang kertas dengan kondisi tersebut masuk dalam kategori uang tidak layak edar.

Cara

Bagaimana cara mencintai dan merawat rupiah yang baik? Rupiah merupakan salah satu simbol kedaulatan negara yang harus dicintai, dihargai, dan dibanggakan oleh  seluruh warga negara Indonesia.

Menjaga agar rupiah tetap dalam kondisi baik dan layak edar adalah bagian dan bentuk konkret mencintai rupiah sebagai salah satu simbol negara. Inimemang tindakan yang sederhana, tetapi berdampak besar bagi keuangan negara.

Setiap uang yang tidak layak edar akan ditarik dan dimusnahkan oleh Bank Indonesia. Beban biaya yang harus dikeluarkan pun semakin tinggi, termasuk biaya untuk mencetak uang baru sebagai pengganti.

Mencintai rupiah juga dapat dilakukan dengan cara menggunakan rupiah dalam berbagai transaksi yang dilakukan di wilayah Indonesia, termasuk  pencantuman tarif/harga barang atau jasa.

Kewajiban menggunakan uang rupiah telah secara jelas diatur dalam UU No. 7/2011 tentang Mata Uang. Rupiah wajib digunakan sebagai alat pembayaran yang sah dalam setiap kegiatan perekonomian nasional.

Eksistensi rupiah dalam setiap transaksi di dalam negeri akan berdampak sangat besar bagi perekonomian Indonesia. Semakin banyak transaksi dalam negeri yang menggunakan rupiah maka akan semakin sedikit kebutuhan, penggunaan, dan ketergantungan kita kepada  mata uang asing di negeri ini.

Pada gilirannya ini akan semakin menguatkan nilai tukar rupiah. Dalam konteks yang lebih besar, yaitu masyarakat di daerah perbatasan dalam bertransaksi jual beli, semakin tinggi penggunaan rupiah maka dapat dipastikan bahwa kehadiran negara benar-benar dirasakan oleh masyarakat.

Ini penting mengingat masyarakat perbatasan merupakan garda terdepan dan terluar untuk menjaga Indonesia. Mencintai dan menjaga rupiah merupakan salah satu wujud bela negara tanpa senjata.

Agar masyarakat  dapat berperan aktif merawat rupiah dengan baik setidaknya ada dua langkah yang perlu diperhatikan. Pertama, memahami dan mengenali ciri-ciri keaslian rupiah lewat metode 3D, yaitu dilihat, diraba, dan diterawang.

Salah satu tantangan serius yang dihadapi dalam mengedarkan uang rupiah di tanah air kita adalah isu uang palsu. HaI ini terutama karena dampaknya yang sangat besar bagi perekonomian nasional.

Bank Indonesia senantiasa berkoordinasi dengan kepolisian dan aparat penegak hukum lain untuk memberantas kejahatan ini. Upaya memberantas kejahatan uang palsu tidak akan optimal tanpa dukungan dan peran aktif masyarakat.

Masyarakat perlu terus diedukasi agar semakin cermat dan lebih teliti terhadap ciri keaslian uang rupiah dengan ”ingat 3D”sebagai langkah preventif untuk menangkal  beredarnya uang palsu.

Kedua, setelah mengetahui keaslian, rawatlah rupiah ”5-jangan yaitu uang kertas jangan dicoret, jangan distaples, jangan diremas, jangan dibasahi, dan jangan dilipat. Dengan turut serta merawat rupiah, itu artinya kita ikut menjaga simbol kedaulatan dan kehormatan tanah air kita tercinta.

Ketika rupiah tersedia dalam jumlah yang cukup dan dengan kualitas baik, masyarakat diharapkan menghargai dan bangga menggunakan mata uangnya sendiri. Seluruh transaksi di Indonesia wajib menggunakan mata uang rupiah. Apa pun transaksinya, rupiah  mata uangnya dengan  ingat selalu ”3D dan 5-jangan”. Selamat berpuasa; mari bersatu, berbagi, dan berprestasi.

 

Kolom 1 hour ago

Jelalatan