ITS Dinyatakan Terpapar Radikalisme, Rektor: Kami Lihat Tenang-Tenang Saja

Spanduk penolakan terhadap ajaran terorisme & radikalisme di Jl Malioboro, Jogja, Selasa (15/5 - 2018). (Antara / Andreas Fitri Atmoko)
05 Juni 2018 22:04 WIB Antara Nasional Share :

Solopos.com, SURABAYA -- Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya (ITS) meminta Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) memberikan data terkait masuknya kampus tersebut sebagai salah satu perguruan tinggi yang terpapar radikalisme.

Rektor ITS Prof Joni Hermana di Surabaya, Selasa (5/6/2018), mengucapkan terima kasih kepada BNPT yang sudah memberi peringatan bahwa ITS adalah salah satu dari tujuh perguruan tinggi yang terpapar radikalisme.

"Kami melihat di sini tenang-tenang saja. Itu dari kacamata kami sebagai akademisi. Kami menunggu dari BNPT untuk memberikan data dan membantu ITS menulusuri titiknya di mana. Melawan radikalisme tidak mudah karena tidak terlihat. Kami mohon dibantu untuk bisa mengidentifikasi agar tidak salah langkah," kata Joni.

Joni menyatakan, ITS sudah menelusuri karyawan yang terpapar radikalisme, namun masih dibatasi kepada mereka yang terlibat organisasi Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). "Tapi ini juga sebagai proses pembelajaran bagi kita seperti apa yang dimaksud dengan radikalisme agar bisa melakukan antisipasi dengan benar," katanya.

Soal kemungkinan penyusupan paham radikal ke unit kegiatan mahasiswa (UKM), Joni menegaskan pihaknya sudah melakukan pembinaan secara berjenjang. Sejak mahasiswa baru masuk ke ITS, sudah melakukan proses pendidikan berupa pelatihan yakni spiritual dan kebangsaan yang diharapkan dengan demikian wawasan mereka lebih baik dan memahami mereka bagian dari NKRI.

"Ada proses pendidikan dan pengaderan yang berlangsung sekitar dua minggu yang dilakukan secara terintegral sehingga membuat bisa memberi pemahaman yang baik ke mahasiswa," ujarnya.

Selanjutnya, dalam setahun berjalan mereka diwajibkan masuk UKM. UKM di bawah pembinaan Direktur Kemahasiswaan ITS. Dari situ ITS berupaya sebaik mungkin mencegah adanya penyusupan.

"Tapi sekali lagi, melawan radikalisme itu melawan sesuatu yang tidak kentara sehingga perlu tambahan informasi dari BNPT, polisi dan lainnya agar dalam proses pembinaan terhadap mahasiswa bisa dilakukan dengan baik dan tidak sampai tersusupi hal-hal yang tidak diinginkan," ucapnya.