Pelaku Bom Surabaya Bukan Sel Teroris Aktif, Tapi Lepas dari Pengawasan

Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian menyampaikan perkembangan kasus penyerangan terhadap penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan, di Kantor Presiden, Jakarta, Senin (31/7). - ANTARA/Puspa Perwitasari
05 Juni 2018 16:25 WIB Sholahuddin Al Ayyubi Nasional Share :

Solopos.com, JAKARTA – Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian telah menginstruksikan seluruh kapolda untuk bekerja sama dengan TNI mengawasi seluruh sel teroris tidur (belum aktif) agar bisa termonitor dan dipetakan seluruh gerakannya di Indonesia.

Menurut Tito, sel teroris yang belum aktif biasanya tidak termonitor oleh Densus 88, namun memiliki potensi untuk melakukan aksi teror bom, seperti aksi teror bom sejumlah gereja di Surabaya. Menurutnya, pelaku teror bom di sejumlah gereja di Surabaya merupakan sel teroris yang belum aktif dan lepas dari pengawasan Densus 88. Selama ini, Densus 88 fokus ke kelompok sel teroris yang aktif.

Tokopedia

"Jadi belajar dari pengalaman kasus [teror bom] di Surabaya. Sebetulnya itu sudah termonitor, tetapi kemudian tim bergerak ke yang lain yang sel aktif, ternyata sel tidak aktif ini justru malah melakukan aksi teror bom," tuturnya, Selasa (5/6/2018).

Tito menjelaskan sel teroris non aktif tersebut dinilai masih cukup sangat banyak di sejumlah provinsi di Indonesia. Karena itu, dia menginstruksikan Kepala Densus 88 beserta seluruh Kapolda mengawasi dan memonitor semua kelompok teroris yang sudah aktif maupun belum aktif di seluruh wilayah Indonesia.

"Hampir di semua provinsi ada sel yang belum aktif ini. Saya sudah perintahkan Kepala Densus 88 agar mengawasi sel-sel yang belum aktif ini, tetapi punya potensial melakukan teror, diinformasikan kepada Kapolda setempat," katanya.

Selain itu, Tito juga memerintahkan seluruh Kapolda agar membuat tim khusus antiteror yang di dalamnya ada unsur penyelidikan, penyidikan, penindakan, dan tim preventif serta humanis. Menurut Tito, tim khusus antiteror tersebut akan didukung oleh TNI setempat, sehingga penanganan teroris bisa lebih cepat dan tepat sasaran.

"Saya sudah perintahkan para Kapolda untuk bekerja sama dengan TNI untuk membentuk satgas atau tim khusus antiteror. Kami ingin tidak ada lagi teroris di Indonesia," ujarnya.