Diintai 2 Pekan Sebelum Ditangkap di Unri, 1 Teroris Resmi Tersangka

Tim Densus 88 bersama tim Gegana Brimob Polda Riau berjaga di area penggeledahan gedung Gelanggang Mahasiswa Kampus Universitas Riau (Unri), Pekanbaru, Sabtu (2/6 - 2018). (Antara / Rony Muharrman)
03 Juni 2018 18:55 WIB Adib Muttaqin Asfar Nasional Share :

Solopos.com, JAKARTA -- Sejumlah temuan termasuk bom aktif dan senjata di kampus Fisipol Universitas Riau (Unri) tampaknya cukup bagi polisi untuk menetapkan tersangka. Kepala Divisi Humas Polri Irjen Setyo Wasisto mengatakan satu dari tiga terduga pelaku teror yang ditangkap Detasemen Khusus 88 Antiteror di kampus Unri, Sabtu (2/6/2018) siang, sudah dijadikan tersangka.

Dia adalah Muhamad Nur Zamzam (MNZ) yang dinyatakan terlibat rencana penyerangan gedung DPR. Sementara, dua orang yang ikut diamankan petugas masih berstatus saksi.

"Keterlibatannya bermaksud melakukan tindak pidana terorisme menggunakan bom atau bahan peledak dengan sasaran gedung DPR RI atau DPRD," ujar Setyo di Lobi Gedung Divisi Humas Mabes Polri, Jakarta Pusat, Minggu (3/6/2018), dilansir Suara.com.

Setyo menjelaskan, saat penangkapan polisi menyita sejumlah barang bukti, di antaranya dua bom pipa rakitan yang sudah jadi, dua busur panah, dan delapan anak panah. Selain itu ada satu senapan angin, video dari ISIS dan beberapa buku cara merakit bom, dan buku cara melakukan navigasi. Selain itu, sejumlah bahan peladak juga diamankan oleh pihak kepolisian.

"Serbuk putih nomor 1 teridentifikasasi sebagai TATP, yakni bahan peledak jenis high eksplosif yang merupakan campuran hidrogen peroxida (H2O2). Serbuk putih nomor 2 teridentifikasi merupakan potasium nitrat yang merupakan campuran bahan peledak," katanya.

"Serbuk putih nomor 3 ter identifikasi merupakan pupuk KNO3. Serbuka warna abu-abu teridentifikasi juga TATP. Serbuk warna hitam teridentifikasi merupakan potasium nitrat, serbuk warna kuning merupakan sulfur, dan teridentifikasi memenuhi unsur-unsur komponen bom yang berupa granat tangan rakitan," Setyo menambahkan.

Sebelumnya, Kapolda Riau Irjen Pol Nandang mengatakan jajarannya mulai mendeteksi keberadaan terduga teroris sejak dua pekan terakhir sebelum melakukan penggerebekan. "Dua minggu sudah dilidik," kata Nandang dalam keterangan resmi kepada media di Pekanbaru, Sabtu (2/6/2018) malam, dilansir Antara.

Awalnya, kata dia, Polda Riau bersama dengan Densus 88 Antiteror berencana melakukan penggerebekan tersebut pada hari Jumat (1/6/2018). Namun, penggerebekan itu urung dilakukan atas dasar beberapa pertumbangan. "Baru bisa dilakukan hari Sabtu," ujarnya.

Sebelum melakukan penggerebekan, polisi terlebih dahulu telah mengumpulkan data terkait dengan siapa, bagaimana, dan bentuk aktivitas mencurigakan di perguruan tinggi negeri terbesar di Riau tersebut. "Setelah memperoleh data awal akurat, tentang siapa, bagaimana, akan lakukan apa, sudah diketahui sedari awal, baru digerebek," katanya.