Menjaga Kata, Menjaga Harmoni

Layasilo Lilik (Istimewa)
01 Juni 2018 05:30 WIB Layasilo Lilik (Magabudi) Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (28/5/2018). Esai ini karya Layasilo Lilik, Wakil Ketua Majelis Agama Buddha Theravada Indonesia (Magabudhi) Solo. Alamat e-mail penulis adalah liliksurya99@gmail.com.

Solopos.com, SOLO--Tahun ini Tri Suci Waisak bertepatan dengan Selasa 29 Mei 2018. Inilah saat mengingat kembali tiga peristiwa bersejarah pada kehidupan Buddha saat bulan purnama pada bulan Waisak, yaitu peristiwa kelahiran bayi Siddharta Gotama, peristiwa pertapa Gotama mencapai pencerahan sempurna sebagai Buddha, dan peristiwa mangkatnya Buddha mencapai pari nibbana.   

Di antara rentang waktu peristiwa ke-2 dan ke-3 dalam kehidupan Buddha, tutur kata Buddha selama 45 tahun yang penuh cinta kasih dan kasih sayang dikumpulkan dalam sutta/sutra, vinaya,dan abhidhamma; tiga keranjang kumpulan kitab yang dikenal sebagai kitab suci Tripitaka/Tipitaka.

Ribuan tahun tutur kata Buddha menjadi pedoman hidup umat Buddha sampai hari ini. Buddha mengembara dan menyampaikan dhamma ajarannya dengan tutur kata yang diingat dan diulang kembali oleh murid-muridnya.

Ratusan tahun kemudian baru dituliskan di daun-daun lontar  mengingat saat itu belum ada alat tulis dan alat perekam seperti saat ini. Pada zaman Buddha ada seorang perempuan dihasut oleh beberapa pertapa yang merasa iri hati dengan kepopuleran Buddha.

Kepopuleran Buddha mengakibatkan penghasilan mereka menurun karena ditinggalkan murid-murid mereka. Cinca Manavika nama perempuan yang terhasut oleh beberapa pertapa yang memendam iri dan benci kepada Buddha tersebut.

Pada beberapa kesempatan dia berada di wihara tempat Buddha berdiam. Pada malam hari dia berjalan menuju wihara kemudian pada pagi hari dia berjalan meningalkan wihara hingga pada satu kesempatan Cinca menempatkan batang kayu yang dibalut dengan kain di perutnya mengesankan seperti perempuan sedang hamil.

Dia kemudian ikut bergabung dengan orang-orang yang sedang mendengarkan  ceramah Buddha. Tiba-tiba dia berdiri dan dengan suara keras berkata di hadapan orang banyak. Dia berkata sedang mengandung bayi Buddha dan dia meminta Buddha untuk bertanggung jawab.

Rencana busuk Cinca akhirnya terbongkar karena ada seekor tikus yang menggigit tali kain yang mengikat kayu di perut Cinca sampai terputus. Kayu pengganjal perut jatuh menimpa jari kaki Cinca. Pikiran yang dipenuhi iri dan kebencian mendorong seseorang bertutur kata dan berkelakuan tidak baik.

Itu seperti para pertapa jahat yang khawatir kehilangan kekuasaan atas murid-muridnya kemudian menghasut Cinca. Pada zaman ini pun tutur kata yang mengandung fitnah, tutur kata yang mengadu domba, tutur kata yang menyebabkan terjadinya konflik, tutur kata yang didasari kebencian begitu marak.

Media sosial memudahkan penyebaran ujaran kebencian. Pada tahun politik atau istilah halusnya tahun demokrasi ini tutur kata tidak elok, ujaran kebencian yang disampaikan dengan nada kasar, maupun dibungkus dengan tutur kata halus banyak menyebar di media sosial.

Konten-konten demikian menyuguhi dan menyesaki batin kita. Apabila tidak hati-hati dan waspada maka pikiran kita akan terseret dalam  kebencian dan tanpa sadar kita mendukung dan meneruskan tutur kata ujaran kebencian tersebut.

Pada tahun ini dan tahun depan banyak orang yang berusaha menggapai kekuasaan atau khawatir kehilangan kekuasaan yang dipunyai saat ini, berusaha menjadi bupati, wali kota, gubernur, presiden, atau anggota DPR, DPRD, dan DPD.

Mereka berusaha menarik pemilih dengan tutur kata yang santun dan menarik pemilih dengan tutur kata yang didasari kebencian. Inilah yang akan kita jumpai pada hari-hari ini dan mendatang, tergantung kita sendiri dalam mengambil sikap.

Buddha mengajarkan dalam  dhamma (dharma) pentingnya melatih sila (lima sila, delapan sila, 10 sila) yang salah satunya adalah tekad untuk melatih diri menghindari tutur kata yang tidak benar, tutur kata bohong, tutur kata yang menyebabkan terjadinya konflik (musavada).

Dalam ajaran Jalan Mulia Berunsur Delapan, yang merupakan ajaran utama Buddha yang menjelaskan  ”jalan” untuk menuju lenyapnya penderitaan (dukkha), Buddha mengajarkan jalan yang ketiga, yaitu tutur kata yang benar (samma vaca).

Caranya dengan berusaha menahan diri dari berbohong (musavada), memfitnah (pisunavaca), berucap kasar/caci maki (pharusavaca) dan percakapan yang tidak bermanfaat/pergunjingan (samphappalapa). Syarat suatu tutur kata disebut sebagai tutur kata benar adalah tutur kata itu itu mengandung kebenaran, tutur kata itu beralasan, tutur kata itu bermanfaat, dan tutur kata itu tepat pada waktunya.

Dhammapada ayat 232 mengingatkan kita untuk menjaga tutur kata yang baik hendaklah orang selalu menjaga rangsangan ucapan, hendaklah ia mengendalikan ucapan. Setelah menghentikan perbuatan-perbuatan jahat melalui ucapan, hendaklah giat melakukan perbuatan-perbuatan baik melalui ucapan.

 

Memurnikan Pikiran

Pikiran adalah pelopor dari segala sesuatu, pikiran adalah pemimpin, pikiran adalah pembentuk. Bila seseorang bertutur kata atau berbuat dengan pikiran jahat maka penderitaan akan mengikutinya bagaikan roda pedati mengikuti langkah lembu yang menariknya (Dhammapada ayat 1)   

Pikiran adalah pelopor dari segala sesuatu, pikiran adalah pemimpin, pikiran adalah pembentuk. Bila seseorang bertutur kata atau berbuat dengan pikiran murni maka kebahagiaan akan mengikutinya bagaikan bayang-bayang yang tak pernah meninggalkan bendanya (Dhammapada ayat 2).

Betapa pentingnya pengaruh pikiran terhadap tutur kata dan perbuatan kita. Baik buruknya tutur kata dan perbuatan kita sumbernya adalah pikiran kita. Seperti air di dalam botol, apabila di dalam botol airnya keruh dan kotor ketika keran airnya dibuka maka yang keluar adalah air yang keruh dan kotor.

Sebaliknya manakala di dalam botol airnya jernih dan bersih, ketika keran dibuka maka akan mengalirlah air yang jernih dan bersih. Oleh karena itu berlatihlah dengan sungguh-sungguh untuk senantiasa mengisi ”botol batin” kita dengan hal-hal yang baik, dengan cinta kasih murni sepenuh-penuhnya.

Sudah menjadi kebiasaan kita, umat Buddha, untuk senantiasa mengucapkan ujaran penuh makna cinta kasih sabbe satta bhavantu sukhitatta, semoga semua mahluk hidup berbahagia. Tentu bukan sekadar ucapan di bibir, namun tempatkanlah ujaran cinta kasih tersebut di dalam relung batin paling dalam.

Penuhilah batin kita  dengan kesejukan cinta kasih sehingga tidak ada ruang sedikit pun untuk munculnya ketidaksukaan, kebencian, dan kemarahan  sehingga tutur kata dan perbuatan kita menjadi sejuk dan damai.

Siapa pun yang bicara dengan kita merasa nyaman

Tokopedia