Fokus Ekonomi Jawa Tengah

Haris Zaky Mubarak (Istimewa)
31 Mei 2018 02:00 WIB Haris Zaky Mubarak Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (26/5/2018). Esai ini karya Haris Zaky Mubarak, sejawaran alumnus Universitas Gadjah Mada. Alamat e-mail penulis adalah haris.zaky.m@mail.ugm.ac.id.

Solopos.com, SOLO--Dalam forum debat calon gubernur dan calon wakil gubernur Provinsi Jawa Tengah, masalah pemberdayaan ekonomi Jawa Tengah menjadi fokus perhatian utama dua pasang calon gubernur dan calon wakil gubernur, yakni Ganjar Pranowo-Taj Yasin dan pasangan Sudirman Said- Ida Fauziyah.

Besarnya perhatian terhadap aspek ekonomi dari dua pasang calon gubernur dan calon wakil gubernur Jawa Tengah tersebut tentu bukan semata-mata karena kampanye dan kepentingan politik kekuasaan tapi karena masalah ekonomi memang hal yang urgen untuk diperhatikan secara serius bagi provinsi Jawa Tengah.

Dalam beberapa tahun terakhir, fakta yang terjadi di Provinsi Jawa Tengah menunjukkan situasi kehidupan ekonomi yang relatif kecil skalanya. Masih rendahnya indeks pembangunan manusia (IPM) di Jawa Tengah daripada IPM nasional memberi isyarat masih rendahnya akses masyarakat terhadap hasil pembangunan, yakni dalam urusan pendapatan, kesehatan, pendidikan, dan lain sebagainya.

IPM Jawa Tengah selama ini memang menunjukkan tren positif dalam tujuh tahun terakhir ini. Data menunjukkan dari 2010 hingga 2016 IPM Provinsi Jawa Tengah berturut-turut sebesar 66,08; 66,64; 67,21; 68,02 ; 68,78; 69,49; dan pada 2016, IPM Jawa Tengah mencapai 69,98.

IPM di Jawa Tengah ini masih berstatus sedang dan cenderung stagnan secara peringkat dalam konteks IPM nasional. Provinsi Jawa Tengah dalam beberapa tahun ini memang cendrung bersemangat untuk membangun pusat konsentrasi pertumbuhan baru.

Pusat pertumbuhan ini diproyeksi tersebar di Cilacap Raya, Soloraya, dan Semarang Raya. Pusat pertumbuhan ini dikembangkan sesuai dengan basis dan konsentrasi bisnis yang sesuai. Wilayah Soloraya diproyeksikan menjadi kawasan ekonomi kreatif, yang mencakup batik, tekstil, dan lainnya.

Semarang Raya diproyeksikan menjadi pusat konsentrasi makanan olahan, industri tekstil dan garmen, serta konfeksi. Sementara wilayah Cilacap Raya dikembangkan sebagai sentra industri pengolahan ikan dan industri pengolahan makanan.

Intensifnya Provinsi Jawa Tengah dalam mengembangkan konsep ekonomi dengan segmentasi kawasan semestinya mampu meningkatkan pemerataan kualitas hidup di wilayah itu, namun dengan fakta IPM yang masih kecil muncul pertanyaan mengapa Jawa Tengah masih lamban dalam memacu pertumbuhan kualitas hidup masyarakatnya?

Masalah Fokus

Selama ini salah satu kendala dalam peningkatan kualitas hidup di Jawa Tengah adalah soal fokus terhadap konsep pengembangan pembangunan. Dalam beberapa tahun terakhir ini Pemerintah Provinsi Jawa Tengah  memang berupaya membangun tiga kawasan ekonomi dengan prioritas masing-masing.

Yang menjadi persoalan adalah setiap kawasan ini masih kesulitan menghubungkan akses ekonomi satu sama lain, misalnya masalah pengembangan ekonomi kreatif di Soloraya yangmasih minim dengan akses pariwisata sebagai instrument utamanya. Adanya tiga kawasan ekonomi besar di Provinsi Jawa Tengah  boleh jadi akan menjadi potensi pendapatan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dalam waktu mendatang.

Persoalannya adalah jika belum ada pengembangan maksimal terhadap akses, tiga kawasan ini pada masa mendatang tak ubahnya akan seperti potongan roti besar yang tanpa cita rasa yang sedap. Jika kita menilik fakta historis yang selama ini menopang ekonomi dan kehidupan masyarakat Jawa Tengah,  periode ekonomi Jawa tahun 1820 sampai tahun 1880 sepertinya memberi gambaran penting.

Gambaran penting itu terkait tata kelola kehidupan ekonomi dan peningkatan kualitas hidup masyarakat di Jawa. Dalam analisis ekonominya, Robert van Neil dalam The Effects of Export Cultivationsion Nineteenth Century Java (Modern Asian Studies 15, 1981) menyebut saat di Jawa terjadi peningkatan aktivatas ekonomi nonpertanian maka pada taraf itu pula orang-orang Jawa telah diseret untuk masuk dalam ekonomi pasar.

Hal penting dari analisis ekonomi yang dikemukakan van Neil tersebut adalah saat ini bagi kemajuan Jawa Tengah yang penting adalah membangun dan mengelola secara matang semua sektor ekonomi nonpertanian sehingga dari sektor inilah pendapatan masyarakat di Jawa Tengah dapat terkendali secara keseluruhan karena masyarakat Jawa Tengah akhirnya tidak terlalu bertumpu pada satu sektor kawasan ekonomi unggulan semata.

Visi Masa Depan

Perkembangan industrialisasi di Jawa Tengah pada hari ini menjadi hal dominan sebagai aset ekonomi masyarakat. Dalam jangka waktu panjang, perkembangan industrialisasi di Jawa Tengah sebenarnya akan berada pada titik yang cukup rawan jika masyarakat dan pemerintah provinsi tidak membuka akses kemandirian terhadap tata kelola industrialisasi di.

Kemandirian yang dimaksud adalah seperti memberikan kesempatan bagi pihak swasta untuk bersama–sama dengan masyarakat membangun jaringan pasar domestik. Kawasan Jawa Tengah yang berada di posisi strategis Pulau Jawa semestinya menjadi celah yang potensial untuk menjadi wilayah yang mampu mengontrol segala kebutuhan perdagangan.

Kemajuan teknologi, yakni potensi besar pasar online, semestinya menjadi prioritas yang sangat penting bagi Provinsi Jawa Tengah untuk memaksimalkan keunggulan strategis geografis Jawa Tengah dalam dominasi pasar Pulau Jawa dan nasional secara keseluruhan.

Potensi seperti inilah yang semestinya ditangkap dalam kebijakan politik praktis kepala daerah untuk mengoptimal kesempatan besar di sektor ekonomi. Orientasi pembangunan industrialisasi semestinya tak melulu dibaca sebagai orientasi profit yang mengedepankan pendapatan secara riil tapi juga sebagai peluang mendapatkan akses ke pasar ekonomi global.