Mengakhiri Bicara atas Nama Tuhan

Mudhofir Abdullah (Istimewa)
29 Mei 2018 02:35 WIB Mudhofir Abdullah (IAIN Surakarta) Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (21/5/2018). Esai ini karya Mudhofir Abdullah, Rektor Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Surakarta. Alamat e-mail penulis adalah mudhofir 1527@gmail.com.

Solopos.com, SOLO--Kasus bom di Surabaya dan Sidoarjo beberapa hari lalu sungguh sangat menyentak nurani kemanusiaan kita. Bagaimana bisa satu keluarga yang terdiri empat anak dan dua orang tua sepakat melakukan teror dengan modus bom bunuh diri? Kesepakatan demi apa?

Konon, setelah Salat Subuh, beberapa jam sebelum melakukan aksi teror bom bunuh diri di tiga gereja, mereka saling berpelukan dan berpesan satu sama lain. Mereka sadar sebentar lagi akan mati menuju ”surga”. Fenomena apakah ini?

Kita merasa miris karena bom bunuh diri mereka anggap sebagai perintah Tuhan dan melibatkan istri serta anak-anak. Mereka sepakat karena dalam keyakinan mereka inilah yang paling benar dan paling absolut. Tak ada kebenaran lain.

Umat beragama seluruhnya salah dan tak perlu didengar. Mereka tertutup. Mereka menjalani hidup sehari-hari dengan kepercayaan diri yang dibangun oleh delusi tentang kebahagiaan akhirat. Anak-anaknya pun tak disekolahkan.

Anak-anak mereka terisolasi dan hanya menerima ajaran satu arah, yakni dari orang tua mereka saja. Sejumlah video tentang perang di Suriah, korban-korban anak-anak Palestina oleh serangan militer Israel diperlihatkan berulang-ulang. Ajaran tentang jihad begitu melekat dan menjadi informasi tunggal, tanpa perbandingan, telah mengisi ruang-ruang bawah sadar anak-anak mereka.

Jadi, kesepakatan bulat untuk melakukan ”bom jihad” dibangun dari ketertutupan, dari ruang terisolasi, dan dari belenggu ajaran qital. Untuk Indonesia, bom bunuh diri di Surabaya dan Sidoarjo merupakan modus baru. Ada anak-anak yang dilibatkan.

Anak mereka sendiri yang merupakan darah daging mereka dan selama ini diasuh dengan model-model keagamaan tunggal yang tertutup. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana seorang ayah dan ibu kandung tega mengajak bunuh diri anak-anak mereka secara konyol untuk tujuan abstrak.

Siapakah yang mengajarkan ini? Ajaran seperti apa yang membuat mereka sangat nekat? Ini kegilaan hidup paling tragis dilihat dari sisi apa pun. Bukankah Indonesia selama berdekade-dekade telah mengalami masa tenang, stabil, yang dengan kondisi semacam itu bangsa kita bisa membangun?

Alasan apakah yang membuat keluarga itu bertindak sangat putus asa? Dengan penalaran normal, tindakan keluarga itu sulit untuk dipahami. Mudah-mudahan itu hanya kesalahan individual tentang sebuah ajaran agama, bukan kesalahan kolektif yang secara bersama-sama gagal paham lalu bertindak fatal.

Mudah-mudahan itu bukan produk politik untuk mengalihkan isu atau apa pun yang bersifat rekayasa sosial dan politik menjelang pemilihan kepala daerah serentak pada 2018 dan pemilihan presiden pada 2019. Apa pun alasannya, tindakan melaksanakan teror dengan modus bom bunuh diri tidaklah dapat dibenarkan dan harus dikutuk sebagai kejahatan melawan kemanusiaan.

Apa yang Harus Dilakukan?

Setiap tindakan bom bunuh diri atau aksi-aksi terorisme tidaklah berdiri sendiri. Ada unsur-unsur yang terkait dan saling memengaruhi. Menurut seorang pakar terorisme, ada lethal cocktail atau tiga campuran maut yang saling menopang, yaitu: ada orang yang terpinggirkan, ada penyandang dana, dan ada ajaran yang membenarkan.

Tiga unsur itu ada secara bersama-sama pada pikiran para teroris. Jika salah satu unsur bisa dipatahkan, terorisme tak akan terjadi. Nah, bagaimana tiga campuran maut itu dapat dipisahkan? Pertanyaan ini menuntut sinergi antara negara, masyarakat, dan tokoh agama.

Program-program tentang deradikalisasi sering kali tak menjangkau individu-individu yang tepat. Para calon teroris sudah telanjur ”bersembunyi” dalam imajinasi delusif. Mereka sudah menarik diri dari pergaulan umum dan makin intensif dalam kajian-kajian radikal versi mereka yang sering kali tak terdeteksi.

Mereka seperti terpisah dan tercerabut dari akar-akar budaya, apalagi umat Islam arus utama yang seharusnya merangkul justru melabeli mereka radikal ekstrem. Terputuslah komunikasi mereka dengan umat Islam mainstream. Komunikasi mereka dipasok melalui media sosial yang sering kali justru memperkuat sikap radikal ekstrem mereka.

Jika demikian, siapa sebenarnya yang ikut melahirkan para teroris ini? Ketidakpedulian kita ataukah ketidakhadiran negara dalam pikiran mereka? Saya ingin menegaskan bahwa terorisme adalah masalah kita bersama. Juga menjadi masalah masyarakat dunia.

Setiap negara punya potensi untuk memproduksi teroris, bahkan negara itu sendiri bisa bertindak sebagai teroris. Ada istilah state-terrorism atau terorisme negara. Ketika Amerika Serikat menginvasi Irak dalam Perang Teluk I dan II, negeri ini dianggap telah melakukan state-terrorism dan memicu dendam membara anak-anak Irak yang merasa kehilangan keluarga mereka yang dibantai oleh tentara Amerika serikat.

Kekerasan tentara Israel atas warga Palestina yang kini masih berlangsun juga dalam arus demikian ini. Hukum besi sosial berlaku bahwa setiap kekerasan selalu memproduksi kekerasan baru. Konon, sejumlah aksi teror di Indonesia sering kali terilhami oleh kekerasan yang terjadi di Timur Tengah.

Pertanyaannya apakah teror bom bunuh diri di Surabaya dan Sidoarjo merupakan garis koninum dari peristiwa di Timur Tengah? Ini pertanyaan hipotetis yang belum tentu bisa dijawab secara hitam putih.

Kepolisian Negara Republik Indonesia perlu bekerja keras untuk mengorek mengapa satu keluarga bersepakat melakukan bom bunuh diri yang di Indonesia belum pernah ada contohnya. Ini untuk mendeteksi apakah ada keluarga-keluarga lain yang punya pandangan serupa.

Juga untuk mendeteksi apakah ini hanya puncak gunung es. Situasi kehidupan bangsa kita justru saat ini berada pada stabilitas yang makin mantap dan mestinya tak perlu ada keluarga yang putus asa dalam hidup mereka. Mestinya tak ada keluarga yang lebih mencintai kematian, apalagi empat di antara mereka masih anak-anak.

Kita patut bertanya, jika sebuah keluarga lebih mencintai kematian betapa buruknya kehidupan dunia ini menurut mereka? Sejumlah laporan menyebutkan bahwa keluarga pelaku bom bunuh diri di Surabaya tidaklah miskin dan cukup berada. Artinya kehidupan dunia ini buruk sekali bukan karena kemiskinan tapi karena ideologi yang dianut.

Ini membuktikan betapa berbahaya ideologi atau keyakinan yang bersifat tertutup semacam ini. Saya berharap kasus bom bunuh diri oleh satu keluaga beserta anak-anaknya tidak lagi ada pada masa depan. Ini menjadi pelajaran berharga yang membuka mata kita semua.