Mengapa Ada Teror?

Sholeh Amini Yaman (Istimewa)
28 Mei 2018 02:00 WIB Sholeh Amini Yaman Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis (24/5/2018). Esai ini karya Soleh Amini Yahman, psikolog dan dosen di Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta. Alamat e-mail penulis adalah solehamini11@gmail.com.

Solopos.com, SOLO--”Etiologi” munculnya aksi-aksi terorisme di Indonesia bisa dilihat dari berbagai sudut pandang.  Dalam kesempatan ini saya mencoba melihat masalah terorisme ini dari sudut pandang psikologi sosial dan sosiologi kultural. 

Dari sisi psikologis, aksi-aksi terorisme di Indonesia secara umum dipengaruhi oleh dua sebab utama. Pertama, krisis kepercayaankepada sistem kehidupan sosial, politik, dan kultural. Kedua, faktor pelemahan ideologi psikologis (ideo-psikologis) pelaku teror itu sendiri.

Krisis kepercayaan pada sistem kehidupan sosial politik ekonomi, pendidikan, hukum, agama, budaya dan lain-lainnya menyebabkan sebagian orang merasa frustrasi, marah, jengkel, dan bahkan kecewa dengan keadaan.

Kondisi yang demikian ini mengantarkan pada kondisi kehidupan kejiwaan yang labil. Labilitas kehidupan jiwa inilah yang melemahkan pertahanan emosi dan menumpulkan kecerdasan emosi seseorang, sehingga sangat mudah dipengaruhi, diprovokasi, untuk membenci sistem kehidupan sosial kenegaraan dan pemerintahan yang dianggap bertanggung jawab atas kehidupan sosial pada umumnya.

Perilaku kebencian atau social hostility ini dapat mewujud dalam perilaku individual, kelompok, maupun perilaku yang lebih terorganisasi dalam bentuk kelompok yang mengaku atau mengatasnamakan agama, jihad, perjuangan fisabilillah, amar makruf nahi mungkar, dan lain sebagainya.

Pada tataran ini aksi terorisme mungkin saja belum mewujud dalam bentuk kekerasan frontal semacam peledakan bom atau penghancuran penghancuran yang sifatnya masif, tetapi baru sebatas aksi-aksi massa seperti unjuk rasa.

Target sementara gerakan teror semacam ini adalah untuk menimbulkan rasa takut kepada masyarakat sehingga berefek pada tata kehidupan pemerintahan dan kenegaraan yang tidak stabil.

Dalam hal ini pemerintah diposisikan sebagai pihak yang tidak bisa melindungi atau tidak bisa memberikan rasa aman kepada rakyat. Kondisi labil dalam tata kehidupan pemerintahan dan kenegaraan inilah yang sengaja diciptakan oleh penggerak aksi (teror) semacam ini. 

Meski aksi aksi ini belum frontal, tetapi merupakan potensi laten untuk terjadinya letupan teror yang lebih dahsyat berupa gerakan destruktif (penghancuran massal), agresif, dan berkembanganya pola-pola perilaku yang berbasis pada kekerasan atau violence behaviour.

Kebencian adalah awal terjadinya petaka teror dalam kehidupan umat. Terorisme menjadi semakin subur ketika kita tidak mampu menumpulkan rasa benci, baik kebencian individu kepada individu maupun individu dengan kelompok, dan kebencian kelompok dengan kelompok.

Pelemahan Ideo-Psikologis

Aksi-aksi teror dalam bentuk bom bunuh diri lebih disebabkan oleh terjadinya pelemahan ideo-psikologis seseorang. Yaitu penumpulan intelektualitas tersengaja dan terstruktur yang dilakukan  oleh pihak atau person-person tertentu yang mempunyai  otoritas karisma yang kuat kepada seseorang atau sekelompok orang yang secara ideo-psikologis tidak kuat, tidak percaya diri, konsep diri tidak jelas, kecewa atau frustrasi/patah hati, merasa tertindas.

Pelemahan ideo-psikologis melalui penumpulan intelektualitas tersengaja/terstruktur ini berakibat seperti cuci otak atau brain washing pada kehidupan individu atau kelompok sehingga mudah diindoktrinasi dengan nilai-nilai tertentu.

Nilai-nilai tertentu itu misalnya jihad, heroisme, kejuangan, bela negara, bela agama, dan aneka nilai yang seakan-akan berujung pada kepahlawanan, walau semua itu sudah dibelokkan oleh pemberi indoktrinasi.

Pelemahan intelektualitas inilah sumber masuknya kesediaan melakukan bunuh diri pada para pelaku aksi bom bunuh diri. Mungkin saja secara akademis, pelaku bom bunuh diri ini bukanlah orang yang bodoh, bahkan merupakan lulusan terbaik dari sekolah atau lembaga pendidikan tertentu yang bonafide.

Secara intektualitas dan sensitivitas afeksi mereka sangat bodoh. Kecerdasan afeksi berada pada level terendah. Orang-orang yang memiliki kecerdasan afeksi rendah pada umumnya memang sangat mudah disulut untuk melakukan aksi atau tindakaan yang sebenarnya konyol/tolol dan tidak bernilai, tetapi dipersepsikan sebagai tindakan mulia dan berpahala besar.

Pandangan Sosiologi

Secara sosiologis, terorisme merupakan paham yang mengajarkan strategi dengan cara menyebar teror atau melakukan aksi-aksi menyebar rasa takut demi mencapai tujuan tertentu, baik tujuan kelompok maupun tujuan pribadi.

Pelaku aksi dapat mengerjakan aksi teror secara orang per orang untuk pencapaian tujuan pribadi atau dilakukan secara bersama dan terorganisasi untuk mencapai tujuan bersama dalam skala yang lebih besar .

Jadi, apa pun bentuk aksi dan siapa pun pelakunya, selama aksi tersebut menimbulkan ketakutan kolektif yang mencekam kehidupan masyarakat, aksi atau tindakan tersebut dapat dikategorikan sebagai terorisme.

Aksi-aksi teror yang belakangan ini kembali mengguncang ketenteraman hidup masyarakat disebabkan bukan oleh satu faktor tunggal melainkan disebabkan oleh terjadinya interplay multifactor.

Artinya aksi-aksi tersebut bukan hanya disebabkan oleh satu faktor, misalnya fanatisme agama saja, melainkan oleh banyak faktor  dan di antara faktor-faktor penyebab tersebut terkait satu sama lain dan dimainkan secara bersama-sama. 

Dari berbagai faktor tersebut ada empat unsur pokok yang saya lihat menjadi faktor dominan pecahnya aksi terorisme. Pertama, ketidakadilan dan ketimpangan sosial ekonomi yang menyebabkan terbukanya  perasaan terkoyak dan terzalimi.

Kedua, melemahnya konsep dasar intimitas relasi sosial organik yang menyebakan melebarnya ”jarak sosial” dan keruhnya ukhuwah wathaniah maupun ukhuwah sosial antarwarga masyarakat.

Ketiga, masuknya intervensi nilai-nilai baru dari berbagai belahan dunia sehingga mengubah tata nilai sosial kultural dan memorak-porandakan sendi-sendi kehidupan sosial asli masyarakat.

Keempat, tidak berfungsinya lembaga-lembaga sosial kemasyarakatan dalam memberdayakan potensi-potensi  postif yang dipunyai masyarakat. Mengapa semua itu terjadi? Karena para pemangku kepentingan negara ini lebih asyik berpolitik dan bercengkerama dengan kelompoknya sendiri-sendiri sehingga meminggirkan peran serta aktif masyarakat serta abai terhadap urusan bersama.

Akibatnya potensi positf yang semestinya menjadi modal pembangunan berbelok arah menjadi ledakan masif yang merusak tatanan pembangunan itu sendiri.

Harus Dibenahi

Minimal ada empat bagian penting dalam restrukturisasi sosial yang harus diperhatikan dalam penataan kehidupan sosial keindonesiaan kita sehingga gangguan ganguan teror dapat ditekan seminimal mungkin.

Pertama, sistem pengelolaan tata kehidupan sosial politik yang selama ini cenderung berpusat pada kekuasaan diubah menjadi sistem kehidupan sosial ekonomi politik yang berorientasi pada keseimbangan dan keadilan masyarakat.

Kedua, membenahi kualitas hubungan sosial-individual untuk mendekatkan atau membangun proksimitas warga masyarakat. Hal ini sudah banyak dilakukan oleh Pemerintah Kota Solo dengan membangun banyak open space yang dimaksud sebagai media srawung warga.

Area car free day setiap Minggu pagi di Jl. Slamet Riyadi, Solo; fasilitas city walk; Sunday market; kawasan Ngarsopura; pusat kuliner Galabo; mengubah wajah-wajah pasar tradisonal yang kumuh menjadi bersih;  menutup usaha/tempat maksiat; membatasi ruang gerak peredaran minuman keras; pergelaran dan festival budaya; atraksi seni; dan lain-lain adalah ikhtiar yang pas.

Ketiga, menyediakan fasiltas-fasilitas pendidikan formal yang memadai dan merangsang tumbuhnya jiwa-jiwa kreatif produktif, khususnya di kalangan generasi muda.

Keempat, tidak membiarkan benih-benih radikalisme ekstrem sektoral membiak karena sikap acuh tak acuh kita terhadap kehidupan sosial kemasyarakatan di sekitar kita.

Pemerintah, khususnya pemerintah daerah, tidak boleh abai dalam membina kelompok atau organisasi-organisasi keagamaan, organisasi kepemudaan, maupun organisasi-organisasi kemasyarakatan di daerah.

Tak akan Mati

Selama keadilan dan keseimbangan atmosfer sosial di negeri ini belum dirasakan oleh masyarakat, sampai kapanpun terorisme tidak akan pernah hilang.

Obat yang paling manjur dalam mengatasi terorisme ini adalah memberikan keadilan dan keseimbangan yang berkelanjutan dan mempersempit jarak sosial untuk merekatkan dan mendekatkan kembali intimitassosial organik yang mulai merenggang.

Ibarat sebuah kehidupan, terorisme adalah makhluk yang super organis, dia tidak akan pernah mati walau generasi telah berganti. Artinya,  terorisme akan terus bertumbuh, walau mungkin bentuknya tidak lagi berwujut penebaran bom di tempat-tempat ibadah dan tempat-tempat keramaian.

Tidak juga berbentuk perilaku agresif, merusak, dan perilaku kekerasan lainnya. Terorisme akan berhenti jika kesetaraan dalam kehidupan sosial, hukum, pendidikan, ekonomi, kebebasan dalam menjalankan agama dan keyakinan terjamin dan terwujud nyata dalam bingkai kehidupan sosial yang adil.

Sesungguhnya munculnya terorisme di Indonesia tidaklah semata-mata karena sebab ideologi politik atau sentimen agama tetapi karena wujud dari kefrustrasian kolektif menghadapi semrawutnya tatanan kehidupan sosial yang jauh dari martabat hidup yang berkeadilan dan beretika.

Korupsi yang merajalela, penegakan hukum yang belum sempurna, kesempatan kerja yang belum merata, mahalnya biaya pendidikan adalah merupakan sebagian contoh kesemrawutan yang dapat menjadi pemantik menyalanya api terorisme.

Keseimbangan itu harus diwujudkan dan untuk mewujudkan hal tersebut pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Pemerintah harus melibatkan semua sektor kehidupan masyarakat sehingga akan terbentuk in group feeling one Indonesia one country.

Togetherness harus diciptakan sejak usia dini sehingga generasi yang akan datang tinggal meneruskan apa yang sudah didesain oleh generasi masa kini. Negeriku aman negeriku tenteram. Indonesia baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur.