Guru Perintahkan Hapus Video Ancaman Terhadap Jokowi Sebelum Viral

Ilustrasi garis polisi. (polri.go.id)
25 Mei 2018 00:25 WIB Newswire Nasional Share :

Solopos.com, JAKARTA -- Aksi seorang remaja berinisial RJ alias S mengancam Presiden Joko Widodo (Jokowi) ternyata diketahui guru sekolahnya. Sang guru pun telah meminta video ancaman tersebut yang diambil para siswanya agar dihapus.

Hal itu diungkapkan Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Susanto. Menurutnya, saat itu, pihak sekolah meminta video pengancaman terhadap Jokowi yang direkam teman-teman RJ agar dihapus sehingga tak menyebar ke media sosial.

"Sudah [diketahui] menurut yang bersangkutan (guru RJ) video ini harus dihapus, apalagi tidak beretika sehingga disarankan sesegera mungkin dihapus dari ponsel anak-anak itu," kata Susanto di Polda Metro Jaya, Kamis (24/5/2018), dilansir Suara.com.

Video aksi pengancaman Jokowi yang dilakukan RJ, dibuat di lingkungan sekolah yang terletak di kawasan Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Video pengancaman itu direkam rekan-rekan pelaku pada Februari 2018. Saat ini, RJ masih duduk di bangku kelas II SMA.

Susanto menyayangkan video berisi aksi pengancaman Jokowi itu telah viral di medsos. Perihal kasus ini, Susanto mengaku akan berkoordinasi dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) untuk memblokir penyebaran video RJ yang mengancam Jokowi, agar tak lagi bisa diakses.

"Kami akan segera komunikasi dengan kominfo agar video viral bisa ditutup. Agar tidak dikonsumsi publik,” ungkapnya.

Selain itu, Susanto juga meminta agar polisi mengusut pihak yang kali pertama menyebarkan video RJ. "Ya nanti akan kami diskusikan [ke penyidik]," katanya.

Sanksi Sosial

KPAI pun menyarankan agar RJ mendapatkan sanksi meminta maaf kepada publik, bukan sanksi pidana. "Sanksi meminta maaf kepada publik merupakan sanksi yang proporsional," kata Susanto, dilansir Antara.

Susanto mengatakan sanksi meminta maaf kepada publik sebagai hukuman yang tepat lantaran RJ masih di bawah umur. Permohonan maaf kepada publik dinilai Susanto akan berdampak terhadap remaja lain agar tidak mencontoh aksi RJ.

Susanto mengajak masyarakat melihat kasus yang melibatkan RJ secara utuh karena bermotifkan bercanda dengan lima teman sekolahnya. "Yang bersangkutan juga bersedia menyampaikan permohonan maaf dan mengajak remaja lain agar tidak menirukan perbuatannya," tutur Susanto.