Sidney Jones: ISIS Ingin Jadikan Indonesia Medan Perang Akhir Zaman

Ilustrasi - JIBI
23 Mei 2018 21:30 WIB Sholahuddin Al Ayyubi Nasional Share :

Solopos.com, JAKARTA -- Institute for Policy Analysis of Conflict (IPAC) memprediksi kelompok teroris pro-ISIS akan menjadikan Indonesia sebagai tempat Al Malhamah Kubro atau medan peperangan akhir zaman. Indonesia dijadikan medan perang baru oleh para kelompok teroris pimpinan Abu Bakar Al Baghdadi pasca kelompok itu dipukul mundur di Suriah dan Irak.

Direktur IPAC Sidney Jones mengungkapkan alasan kuat Indonesia akan dijadikan sebagai tempat perang para kelompok teroris. Ia menyebut ihwal keberadaan Khatibah Nusantara.

Sidney menyebutkan Khatibah Nusantara memberangkatkan para jihadis Indonesia ke Surah maupun Irak. Namun di sisi lain, dominasi kelompok ISIS di Suriah dan Irak sudah mulai menurun. Di saat para jihadis menggebu untuk mati dalam keadaan jihad, tidak menutup kemungkinan mereka yang tidak diberangkatkan akan menebar teror di Indonesia.

Sidney Jones menyebutkan bahwa Khatibah Nusantara bernama Bahrun Naim yang memiliki keahlian khusus pada bidang IT, sudah meninggal saat perang di Suriah pada November 2017. Meskipun begitu hingga saat ini belum terkonfirmasi jasadnya.

Sementara itu, Khatibah Nusantara penerusnya yakni Bahrumsyah yang memiliki keahlian di bidang diplomasi juga sudah tewas. Bahrumsyah tewas pada April 2018 di dekat Deir az-Zour, Suriah. "Jadi sekarang tidak jelas lagi siapa Khatibah Nusantara karena para tokoh pentingnya sudah tidak ada," tuturnya.

Menurut Sidney, salah satu tokoh penting pada kelompok teroris ISIS yang memungkinkan untuk dijadikan Khatibah Nusantara yang baru adalah Abu Walid. Sampai saat ini Abu Walid masih hidup. Sidney mengungkapkan bahwa Abu Walid memiliki komunikasi yang kuat dengan jaringan teroris ISIS di Marawi, Mindanao, Filipina.

Khatibah Nusantara merupakan sosok atau sel organisasi ISIS yang terpilih untuk menjadi pimpinan di kawasan Asia Tenggara.

Incar Indonesia

Menurut Sidney, gelagat masuknya ISIS ke Asia Tenggara sudah diprediksi sejak lama. Ada tiga wilayah yang mudah diinfiltrasi kelompok ISIS yaitu Malaysia, Indonesia dan Filipina Selatan.

Sidney berpandangan jika teroris ISIS berhasil melumpuhkan Indonesia yang merupakan negara Muslim terbesar di dunia, maka hal itu bisa dijadikan barometer keberhasilan ISIS di kawasan Asia Tenggara. Kemudian ISIS akan semakin mudah menguasai wilayah lain di Asia Tenggara.

"Kehadiran kelompok-kelompok teroris kecil yang ada saat ini di Indonesia juga dapat membantu memperkuat jaringan ISIS di Indonesia," katanya.

Sidney mengungkapkan beberapa kelompok teroris pro-ISIS di antaranya adalah Jamaah Ansharut Daullah (JAD), Khatibul Iman, Al-Hawariyun, Negara Islam Indonesia (NII) pro-ISIS, Mujahidin Indonesia Timur (MIT), dan Mujahidin Indonesia Barat (MIB) serta masih banyak lagi kelompok kecil pro-ISIS lain di Indonesia.

Sampai saat ini, JAD merupakan kelompok teroris yang terbesar di Indonesia dan pola perekrutannya juga sudah jelas. Sementara itu, kelompok teroris Khatibul Iman di bawah pimpinan Abu Husna bekas Jamaah Islamiyah (JI) masih memiliki pengikut di wilayah Solo dan Jambi.

Sementara itu, kelompk teroris Al-Hawariyun yang dipimpin Abu Nusaibah masih menjadi simpul rekrutmen kelompok teroris di Jambi dan aktif melakukan kontak dengan Ustaz Nandang yang kini berada di Suriah. Abu Nusaibah sudah ditangkap pada November 2017. 

Kelompok teroris NII pro-ISIS juga masih ada pengikutnya di wilayah Bandung, Makassar dan Riau. Sedangkan kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT) yang kini dipimpin Ali Kalora juga masih aktif dan bisa hidup lagi untuk menebar teror di Indonesia.

"Inilah kesulitan Densus 88 untuk mendeteksi para kelompok teroris ini, karena banyaknya kelompok-kelompok kecil di Indonesia," ujar Sidney.

Dana Afghanistan

Wakil Direktur Sekolah Kajian Stratejik dan Global dari Universitas Indonesia, Irjen (Purn) Benny Josua Mamoto menjelaskan bahwa para teroris sudah siap menderita dan tidak takut mati. Benny menjelaskan, teroris menganggap semakin berat penderitaan yang dialami akan semakin tinggi derajatnya.

"Jadi kalau sudah menderita sangat berat dan mereka kembali ke kelompoknya setelah bebas maka akan dijadikan pemimpin atau naik tingkat," tuturnya.

Menurut Benny, alasan kelompok teroris pro-ISIS sampai saat ini masih eksis yaitu karena ada sumber dana yang cukup kuat dari kilang minyak ilegal dan merampok sejumlah bank di Suriah dan Irak.

Selain itu menurutnya, ISIS yang sudah bersinergi dengan kelompok teroris Afghanistan bernama Taliban juga memiliki sumber dana yang kuat dari penjualan narkotika. Ia menyebutkan 80% pasokan heroin global berasal dari Afghanistan.

Benny berpandangan kelompok teroris pro-ISIS seperti JAD tidak menutup kemungkinan mendapatkan pasokan dana dari sana untuk terus melakukan amaliyah di Indonesia. Dia berharap agar PPATK mendeteksi seluruh aliran dana dari Timur Tengah, terutama dari Afghanistan yang masuk ke Indonesia. PPATK diminta menelusuri, agar sumber pendanaan ISIS global kepada kelompok kecil pro-ISIS bisa diputus.

"Makanya PPATK juga harus turut memantau uang yang masuk dari negara sana. Ini kan bisa membantu memutus mata rantai dana ISIS yang masuk ke Indonesia," kata Benny.