Letusan Beruntun Merapi Mengarah Erupsi Magmatik? Ini Jawaban BPPTKG

Rekaman seismik Merapi pada pukul 02.03 WIB setelah erupsi susulan pada pukul 01.47 WIB, tinggi kolom asap 3.500 m selama 3 menit. (Twitter - @BPPTKG)
23 Mei 2018 19:40 WIB I Ketut Sawitra Mustika Nasional Share :

Solopos.com, JOGJA -- Rentetan erupsi freatik Gunung Merapi yang terjadi tiga hari terakhir tidak merubah morfologi kawah. Daya ledaknya juga lebih kecil dibanding letusan serupa di 2013. Tapi meski begitu, letusan yang terus terjadi perlu diwaspadai.

"Dibandingkan 2013 relatif lebih kecil erupsinya. Tapi yang perlu diwaspadai letusannya sangat intensif. Ada kemungkinan letusan freatik mengarah ke situ [erupsi magmatik], tapi perlu analisa material bahwa abu yang ditimbulkan ada material baru atau tidak. Sampai sekarang belum ada hasilnya," kata Kepala Seksi Gunung Merapi BPPTKG Agus Budi Santoso, Rabu (23/5/2018).

Agus mengungkapkan bahwa erupsi freatik tidak mempengaruhi erupsi magmatik, namun lebih sebagai tanda-tanda terhadap aktivitas yang akan datang. Karena rentetan erupsi baru terjadi tiga hari terakhir, semua pihak diminta menunggu perkembangan. "Yang penting masyarakat tidak panik."

Seperti diketahui, sejak tanggal 21 Mei 2018, terjadi lima kali letusan freatik di Gunung Merapi. Erupsi terbaru berlangsung pada Rabu (23/5/2018), yaitu pada dini hari pukul 03.31 WIB, disusul letusan pada pukul 13.49 WIB. Letusan pukul 03.31 WIB berdurasi 4 menit dengan ketinggian kolom 2.000 m ke arah barat daya. Sedangkan letusan pukul 13.49 WIB berdurasi 2 menit. Status Merapi tetap Waspada.

Sedangkan soal pergerakan magma Gunung Merapi, imbuh Agus, BPPTKG belum mengetahuinya. Sebabnya, sistem magmatik di permukaan saat ini sangat berbeda dengan kondisi pada 2006 dan 2010 lalu.

"Dulu puncak terlihat runcing. Itu menandakan ada sumbat. Kalau sekarang itu sumbatnya sepertinya jauh lebih tipis, sehingga indikasi yang dulu muncul bisa jadi berbeda dengan erupsi yang akan datang," jelasnya.