Jokowi: Bersihkan TK Sampai Kampus dari Ideologi Terorisme

Presiden Joko Widodo (Jokowi) didampingi Mensesneg Pratikno seusai meninjau Kantor Kementerian Sekretariat Negara, Jakarta, Jumat (23/3 - 2018). (Antara/Puspa Perwitasari)
22 Mei 2018 15:30 WIB Yodie Hardiyan Nasional Share :

Solopos.com, JAKARTA -- Presiden Joko Widodo (Jokowi) meminta pemerintah membersihkan sekolah dari tingkat TK sampai perguruan tinggi dan mimbar umum dari ajaran ideologi terorisme. Hal ini menjadi perhatian pemerintah seiring teror yang melibatkan keluarga di Surabaya.

Pernyataan ini disampaikan oleh Presiden di hadapan para menteri Kabinet Kerja dalam rapat terbatas membahas pencegahan dan penanggulangan terorisme di Kantor Presiden, Jakarta, Selasa (22/5/2018).

Tokopedia

Presiden mengatakan pencegahan dan penanggulangan terorisme selama ini lebih banyak dilakukan dengan pendekatan hard power. Pendekatan hard power yang dimaksud adalah pencegahan aksi teror dengan penegakan hukum yang tegas, keras, dan tanpa kompromi. Misalnya, aparat memburu dan membongkar jaringan teroris sampai ke akar-akarnya.

Pendekatan hard power, ujar Presiden, jelas sangat diperlukan, tapi belum cukup. Dengan demikian, sudah saatnya pemerintah menyeimbangkan pendekatan itu dengan pendekatan soft power.

"Saya minta pendekatan soft power yang kita lakukan bukan hanya dengan memperkuat program deradikalisasi kepada mantan napi teroris, tapi juga membersihkan lembaga-lembaga mulai dari TK, SD, SMP, SMA, SMK, dan perguruan tinggi, dan ruang-ruang publik, mimbar-mimbar umum, dari ajaran ideologi terorisme," kata Presiden dalam rapat terbatas resmi pertama setelah serangkaian aksi teror yang melanda berbagai kota di Indonesia sepanjang Mei 2018.

Presiden mengatakan langkah preventif atau langkah pencegahan ini menjadi penting apabila kita melihat serangan teror bom bunuh diri di Surabaya dan Sidoarjo yang melibatkan keluarga termasuk anak-anak di bawah umur dan perempuan. Presiden mengatakan serangan yang melibatkan keluarga itu menjadi peringatan dan wake-up call bahwa keluarga telah menjadi sasaran indoktrinasi ideologi terorisme.

"Sekali lagi saya ingatkan ideologi terorisme telah masuk kepada keluarga kita, ke sekolah-sekolah kita, untuk itu saya minta pendekatan hard power dan soft power dipadukan, diseimbangkan dan saling menguatkan sehingga aksi pencegahan dan penanggulangan terorisme bisa jauh lebih efektif lagi," katanya.