Mulut Bercerita

Setyaningsih (Istimewa)
18 Mei 2018 05:00 WIB Setyaningsih (aktivis) Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (7/5/2018). Esai ini karya Setyaningsih, penghayat pustaka anak yang mengajar ekstrakurikuler menulis di SD Al-Islam 2, Jamsaren, Kota Solo serta kontrobutor buku cerita anak Kacamata Onde (2018). Alamat e-mail penulis adalah langit_abjad@yahoo.com.

Solopos.com, SOLO--Saya tidak menyaksikan ketika Wali Kota Solo F.X. Hadi Rudyatmo membacakan buku cerita tentang Kota Solo berjudul Bocah Solo Tekun Maca Aksara (Bolo Kuncara) di Taman Satwa Taru Jurug  (TSTJ) pada 5 Mei 2018.

Tokopedia

Kita bayangkan Wali Kota sejenak menjadi jenaka. Anak-anak mungkin bertambah semangat mencintai buku cerita karena Wali Kota pun menunjukkan cinta kepada buku.

Inilah cara Kota Solo berpartisipasi dalam peluncuran Gerakan Nasional Orang Tua Membacakan Cerita (Solopos, 6 Mei 2018). Kehadiran Wali Kota memang penting, tapi jauh lebih penting menyaksikan kelumrahan ibu dan bapak atau orang membacakan buku kepada anak atau membantu anak memilih buku cerita di mobil perpustakaan keliling.

Bagi Indonesia, berpusat di Jakarta, 5 Mei 2018 menjadi waktu penting bagi kelahiran program literer bagi kemaslahatan orang tua dan anak: Gerakan Nasional Orang Tua Membacakan Cerita. Oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Gerakan Nasional Orang Tua Membacakan Cerita didaulat untuk meningkatkan peran keluarga meningkatkan minat baca anak (Solopos, 30 April 2018).

Peluncuran gerakan ini melibatkan orang tua, satuan pendidikan anak usia dini, pendidik anak usia dini, pusat kegiatan belajar masyarakat, taman bacaan masyarakat, dan komunitas literasi.

Gerakan Nasional Orang Tua Membacakan Cerita adalah momentum akbar pemerintah di tengah mulut-mulut manusia tidak lagi secara naluriah ceriwis cerita. Peristiwa anak membaca atau dibacakan buku masih perlu dikemas dalam perintah.

Suara televisi dominan mengasuh dan gawai memalaskan orang tua bercerita kepada anak-anak. Pemerintah tentu menganggap program seperti ini semacam optimisme mengingat prestasi membaca anak-anak Indonesia selalu ditempatkan di tingkat paling memprihatinkan.     

Jim Trelease, seorang bapak yang berkiprah di dunia anak, literasi, dan multimedia selama 30 tahun, lewat buku The Read-Aloud Handbook (2017) edisi ke-7, menyusun cerita-cerita emosional atas peristiwa membaca, dibacakan, dan pengenalan buku di kalangan keluarga di Amerika Serikat.

Biografi membaca dan dibacakan buku di kalangan anak-anak di Amerika Serikat juga melewati konflik untuk sampai pada optimisme gairah berbuku yang cukup mapan. Anak-anak Indonesia dan Amerika Serikat, terlepas dari cap negara maju atau berkembang, mengalami masalah sama tentang ketidakbiasaan membaca: keberadaan televisi dan tren hiburan digital.

Jelas, bukan masalah anak-anak memiliki keluarga berpendidikan tinggi atau rendah yang menjadi pokok urusan. Seorang ibu biasa membuat anak menjadi pembaca (tanpa paksaan dan hukuman) dengan mengurangi jatah menonton televisi.

Kebiasaan sanggup memperbaiki cara anak menerima pengajaran di sekolah. Pemerintah Amerika Serikat punya daftar buku untuk dibacakan dan dibaca. Pemangku kepentingan urusan pendidikan memang sungguh-sungguh membentuk warga negara itu menjadi pembaca buku.

Kita harus sadar bahwa kebiasaan dibacakan atau membaca buku tidak tercipta kilat dalam hitungan menit. Orang tua dan anak harus berbarengan dan membutuhkan waktu panjang bertumbuh bersama buku.

Beberapa penerbitan buku anak di Indonesia memberikan impresi bahwa kesadaran orang tua sangat penting untuk menemani anak dan membacakan buku bagi anak. Hal ini tampak dari petunjuk khusus di halaman-halaman awal buku atau keterangan di sampul buku.

Salah satunya kita dapati di buku cerita Istana dalam Perut Ikan garapan Laila Hilaliyah dengan ilustrasi digarap oleh Pidi (Mizan, 2000). Sebelum masuk ke cerita, ada halaman “Petujuk bagi Orang Tua”. Penerbit memberikan petunjuk dan saran agar orang tua mendongengkan cerita di dalam buku pada waktu senggang atau sebelum tidur.

Selain waktu, saran mewujud dalam ekspresi tubuh serta suara sesuai alur, tokoh, suasana. Seperti kencenderungan moral dalam cerita anak, penerbit menyarankan agar ada penerapan hikmah cerita di kehidupan sehari-hari.

Gambar-gambar di buku memang dibuat hitam putih. Anak bisa mewarnai dengan warna-warna yang menarik perhatian mereka. Sebuah buku menyimpan ambisi menumbuhkan risalah berpikir, bergerak, berempati sosial, bermoral, dan berimajinasi.

Bacaan Bersama

Sejak era 1950-an, Indonesia memiliki majalah keluarga sebagai upaya membangun aktivitas membaca bersama sebelum keseharian dikungkung gawai. Ada majalah Keluarga (majalah bulanan untuk ibu, bapak, dan anak) yang digarap oleh Herawati Diah, perempuan Indonesia pertama lulusan universitas di Amerika serikat.

Ada Majalah Zaman (mingguan untuk seluruh keluarga) yang dikelola tim redaksi yang dipimpin Goenawan Mohammad dan terbit pada akhir 1970-an. MAda majalah anak seperti Si Kuncung, Kawanku, Mentari, Bobo.

Majalah khusus perempuan Femina punya sisipan lembaran anak bernama Bimba. Majalah-majalah itu memungkinkan persekutuan literasi antara ibu, anak, dan bapak. Sekarang, keluarga Indonesia memiliki masalah sama sekaligus belum juga selesai.

Keluarga Indonesia, terutama setelah gaya hidup digital begitu berpengaruh, enggan lagi menjadikan yang tercetak sebagai sumber membacakan cerita dan makin sulit berbuku demi anak. Berbuku tidak lagi semacam warisan atau perpanjangan dari tradisi (cerita) lisan.

Gawai dengan teknologi suara dan teknologi mengemas buku elektronik lebih layak didakwa sebagai pengasuh pengganti. Mulut orang tua tidak sadar dibisukan sebagai pencerita pertama bagi anak. Gerakan Nasional Orang Tua Membacakan Cerita hanya akan menjadi sama dengan gerakan-gerakan kebanyakan yang bubar meski tidak ada pesta pembubaran, tanpa ekspresi keinginan rutin menemani anak berbuku.

Pembiasaan berbuku, ada atau tanpa gerakan ini, jauh lebih penting untuk menentukan masa depan anak atas peristiwa membaca. Orang tua bisa memulainya dari hal-hal kecil, seperti mengajak piknik ke toko buku, membelikan buku bacaan sebagai hadiah, berburu buku di pasar buku, atau pelesiran ke perpustakaan.

Peristiwa ini memang sepele. Kita menantikan lebih banyak orang tua bergerak demi anak dan buku tanpa harus menenteng spanduk Gerakan Nasional Orang Tua Membacakan Cerita. Kita percaya mulut orang tua masih bercerita.