Serikat Pegawai PLN Akui Ada Karyawan Diduga Danai Teroris

Polisi memeriksa mobil Toyota Avanza putih yang digunakan pelaku teror terhadap Mapolda Riau, Pekanbaru, Riau, Rabu (16/5 - 2018). (Antara / Rony Muharrman)
18 Mei 2018 18:20 WIB Samdysara Saragih Nasional Share :

Solopos.com, JAKARTA -- Serikat Pegawai PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) Persero mengakui ada seorang pegawai BUMN tersebut yang ditangkap karena diduga menjadi penyandang dana jaringan teroris. SP PLN mengatakan bahwa tidak mudah mengawasi anggota dari paparan ideologi kelompok radikal dan teror.

Buntut aksi terorisme di Rumah Tahanan Mako Brimob dan Surabaya, aparat keamanan berhasil menangkap dua orang terduga teroris di Sumatra Selatan, Senin (14/5/2018). Dalam pemeriksaan terungkap bahwa seorang pegawai PLN asal Kota Pekanbaru, Riau, bermarga Daulay menjadi penyandang dana jaringan teroris.

Ketua Umum Serikat Pegawai PLN Yan Herimen membenarkan bahwa Daulay merupakan pegawai perusahaan pelat merah tersebut. Menurutnya, informasi itu telah diketahui oleh jajaran direksi PLN dan karyawan lain.

“Kemarin malam kami silaturahmi sama Dirut PLN di Hotel Fairmont. Di sana juga dibicarakan Bung Daulay itu,” katanya ketika dikonfirmasi Bisnis/JIBI, Jumat (18/5/2018).

Yan memastikan ideologi teror anggotanya itu bukan didapat dari aktivitas kerja di PLN. Meski demikian, dia mengakui bahwa Serikat Pegawai PLN tidak dapat menjangkau gerak-gerik anggota selama 24 jam.

“Kalau aktivitas di luar jam dinas tentu agak sulit pengawasannya,” kata Yan.

Sebelumnya, Kepala Polda Sumsel Irjen Pol. Zulkarnain Adinegara mengatakan dua terduga teroris berinisial AA dan HK berhasil dibekuk aparat di Kota Palembang. Mereka tercatat sebagai warga Kota Pekanbaru dan menjadi anggota Jamaah Ansharut Daulah (JAD).

Dalam pemeriksaan polisi terungkap bahwa penyandang dana jaringan dua terduga teroris itu adalah karyawan PLN berinisial D alias Daulay alias Opung.