Salat Tarawih di Masjid Agung Solo dengan Dua Imam

Salat tarawih di Masjid Agung Solo. (Solopos/dok)
18 Mei 2018 06:00 WIB Indah Septiyaning Wardhani Solo Share :

Solopos.com, SOLO — Ratusan umat muslim mengikuti Salat Tarawih pertama Ramadan 1439 Hijriah di Masjid Agung Solo, Rabu (16/5/2018). Jemaah majelis delapan rakaat dan tiga witir, dengan majelis 20 rakaat dan tiga witir disatukan Salat Tarawih dalam semalam dengan dua imam.

Ketua Takmir Masjid Agung Solo, Muhammad Muhtarom, mengatakan sama seperti tahun lalu, Masjid Agung hanya menggelar salat tarawih berjemaah sekali dalam semalam. Hal itu berbeda dari sebelum-sebelumnya yang menggelar dua kali salat tarawih.

Masing-masing dibedakan atas jumlah rakaat dalam salat tarawih, yakni jemaah pertama yang mengerjakan 8 rakaat tarawih ditambah 3 rakaat witir, dan jemaah lainnya mengerjakan 20 rakaat tarawih plus 3 rakaat witir.

“Tahun ini kita sama seperti tahun lalu. Tidak dua salat tarawih, tapi satu kali salat tarawih semalam,” katanya ketika berbincang dengan Solopos.com, Rabu.

Secara teknis, jemaah bersama-sama mengerjakan salat tarawih berjemaah 8 rakaat plus witir 3 rakaat. Bagi yang ingin mengerjakan 20 rakaat, berhenti saat witir dan melanjutkan kembali mengerjakan sisanya.

Muhtarom mengatakan untuk imam jemaah salat tarawih Masjid Agung, pihak pengelola masjid menyiapkan dua imam untuk memimpin salat tarawih itu. Mereka semua adalah para hafiz atau penghafal Al Quran. Imam pertama akan bertugas memimpin salat tarawih 8 rakaat dan tiga witir.

Setelah itu, imam yang kedua bertugas untuk memimpin salat tarawih hingga hitungan 20 rakaat plus tiga witir. Meskipun disatukan dalam satu majelis, namun sikap saling toleran dan saling menghargai dalam kerangka keharmonisan salat tarawih berjemaah tersebut tetap terjaga.

"Konsep dari Masjid Agung adalah ngemong semua perbedaan yang ada. Jadi untuk menjaga keharmonisan jemaah, pihak Masjid Agung mengakomodasi semua perbedaan itu untuk menjadi satu,” katanya.

Konsep salat tarawih yang dilakukan pada Ramadan tahun ini, diakui oleh para pengurus masjid merupakan sebuah konsep yang tepat untuk menggantikan keberadaan dua jemaah salat tarawih dalam satu atap yang dipisahkan oleh pembatas tembok.

Seperti diketahui bahwa konsep salat tarawih tersebut mulai diberlakukan di Masjid Agung sekitar tahun 1989. Dulunya tarawih di Masjid Agung itu 23 rakaat. Namun untuk mengakomodir semua perbedaan, pada tahun 1989 mulai diberlakukan dua jemaah salat tarawih yang dilakukan di dua ruangan yang masih dalam satu atap.