Marak Berita Teror, Wakapolri Soroti Broadcast di Media Sosial

Polisi memeriksa mobil Toyota Avanza putih yang digunakan pelaku teror terhadap Mapolda Riau, Pekanbaru, Riau, Rabu (16/5 - 2018). (Antara / Rony Muharrman)
16 Mei 2018 21:39 WIB Arif Gunawan Nasional Share :

Solopos.com, PEKANBARU -- Polri khawatir dengan dampak informasi yang beredar di media sosial, dapat membuat masyarakat panik karena informasinta tidak valid. Kabar-kabar yang beredar melalui broadcast ini sering membuat panik masyarakat.

Wakapolri Komjen M. Syafruddin mengatakan pihaknya mengapresiasi media mainstream seperti media cetak dan online yang sudah memberitakan peristiwa secara utuh. Namun dia khawatir dengan perkembangan informasi di media online.

Ramadan Ekstra - Promo Belanja Kebutuhan Lebaran 2018 - Tokopedia

"Memprihatinkan itu media di luar mainstream seperti media broadcast dan media sosial yang pemimpin redaksinya satu tapi medianya banyak," katanya saat konferensi pers di Pekanbaru, Rabu (16/5/2018).

Hal yang dikhawatirkan pihaknya lewat media sosial itu seperti informasi yang sudah puluhan tahun, tiga tahun lalu, atau ada peristiwa di Filipina Selatan, Thailand Selatan, Rohingya, Suriah, tetapi ditulis seolah kejadiannya di Indonesia. Di-broadcast dan dipenggal sedemikian rupa sehingga informasi itu membuat panik masyarakat.

Syafruddin menyebut kalau informasi itu ditulis utuh dari A sampai Z, tentu saja masalah seperti itu tidak akan muncul dan masyarakat akan tenang. Karena itu pihaknya berharap TNI, Polri dan media mainstream cetak dan online dapat bekerja sama dengan baik.