Pesatnya Perkembangan Kelompok yang Keras di Surabaya

Personel penjinak bom (Jibom) bersiap melakukan identifikasi di lokasi ledakan Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela di Ngagel Madya, Surabaya, Jawa Timur, Minggu (13/5 - 2018). (Antara / M Risyal Hidayat)
16 Mei 2018 05:00 WIB Miftahul Ulum Nasional Share :

Solopos.com, SURABAYA — Adanya aksi terorisme di Surabaya mengagetkan warga, pasalnya wilayah ini dikenal dengan daerah yang aman dengan ciri khas masyarakat terbuka dan egaliter.

"1998 saja enggak ada rusuh apa-apa di sini," kata Syaharuddin, karyawan perusahaan swasta yang tinggal di Surabaya Barat, Selasa (15/5/2018).

Sosiolog Tuti Budirahayu mengungkapkan pernyataan senada. Apa benar orang Surabaya bisa menjadi seperti itu, kejam menjadi teroris? Kok bisa warga Kota Pahlawan yang dikenal egaliter seperti itu?

Fenomena sosial sepertinya bisa memberi simpul petunjuk. Tuti yang mendalami sosiologi perilaku sosial mendapati fenomena berkembang pesatnya kelompok keagamaan di kota ini.

"Cukup banyak kelompok ini. Ada ustaz yang keras. Kita tidak mencurigai [ini pemicunya] dan bisa meredam. Tapi yang keras ada dan banyak," kata dosen Universitas Airlangga dengan spesialisasi topik penyimpangan sosial, Selasa (15/5/2018).

Keras dalam konteks ini seperti tidak mengakui dan membenarkan soal pluralisme. Mereka mempertanyakan wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan secara perlahan tak mengakuinya.

Tuti mendapati pertemuan sejenis ada yang berskala kota dan lingkungan. Skala RT, RW juga ada, temasuk yang lebih intensif sebagai komunitas. Muaranya doktrinasi paham yang bertentangan dengan falsafah negara.

"Ke depan perlu ada penguatan pemahaman kebangsaan, melalui masyarakat, negara, melalui sekolah, pemerintah untuk terus melawan indoktrinasi," paparnya.