Mencegah Regenerasi Radikal Ekstrem

M. Zainal Anwar (Istimewa)
15 Mei 2018 07:15 WIB M. Zainal Anwar (IAIN Surakarta) Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (12/5/2018). Esai ini karya M. Zainal Anwar, Direktur Pusat Kajian dan Pengembangan Pesantren Nusantara Institut Agama Islam Negeri Surakarta.

Solopos.com, SOLO--Akhir-akhir ini kita seperti diingatkan kembali bahaya terorisme dan radikalisme ekstrem. Beberapa waktu lalu Badan Intelijen Negara (BIN) menjelaskan mahasiswa di kampus dan pelajar tingkat SMA menjadi sasaran empuk jaringan teroris dan penyebaran paham radikal ekstrem.

Ramadan Ekstra - Promo Belanja Kebutuhan Lebaran 2018 - Tokopedia

Merujuk data BIN, ada tiga perguruan tinggi yang sedang dalam pengawasan ketat terkait gerakan radikal ekstrem. Tidak lama setelah pernyataan tersebut, kita disuguhi drama penyanderaan yang dilakukan narapidana kasus terorisme di Markas Komando Brigade Mobil di Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat.

Aksi kekerasan itu mengakibatkan lima orang polisi meninggal dunia. Kedua peristiwa tersebut menjadi tanda bahwa radikalisme ekstrem dan terorisme belum redup dan terus menebar ancaman.

Yang pasti, kita tidak bisa menganggap peristiwa ini sebagai suatu kejadian yang remeh dan biasa saja. Ini jelas ancaman nyata yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Pernyataan BIN bahwa sasaran gerakan radikal ekstrem dan jaringan teroris mengarah kaum muda, mahasiswa dan pelajar tingkat SMA, tentu membutuhkan perhatian bersama.

Jika mereka terpapar virus radikalisme ekstrem dan memiliki benih-benih kebencian kepada alat negara dan simbol-simbol negara maka masa depan Negara Kesatuan Republik Indonesia dalam bahaya.

Sebagai agen pendidikan yang seharusnya berperan mencerahkan masyarakat, mereka justru berpotensi menjadi perusak tatanan bangsa dan negara.

Hal lain yang patut diwaspadai adalah potret generasi radikal ekstrem dan teroris pada masa mendatang akan datang dari kaum terdidik yang mendapat akses pendidikan tinggi dan kemampuan finansial yang memadai.

Jika selama ini banyak pihak meyakini salah satu penyebab kemunculan gerakan teroris selain faktor agama adalah persoalan ekonomi dan atau kemiskinan maka bisa jadi tesis itu perlahan-lahan mulai runtuh ketika aktor terorisme justru datang dari kelompok mahasiswa.

Kita tentu ingat kasus Bahrun Naim yang berasal dari salah satu kampus ternama di Indonesia. Kasus lain adalah rencana pemboman Istana Negara yang dikenal dengan kasus bom panci yang melibatkan mahasiswa perguruan tinggi Islam negeri.

Terbentuknya sel kaum muda terdidik di perguruan tinggi jelas akan membawa dampak terutama ketika mereka kembali ke kampung halaman. Menjadi lebih runyam ketika mereka diterima bekerja dan menebarkan virus radikalisme ekstrem di tempat kerja tersebut.

Pertanyaannya, bagaimana kita menghadapi masifnya terorisme dan radikalisme ekstrem yang terus menjadikan kaummuda muslim sebagai target terutama di lingkungan perguruan tinggi maupun sekolah? Kita tentu tidak bisa berdiam diri melihat hal yang demikian.

Sudah banyak pihak mengingatkan pentingnya langkah konkret untuk mencegah berlanjutnya regenerasi penganut terorisme dan radikalisme ekstrem tersebut. Minimal kita perlu membangun benteng yang kukuh agar lingkungan kita tidak terpapar paham radikal ekstrem dan terorisme.

Santun dan Toleran

Ketika saya membuat status terkait kasus penyanderaan dan pembunuhan di Markas Komando Brigade Mobil, muncul pertanyaan dari salah seorang teman: apa yang perlu kita lakukan?  Saya mengajukan dua jawaban.

Pertama, karena kaum muda terus menjadi sasaran gerakan radikal ekstrem maka diperlukan program nyata yang menyasar kaum muda tersebut, terutama kalangan mahasiswa dan pelajar tingkat SMA.

Kita tidak bisa terus-menerus hanya mengecam di dunia online tetapi harus bergerak ke dunia offline. Peluncuran program literasi Islam santun dan toleran yang beberapa waktu dilakukan di kampus Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Surakarta adalah salah satu aksi nyata tersebut. 

Program literasi semacam ini diperlukan karena kaum muda biasanya labil dan gampang dipengaruhi untuk berbuat sesuatu. Jika mereka tidak mendapat pengaruh yang positif, energi kaum muda yang melimpah tentu akan disalurkan untuk berbuat negatif.

Mereka perlu mendapat sentuhan dan pengetahun tentang ajaran-ajaran agama yang santun dan toleran sehingga daya kekuatan mereka bisa dipakai untuk melawan gerakan radikal ekstrem dan teroris yang sering kali diawali dengan menebarkan ujaran-ujaran kebencian. 

Sebagai wilayah yang pernah dipetakan oleh Badan Nasional Penanggulangan Terorisme  (BNPT) pada 2017 sebagai basis gerakan radikal ekstrem, kaum muda di Soloraya perlu mendapat perhatian khusus.

Dalam situasi tersebut, perguruan tinggi sebagai salah satu tempat yang ditengarai menjadi tempat bersemainya benih-benih gerakan radikal ekstrem harus bergerak cepat membentengi mahasiswa dari virus radikalisme ekstrem dan terorisme. 

Kampus dan Sekolah

Kedua, karena kaum muda adalah calon pemimpin bangsa dan wajah masa depan kita, perlu disusun langkah taktis agar kaum muda tersebut memiliki seperangkat pengetahuan dan kemampuan memadai untuk menjadi calon pemimpin yang santun dan toleran.

Berbagai pihak tentu harus mengambil peran sesuai porsi masing-masing. Perguruan tinggi maupun sekolah wajib memiliki visi kebangsaan dan jika dalam lingkup perguruan tinggi Islam harus menebalkan visi Islam moderat.

Hal ini harus tercermin pada sikap para pengajar dan materi-materi kuliah atau pelajaran yang disampaikan kepada mahasiswa atau pelajar. Kampus dan sekolahan harus lebih sering mendorong mahasiswa dan pelajar untuk terlibat dalam kegiatan kemasyarakatan.

Kaum muda generasi milenial dipengaruhi teknologi digital dan menghabiskan sebagian besar waktu untuk dunia media sosial maka memperbanyak pertemuan dengan masyarakat diharapkan bisa mendorong kaum muda tersebut mengenali lingkungan mereka. 

Momentum penerimaan mahasiswa baru di kampus maupun pelajar baru di sekolahan dalam beberapa bulan mendatang wajib menjadi tahapan awal untuk menjadikan mereka sebagai kader bangsa yang santun dan toleran.

Kampus dan sekolahan harus menjadikan mereka sebagai benih yang ditanam keluarga kaum muda tersebut dan harus memupuknya dengan materi-materi kebangsaan dan keberagamaan yang santun dan toleran.

Jika tidak, gerakan radikal ekstrem dan terorisme akan selalu mengintai dan menunggu saat yang tepat untuk menanamkan paham dan ajaran radikal ekstrem. Kita tentu tidak mau hal tersebut terjadi. Saatnya kita secara bersama-sama mencegah berlanjutnya regenerasi gerakan radikal ekstrem.